Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
63. Pertolongan


__ADS_3

Sofia melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang masih lengang. Ia sudah bertekad untuk menuntaskan kemarahannya pada Audrey, oleh sebab itu pagi-pagi sekali ia sudah berangkat. Tak sedikit pun ia mengindahkan nasihat keluarganya.


Pengecut! Hanya dengan seorang gadis kecil saja kalian sudah takut. Senyuman meremehkan tercetak jelas diwajahnya. Jika ingin menyalahkan, salahkanlah orang tuanya yang telah terbiasa memenuhi segala permintaannya hingga ia menjadi seperti sekarang.


Ia menuju pinggiran kota, daerah tepi laut menemui orang-orang yang akan disewa untuk menyakiti Audrey. Saat melintasi jalanan yang sepi tiba-tiba mobilnya berhenti. Ia mencoba menghidupkan lagi namun sia-sia. Bahkan setelah beberapa kali mencoba, asap putih mulai keluar dari kap mobil. Sofia panik, ia segera keluar dari mobil dan membuka kap depan.


"Uhuk...Uhuk....Uhukkkk...." Sofia menyingkir untuk mencari udara segar. "Sialan! Kenapa harus mogok di waktu yang tidak tepat?!"


Ia menoleh ke kanan kiri, daerah itu jauh dari pemukiman. Sebelah Kanan dan Kiri jalan terdapat banyak sekali pohon kelapa, dan terdengar suara deburan ombak di kejauhan.


Hhhhh....


Sofia mendengkus, ia bergegas kembali untuk mencari ponselnya. Namun belum sempat ia membuka pintu, terdengar deru mobil mendekat. Sofia tersenyum senang, ia merasa akan ada bantuan yang datang. Tak lama kemudian terlihat mobil Ford dengan bak terbuka menghentikan lajunya. Empat orang pemuda turun dengan seringai yang menakutkan.


Sofia menciut setelah melihat ekspresi orang yang datang. Berulang kali ia meneguk salivanya, mencoba menyembunyikan kegugupannya.


"Mogok ya." tanya seorang pemuda menghampiri Sofia. Sedang rekan yang lain menuju sebelah kanan mobilnya untuk melihat-lihat. Sofia mengedarkan pandangannya mengamati orang-orang asing itu.


"Iy-iya." jawabnya sambil melihat pemuda lain yang telah berada di belakangnya setelah mengitari mobil.


"Kenapa takut begitu. Kami ini orang baik-baik lho." seorang pemuda berbicara sambil mendekati tengkuk Sofia, kemudian meniupnya pelan. Sofia semakin takut, ia segera berbalik dan bersandar di mobil.


Pemuda yang pertama kali berbicara dengannya terlihat mengamati mesin mobil Sofia.


"Aku bisa memperbaiki ini." ujarnya sambil menatap Sofia seakan gadis itu adalah makanan lezat.


"Benarkah?" Sofia senang. "Aku akan memberi imbalan yang setimpal. Aku akan memberi kalian uang."


Keempat pemuda itu saling bertukar pandangan. "Tapi kami tidak butuh uang." pemuda yang tadi meniup tengkuk Sofia menyeringai, ia semakin mendekat pada Sofia.


Gadis itu semakin ketakutan, jantungnya berdegub kencang, peluhnya mulai mengalir. Terlebih saat kedua pemuda langsung memegang tangan dan menariknya untuk masuk lebih dalam ke kebun kelapa yang menuju tepi laut.


"Sudah lama aku ingin bermain di atas pasir. Hahahahha." ucap seorang pemuda yang berjalan dibelakang mereka dan disambut gelak tawa rekan-rekannya.


Namun belum jauh mereka melangkah menuju pantai, sebuah mobil berhenti dan diparkir tepat di belakang mobil Ford mereka. Sontak kelima orang itu menoleh ke jalan karena tak ada tanaman perdu di bawah pohon-pohon kelapa itu, jadi tak ada yang menghalangi penglihatan mereka.


Si pengemudi tak segera turun, kaca yang gelap membuat Sofia dan para pemuda tak bisa menebak siapa yang ada di dalam mobil. Karena tak ada pergerakan, pemuda-pemuda itu lantas kembali menyeret Sofia.


"Tolong!Tolong!" Sofia berteriak sekuat tenaga merasa ada harapan setelah melihat kedatangan mobil tadi.


Plakkk!!!


Sebuah tamparan mendarat di pipinya, membuat sudut bibir gadis itu mulai mengeluarkan darah. Sofia meringis dan mulai menangis karena kesakitan.


"Berhenti!" suara merdu terdengar di telinga pemuda-pemuda itu. Mereka kompak berbalik, ternyata pengemudi mobil tadi sudah turun. Dua orang gadis bertubuh ramping berdiri di tepi jalan aspal. Wajahnya tidak terlihat karena mereka menggunakan masker medis.


Keempat pemuda itu tertegun melihat gadis-gadis misterius itu. Susah payah mereka menelan saliva melihat penampilan keduanya. Keduanya kompak mengenakan kaos oversize berwarna putih hanya beda motif, yang satu bermotif abstrak dan yang lain bergambar mickey mouse. Untuk bawahan, keduanya memakai celana jeans pendek 15 cm di atas lutut berwarna biru yang memamerkan kaki jenjang mereka dipadukan dengan sepatu converse berwarna senada dengan celana. Penampilan dua gadis tadi lebih menggoda dibanding mangsa yang sudah ada di tangan mereka.

__ADS_1


"Ingin bergabung dengan kami?" seorang pemuda maju dengan senyuman menggoda. Sedangkan Sofia menatap dengan mata yang memicing karena merasa familiar dengan suara teguran tadi.


Hattcchuuuuu!!!


Tiba-tiba seorang dari gadis dengan kaos motif abstrak bersin. "Maaf, aku tak bisa melayani kalian. Sedang flu." ucapnya santai.


"Aku yang akan melayani kalian." gadis yang lainnya mulai melangkah menuju rombongan aneh di depannya.


Namun saat rekannya berjalan, gadis yang sedang flu menyusulnya. Langkah mereka sangat cepat, seakan mengambil ancang-ancang. Keempat pemuda hanya berdiri dengan senyum bahagia yang terlihat jelas. Sudah pasti dipikiran mereka hari ini adalah hari keberuntungan karena mendapat tiga gadis sekaligus.


Namun senyum mereka seketika menghilang saat kedua gadis tadi menyarangkan tendangan di kepala dua orang pemuda yang tak memegangi Sofia. Keduanya lantas jatuh ke tanah karena mendapat serangan yang tiba-tiba. Melihat itu, dua orang lain yang sedang memegangi Sofia lantas melepas gadis itu dan maju untuk balas menyerang.


Detik berikutnya terjadi perkelahian 4 pemuda melawan 2 gadis. Perkelahian sengit terjadi, si gadis mickey mouse menyarangkan tendangan kaki kanannya tepat di ulu hati seorang pemuda. Disaat yang sama tangan kanannya berhasil memberi hadiah bogem mentah pada wajah pemuda yang lain.


Gadis yang sedang flu menggunakan seorang pemuda sebagai tameng dalam perkelahian tangan kosong itu. Membuat kedua pemuda yang mengeroyoknya terkadang saling memukul. Kemudian dengan sekuat tenaga ia menarik rambut seorang pemuda dan mendorongnya ke arah rekannya yang sedang mengambil ancang-ancang untuk menendang. Tak ayal tendangannya melukai temannya sendiri hingga membuat pemuda itu jatuh sambil memegangi perutnya.


Sejurus kemudian terdengar erangan kesakitan, keempat pemuda tadi terkapar di tanah memegangi bagian tubuh masing-masing yang terasa sakit. Tinggallah kedua gadis yang berdiri dengan nafas terengah-engah. Merasa tak terima dikalahkan seorang gadis, salah satu dari keempat pemuda itu bangkit dan mengeluarkan sebilah pisau lipat. Ia menyeringai sambil memainkan pisaunya.


Perlahan ia berjalan mendekati kedua lawannya sambil sesekali menghunuskan pisau untuk menakuti gadis-gadis itu.


"Pisau yang bagus, tapi aku sedang tidak ingin berlama-lama melayanimu." sambil berkata demikian si gadis mickey mouse mengeluarkan sebuah pistol Baretta M9 dari balik bajunya.


Dorr!!!


Tanpa peringatan ia menembak bahu kanan pemuda itu, membuat pemuda tadi menjatuhkan pisaunya dan berteriak memegangi pundak kanannya yang mulai mengeluarkan darah.


Kedua gadis berbaju putih tadi berbalik hendak mencari korban percobaan tindak asusila. Mereka tersenyum di balik maskernya melihat gadis tadi bersembunyi di balik sebuah pohon kelapa tak jauh dari mereka. Perlahan gadis itu keluar dan berjalan mendekati mereka berdua dengan senyuman lega.


"Apakah kau baik-baik saja Nona Marthen?" tanya si gadis mickey mouse sambil menyimpan kembali pistolnya.


Sofia terkejut, langkahnya terhenti karena ternyata penolongnya mengetahui namanya. Ia hanya mengangguk dan menatap penasaran. Terlihat gadis itu membuka maskernya.


"Maaf kami menggunakan masker, aku tak ingin tertular flu dari kakak iparku." ucapnya sambil menunjuk gadis yang berdiri di sebelahnya.


Sofia mematung melihat wajah dibalik masker medis berwarna biru muda itu. "Ka-ka-kau.." dengan terbata ia mencoba berkata-kata.


"Ya?" gadis itu mengernyit melihat reaksi yang ditunjukkan Sofia.


"Au-Audrey."


"Ya?" alisnya sudah menyatu, ia heran dengan sikap Sofia yang seperti melihat hantu.


"Kau baik-baik saja Nona Marthen?" gadis yang bisa dipastikan adalah Yura itu ikut bertanya. Sofia diam, sedikitpun ia tak menjawab.


"Apa dia mengalami syok?" Yura memandang Audrey dengan heran.


Audrey mengangkat kedua bahunya. "Entahlah."

__ADS_1


"Sepertinya mobilmu mogok ya, mari kami antar kau ke tempat tujuanmu." Yura menawarkan bantuan untuk mengantar, karena mereka berdua tidak mengerti tentang mesin.


"Ti-tidak perlu." Sofia menunduk, jari jemarinya saling bertautan.


"Baiklah kalau begitu, kami akan membawamu ke sebuah restoran tak jauh dari sini. Supaya kau bisa menghubungi seseorang, berbahaya jika menunggu disini." Audrey menyadari keengganan Sofia.


"Benar, restoran itu tak jauh. Sebelum sampai disini tadi kau pasti melihat bangunannya yang terletak di sebelah kanan." Yura menimpali.


Sofia mengangguk, mereka bertiga berjalan menuju mobil Sofia. Memberi gadis itu kesempatan mengambil tas, menurunkan kap dan mengunci mobilnya. Setelah yakin tak ada yang tertinggal ia segera naik dan duduk di samping pengemudi, Audrey. Yura memilih duduk di belakang dengan alasan tidak ingin menularkan flu.


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka bertiga. Sepuluh menit kemudian Audrey membelokkan mobilnya memasuki sebuah restoran dan memarkirkannya di area yang taknjauh dari gerbang keluar. Karena tujuan mereka hanya mengantar Sofia, jadi mereka parkir jauh dari pintu masuk restoran itu.


Setelah membuka sabuk pengamannya, Sofia tidak langsung turun. Ia terdiam sambil menunduk, namun jelas ia sedang memikirkan sesuatu. Audrey menyodorkan sekotak tissue dan air mineral yang belum dibuka.


"Tidak ada alkohol, bersihkan dulu lukamu." kata Audrey smbil tersenyum tipis.


"Tidak perlu, ini hanya luka kecil." Sofia menolak.


Audrey hanya mengangkat bahu dan menekan centre lock untuk membuka kunci. Sofia langsung membuka pintu, namun kemudian ia kembali menyandarkan punggungnya.


"Aku sudah mendekati kekasihmu, tapi kau tak ragu untuk menolongku. Kenapa?" akhirnya ia menanyakan hal yang dari tadi mengganjal pikirannya. Sofia menatap Audrey dengan intens untuk melihat ekspresi gadis itu.


Audrey balas menatap Sofia dengan sebelah alis terangkat. Ia tersenyum geli mendengar pertanyaan itu.


"Apa aku harus berpangku tangan menyaksikan gadis lain dilecehkan?" Audrey menjawab pertanyaan Sofia dengan sebuah pertanyaan.


"Nona Marthen, aku memang tak suka calon suamiku didekati gadis lain. Tapi bukan berarti aku akan menutup mata saat ia mengalami peristiwa buruk seperti tadi. Sekelompok serigala saja saling melindungi kawanannya. Masakan aku yang seorang manusia tidak bisa menolong sesamaku."


Sofia terkejut dengan jawaban Audrey, gadis itu bisa mengesampingkan masalah pribadi mereka dan menolong orang dengan sepenuh hati. Tangan kanan Sofia terulur memegangi dadanya. Ada rasa hangat sekaligus nyeri di dalam sana. Hangat karena melihat ketulusan Audrey, nyeri karena sadar betapa ia tak bisa dibandingkan dengan gadis itu.


"Sekarang aku sadar mengapa Keluarga Saka begitu menyayangimu dan hanya menginginkanmu sebagai menantu mereka." Sofia tersenyum getir.


"Aaron beruntung memiliki pendamping sepertimu, Audrey." imbuhnya sambil menatap Audrey dan tersenyum tulus. "Terima kasih untuk bantuan kalian berdua." ia menoleh melihat Yura yang ternyata sudah terlelap di kursi belakang.


"Dia meminum obat flu tadi, jadi wajar kalau Yura sudah tak bisa menahan kantuknya." Audrey menjelaskan begitu melihat ekspresi Sofia yang keheranan.


"Baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama."


Sofia tersenyum kemudian keluar dari mobil Audrey dan melangkah masuk ke dalam restoran. Saat ia menoleh ke belakang mobil Audrey sudah bergerak menjauhi restoran itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2