Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
31. Dokter Cinta


__ADS_3

Nabila dan Isabela melihat video yang dikirim Audrey. Keduanya terlihat lega dan bahagia karena sahabatnya baik-baik saja.


"Aku lega, dia belum membunuh Rebecca." celetuk Isabela.


"Husss!!! Jangan bilang begitu, bukan belum. Yang benar T I D A K dibaca TIDAK!" Nabila mendikte.


"Ya, itu maksudmu." Isabela mengangkat bahu.


"Maksudku." Yura membenarkan.


"Tidak! Maksudmu." Isabela bersikeras.


"Apa kau tidak membenarkan perkataan Nabila?" nada bicara Yura mulai meninggi.


"Tentu saja, aku mendukung kalimatku sendiri." Isabela mengangkat alis.


"Apa yang tadi kau makan?" Nabila mengernyit.


"Mie instan." jawab Isabela santai.


"Sepertinya mie itu sudah kadaluwarsa." Yura menimpali.


"Sepertinya tidak, aku sudah memeriksa tanggalnya sebelum makan."


"Ah sudahlah, aku belum mau gila." Nabila pergi.


"Aku bingung dengan perdebatan ini." Isabela menyusul Nabila.


"Sebenarnya siapa yang eror disini?" Yura bingung sendiri.


Tringg.....


Yura segera membuka ponselnya memeriksa pesan yang masuk.


Kak Rangga:


Kakak rindu kamu Ta.


Seketika wajah Yura memerah, Kak Rangga benar-benar melancarkan serangan-serangan maut. Dia sering memberi kejutan melalui kalimat-kalimat yang sederhana tapi sangat mengena. Terkesan agresif, namun disaat yang sama tetap membuat Yura merasa nyaman.


"Apa yang terjadi padamu Ra?! Kau terkena alergi?!" Tiba-tiba Isabela kembali dan bertanya setengah berteriak.


Yura sangat terkejut dengan kedatangan Isabela yang begitu mendadak.


"Kau mengagetkanku!" seru Yura.


"Aku? Tidak mungkin. Karena tadi aku sempat bertanya apa kau melihat ponselku. Tapi kau hanya tersenyum sambil melihat ponselmu." Isabela membela diri.


Sepertinya yang dikatakan Isabela benar, pasalnya Yura memang hanya terpaku pada ponselnya setelah melihat pesan dari Rangga.


"Ada apa ini?" Nabila menyusul, "Mengapa kalian saling berteriak?"


"Yura terkena alergi. Lihatlah, wajahnya sangat merah."


"A-aku ba-baik, siapa yang alergi." Yura berpaling.


Tring...


Sebuah pesan kembali masuk.


Kak Rangga:


Tak sabar untuk memelukmu.


Dan dapat dipastikan wajah Yura menjadi lebih merah. Nabila mengernyit menatap punggung Yura, sementara Isabela sibuk mencari ponselnya.


"Ah, ini dia!" serunya setelah menemukan apa yang ia cari. Ternyata ponselnya ada di meja depan Yura.

__ADS_1


"Bil, ayo bawa Yura ke dokter. Wajahnya semakin merah." kata Isabela saat mendongak menatap Yura.


Dengan satu gerakan Nabila merampas ponsel Yura dari belakang, kemudian secepat mungkin berlari menjauh. Nabila hanya membaca siapa pengirim pesan. kemudian menekan tombol power untuk mengunci ponsel itu. Ia berbalik menatap Yura dengan tatapan menggoda.


"Aku tak membaca isinya, hanya membaca nama pengirimnya." ia mengembalikan ponsel Yura.


"Ayo, nanti kondisimu makin parah." Isabela menyeret Yura.


"A-aku baik-baik saja. Tak perlu dokter." Yura menahan tangan Isabela.


"Iya Sa, Yura baik-baik saja. Memang perlu dokter, tapi dokter cinta." Nabila mengerling kemudian terkekeh.


"Memangnya ada?" Isabela memiringkan kepalanya.


Nabila terbahak-bahak dalam langkahnya menuju dapur. Ternyata Isabela mengejarnya.


"Aku serius Bil."


"Cepatlah besar baby." Nabila mengusap kepala Isabela dengan sayang.


"Aku sudah besar, umurku juga kan sudah 21 tahun seperti kalian."


"Iya deh iyaaaa." Yura ikut mengusap kepala Isabela.


"Ah sudahlah! Nanti siang ayo kita nonton di bioskop. Ada film baru dari Pixar Animation." wajah Isabela berseri-seri.


"Yaaaaaaa!!!" seru Nabila dan Yura bersamaan.


.


.


.


Entah sudah berapa kali Audrey bertanya pada Aaron, mereka akan pergi kemana, dan jawabannya sama saja.


"Kakak tidak berencana membuangku ke hutan kan?" Audrey melihat sekeliling mereka hanya hutan belantara dan medannya berbukit-bukit.


"Mana mungkin aku membuangmu."


"Syukurlah kalau begitu." Audrey manggut-manggut. "Berapa jumlah pengawal yang mengikuti?"


"Hanya beberapa."


Audrey melirik ke spion, jika tadi di jalan bebas hambatan ia benar menghitung mobil-mobil yang sama persis mengikuti, maka sekitar 6 mobil. Jika 1 mobil berisi 5 pengawal, berarti ada 30 orang pengawal. Beberapanya itu 30 orang, bagaimana kalau banyak? gumam Audrey dalam hati.


"Kak, masih jauh?"


"Tidak juga."


"Kakak lelah? Biar aku yang menyetir."


Aaron menaikkan kedua alisnya. "Ini stir mobil, bukan teflon nyonya muda."


"Kau memandangku remeh tuan muda." Audrey mencebik kesal.


"Oo ayolah, bukan begitu maksudku My Lady."


"Ya..Ya..Ya...terserah dirimu saja My Lord."


Aaron terkekeh, perjalanan jauh ini terasa menyenangkan karena ada Audrey. Sebenarnya ia merasa pegal, tapi ia takut jika gadis itu yang menyetir karena medan yang kadang terjal.


Aaron melirik ke sampingnya, sepertinya gadis itu merasa kesal. Kemudian ia meraih tangan Audrey dan mengecup punggung tangan gadis itu.


"Jangan pasang wajah masam itu honey." pintanya.


Audrey menarik tangannya dan tetap diam, ia membuang muka melihat keluar jendela. Mencoba menyembunyikan rona yang muncul akibat perlakuan Aaron. Kalau seperti ini terus, tak baik bagi kesehatan jantungku. Audrey mengeluh dalam hatinya.

__ADS_1


Aaron menjungkir balikkan dunianya. Jangankan mengecup punggung tangan, pemuda lain bahkan sulit untuk sekedar berkenalan dengannya. Audrey merasa risih jika ia melihat tatapan aneh pemuda-pemuda itu. Namun berbeda dengan Aaron.


Sejak pertama Aaron memang tidak menyembunyikan perasaannya, ia sudah menatap Audrey dengan tatapan memuja, tapi dalam versi sopan. Bukan seperti kebanyakan pemuda yang memujanya dengan hasrat mencumbu yang begitu kuat.


Bagaimana Audrey bisa membedakannya? Tentu saja karena teman-teman kakaknya. Ada beberapa diantara mereka terkenal sebagai playboy kelas berat. Namun mereka sangat sopan dan menyayangi Audrey, mungkin karena mereka tahu apa yang pernah dialami gadis itu.


Jadilah mereka mengajari Audrey, melihat tingkah pemuda yang melihat lawan jenis dengan pikiran mesum. Bahkan mereka tak malu meminta Audrey melihat tingkah mereka saat jalan-jalan bersama. Kata mereka ibarat pelajaran, pengamatan langsung adalah prakteknya.


"Drey, apakah persiapanmu banyak? Aku khawatir besok dan lusa kita tak bisa langsung pulang."


"Tentu kak, jangan khawatir." Audrey mengangguk antusias.


"Kau benar-benar merasa senang bisa keluar dari mansion, hmm."


Audrey terkekeh, "Apakah sangat terlihat."


"Ya, kau terlihat lebih santai dan semakin cantik."


"Tak bisakah sebentar saja kakak tidak membual?"


"Itu bukan bualan, itu kenyataan."


"Berapa banyak gadis yang kenyang dengan bualan yang menurut kakak bukan bualan itu?"


Aaron memicingkan mata sambil sedikit memiringkan kepalanya. Tampak ia sedang berfikir keras.


"Astaga, apakah sangat banyak sampai kakak membutuhkan waktu untuk menghitungnya?" Audrey ternganga tak percaya.


Aaron tergelak, "Aku bukan playboy kabel Drey."


"Mana ada pencuri yang mengaku, kalau mereka mengaku penjara akan penuh." Audrey berkata sinis.


Tiba-tiba Aaron menghentikan mobil membuat Audrey terkejut.


"Dan kaulah pencuri itu."


"Apa?!" Audrey mendekatkan wajahnya menatap Aaron dengan tajam. "Apa yang telah kucuri tuan muda Aaron?"


Aaron mengikuti langkah Audrey, ia pun mendekatkan wajahnya pada gadis itu dan membalas tatapan mata Audrey dengan tajam dan dalam.


"Ha..ti..ku.." suara Aaron terdengar berat dan dalam. Kemudian secepat kilat Aaron mengecup bibir Audrey.


"Hei, itu ciuman pertamaku!" Audrey berseru sambil memundurkan tubuhnya, wajahnya sangat merah dan matanya melebar. Spontan ia bereaksi. "Cepat kembalikan!" perintahnya dengan sengit, Aaron menyeringai.


"Eh!!!" Audrey memekik dan menutup mulutnya. "Tidak usah..Tidak usah!!" Audrey menggerakkan kesepuluh jari di depan dadanya sambil meringis.


"Dengan senang hati akan kukembalikan." Aaron melepas sabuk pengamannya dan mendekati Audrey.


"Kau yakin, tuan?!" Audrey melirik ke bawah, Aaron merasa ada sesuatu yang keras menyentuh perutnya. Taser Gun? Sejak kapan ia memegangnya? Aaron mengernyit.


"Mengapa kau membawa benda itu? Apa pengawal yang dibawa tak cukup?"


"Tentu saja untuk melindungiku dari dirimu." Audrey mendorong tubuh Aaron agar menjauhinya.


"Siapa suruh memancingku."


"Aku korbannya, kau menciumku tanpa ijin. Mengapa menyalahkanku? Aku benci padamu!!!"


Oo, dia marah, tapi semakin menggemaskan. Aaron tersenyum kemudian memasang kembali sabuk pengamannya dan meneruskan perjalanan. Setelah ini aku pastikan akan membuatmu bertekuk lutut My Lady.


"Maaf, aku tak dapat mengendalikan hatiku. Aku akan bertanggung jawab atas ciuman pertamamu. Tapi kau juga harus bertanggung jawab karena telah mencuri hatiku."


"Tidak, anggap saja ciuman tadi membuat kita impas." Audrey merengut, ia benar-benar kesal, tapi juga merasa seperti banyak kupu-kupu di perutnya. Marah dan senang di waktu yang sama, apakah aku sudah gila?


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2