Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
22. Ide


__ADS_3

Hari ini Sebastian bisa menikmati sarapan bersama putra putrinya, setelah semalam ia bersusah payah membujuk Rangga untuk pulang. Sesuai janjinya, setelah makan pagi mereka semua akan segera ke rumah sakit.


Riana telah dipindahkan kembali ke ruang perawatan semula sebelum operasi keduanya. Ia bahkan telah sepenuhnya sadar dan dapat mengenali orang.


"Kau benar-benar wanita tangguh kak Ri." Audrey mengenggam tangan Riana dengan lembut. "Kakak tenang saja, keadilan akan ditegakkan."


"Kau ini Drey, seperti karakter super hero saja." Isabela menyenggol lengan Audrey sambil terkekeh pelan.


Riana tersenyum lemah melihat itu. Rasa sakitnya sedikit teralihkan dengan tingkah gadis-gadis di sekitar ranjangnya.


"Kalian jangan ribut, disini bukan mall." Rangga datang dan menegur keempat gadis itu.


"Iya kak, iyaaa." mereka berjalan menuju sofa.


Sebastian yang duduk di sofa sambil bekerja tertawa kecil melihat kelakuan muda mudi itu.


"Audrey kesana dulu ya kak. Nanti hulk mengamuk."


Rangga mencebik mendengar hal itu. Saat Audrey akan pergi Riana menahan ujung baju Audrey, bibirnya bergerak. Audrey mendekatkan telinganya ke dekat bibir Riana.


"Terima kasih banyak." lirihnya


"Iya kak, sama-sama." Audrey tersenyum dengan lembut kemudian mengusap punggung tangan Riana dengan lembut sebelum berlalu.


Rangga menatap Riana dengan senyum penuh arti.


"Kau benar-benar tahan dengan singa gunung itu, hmm?"


"Aku disini kak, dan aku mendengarnya." sahut Audrey dari tempat duduknya.


"Dengarlah itu, dia punya antena penguat suara." ucap Rangga berusaha menghibur Riana. Riana tersenyum tipis, ia berusaha menarik nafas dalam-dalam, namun rasanya nyeri.


Dalam hati ia bersyukur dipertemukan dengan Rangga dan keluarganya. Mereka tak membencinya, walaupun ia telah meninggalkan Rangga.


Rasa sakit dari dalam tubuhnya semakin terasa, namun sekuat tenaga ia menahannya, ia tak ingin membuat mereka semakin cemas. Ia ingin menunjukkan bahwa ia kuat dan mampu melewati ini.


Namun ia sungguh tak bisa menahannya, semakin lama semakin berat, seperti ada tekanan di dada. Pandangannya pun mulai buram. Ia mengerjap, masih sama, sekali lagi dicoba, semakin buram.


Tuhan, ampuni semua kesalahanku. Ucapnya dalam hati.


Ia menggerakkan tangannya, Rangga yang melihat langsung mendekat. Terlebih lagi saat ia melihat bibir Riana bergerak, ia langsung mendekatkan telinganya.


"Terima kasih banyak, maafkan aku." lirih Riana.


"Jangan dipikirkan, kau staf terbaik yang kumiliki." Rangga tersenyum jenaka. "Cepatlah sembuh, gajimu akan kunaikkan dua kali lipat. Bagaimana?"


Riana tersenyum manis, ia mengerjapkan matanya lagi.


"Istirahatlah, kami semua ada disini. Kami menyayangimu." Rangga mengusap kepala Riana dengan perlahan, ia takut sentuhannya menyakiti wanita itu.


Riana memejamkan matanya, melihat itu Rangga beranjak dan bergabung dengan keluarganya di sofa. Ia duduk di samping Sebastian, mengambil sebotol air mineral dan segera meminumnya.

__ADS_1


Tiiiiiiiitttttttttttt


Terdengar suara nyaring dari monitor Riana. Rangga membuang botol yang ia pegang. Berlari mendekati ranjang Riana dan meraih tombol darurat memanggil perawat.


Tak lama berselang tim medis berlarian masuk ke dalam ruangan, Sebastian menyeret Rangga dengan kasar. Memaksa putranya menjauh dari ranjang. Audrey mulai menangis dalam pelukan teman-temannya.


Rangga memalingkan wajah, tak kuasa melihat Riana berguncang saat alat pacu jantung menyentuh tubuhnya. Suara dari monitor di ruangan itu tak kunjung berubah.


Dokter Arka menggeleng dengan pelan memberi jawaban pada Sebastian. Rangga merosot ke lantai, ia menutup wajah dengan tangannya, kemudian menarik rambut dengan keras.


Sebastian berjongkok dan merengkuh Rangga ke dalam pelukannya. Disisi lain Audrey menutup mulutnya kuat-kuat, menahan teriakannya agar tak keluar sedang air matanya membanjiri seluruh wajahnya. Ketiga sahabatnya menangis sambil memeluk Audrey.


.


.


.


Audrey memarkirkan mobilnya di sebuah dermaga pribadi, kemudian ia melangkah dengan cepat menuju Speed Boat yang telah menunggunya dan siap mengantarkan ke tujuan.


Kepergian Riana seminggu yang lalu membuatnya lesu. Tapi hidupnya belum berakhir, ia memutuskan untuk mengunjungi perusahaan mutiara. Kakek dan nenek telah berada di pulau sehari sebelum kedatangannya.


Papa Sebastian dan Rangga pun telah kembali pada kesibukan mereka masing-masing. Kematian adalah hal yang pasti terjadi, hanya waktunya saja yang tidak bisa diketahui. Bersedih boleh, depresi jangan. Karena mereka yang telah pergi menghadap Sang Khalik, tak akan bisa hidup lagi.


"Hai sayang." Nenek merentangkan kedua tangannya menunggu Audrey menuju pelukannya.


"Kenapa tunggu di dermaga nek? Anginnya kencang."


Rumah yang dimaksud terletak di belakang perusahaan, berada di dataran yang tinggi di pulau itu. Seluruh kawasan perusahaan dapat dilihat dari rumah, teras yang berada di atap bahkan menyajikan pemandangan laut lepas dari seluruh sisinya yang terbuka.


Audrey menatap langit-langit kamarnya, kemudian tangannya menggapai ponsel dan mengirim kabar pada papa bahwa ia telah tiba di tujuan.


"Sayang, makanlah dulu." Nenek berdiri di ambang pintu.


"Audrey masih kenyang nek. Kakek dimana?"


"Di ruang kerja bersama pak Charly."


"Aku akan kesana."


"Baiklah, nenek akan menyiapkan minuman dan makanan kecil untuk kalian."


Audrey bergegas masuk ke ruangan yang ditunjukkan nenek.


"Kau sudah makan?" tanya Kakek saat melihat Audrey datang.


"Audrey belum lapar kek." Audrey mendekati kakeknya dan duduk di salah satu kursi. "Apa kabar pak?"


"Saya baik nona besar."


"Audrey, ini adalah daftar toko perhiasan yang bekerja sama dengan kita. Mungkin kau ingin membacanya." Kakek menyerahkan sebuah map berwarna biru tua.

__ADS_1


Audrey membaca dengan seksama, kadang dahinya mengernyit, kadang bibirnya mengerucut, atau memiringkan kepala ke kiri.


"Hentikan kerjasama dengan Shera Acc."


Pak Charly sedikit terkejut mendengar itu, sedangkan kakeknya hanya tersenyum tipis.


"Pembayaran mereka sering terhambat, tapi selalu minta mutiara terbaik. Ciri khas kak Shera." Audrey mencibir.


"Bukan karena masalah pribadi kan sayang?" Kakek tersenyum penuh arti.


"Kalau hanya masalah pribadi Audrey tidak akan menghentikan pasokan kakek. Bisnis tetaplah bisnis." kata Audrey mantap.


"Ya, lagipula alasan yang kau utarakan masuk akal." kakek menyetujui.


"Pak Charly, ada berapa pengrajin perhiasan di sekitar kantor di daratan utama?"


"Ada sekitar 3 pengrajin nona."


"Kita bisa bekerja sama dengan mereka. Kenalkan mereka kwalitas perhiasan yang dipakai kalangan kelas atas. Biar dari daerah pesisir ada toko perhiasan yang mampu bersaing dengan toko di kota besar."


"Desainnya?" Pak Charly tampak tertarik dengan ide Audrey.


"Tentu aku yang kerjakan Pak." Audrey tersenyum bangga.


"Bakat turun temurun." Kakek tersenyum penuh arti.


"Mungkin bisa dimulai dengan toko suvenir di Sunrise Resort yang akan diresmikan satu minggu lagi. Mereka memberikan kita tempat khusus." Pak Charly menyodorkan map lainnya pada Audrey.


"Berarti kita butuh desain secepatnya." Audrey membaca berkas di dalam map. "Kakek bisa pelajari? Biar Audrey mulai menggambar." Audrey menatap kakek dengan tatapan memohon.


"Apapun untukmu sayangku." Kakek mengambil berkas itu.


"Tidak ada yang akan mulai bekerja sebelum makan dan minum." Nenek masuk membawa nampan berisi kue.


"Audrey akan ambil minumannya nek."


"Terima kasih sayang."


"Dia baik-baik saja?" Kakek bertanya pada nenek setelah cucu mereka keluar ruangan.


"Ya, aku yakin itu. Jika ada sesuatu aku akan mendekatinya untuk berbicara. Tak akan kubiarkan cucuku memendam persaannya lagi seperti dulu." Nenek tersenyum yakin.


"Nyonya Tiara beruntung memiliki putra putri seperti mereka." Pak Charly menatap ke arah pintu.


"Kau benar Charly."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2