Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
61. Informasi Menyesatkan


__ADS_3

Saat pesta masih berlangsung, Aaron mengajak Audrey menuju taman yang terdapat kolam ikannya. Ada beberapa bangku taman disana, dan keduanya memilih duduk di bangku yang paling dekat dengan kolam.


"Drey, kau tak cemburu melihatku dekat dengan Sofia?"


Audrey menatap Aaron dengan alis bertaut. "Kenapa Kakak berpikir seperti itu?"


"Karena kau tak pernah terlihat marah."


"Audrey marah, apalagi kalau dekat-dekat seperti tadi waktu pertama Audrey datang." Audrey mencebik kesal. "Tapi kalau Audrey marah terang-terangan, bisa buat Kakak malu. Jadi Audrey pendam saja, padahal emosi sudah diubun-ubun."


Hhhh....


Audrey menghela napas dengan kasar. "Sebenarnya Audrey tidak suka Sofia dari awal kita bertemu di restoran. Karena Audrey lihat caranya dia memandang Kakak, dia benar-benar terpesona sama Kakak. Tapi kalau Audrey mengeluh, Audrey takut Kakak jadi ilfeel."


Aaron terkekeh pelan mendengar penuturan Audrey. Ia mengusap kepala Audrey dengan penuh kelembutan.


"Aku senang mendengar ini."


"Kakak senang dengar Audrey cemburu?" Audrey menatap Aaron dengan wajah bingung.


"Ya." Aaron mengangguk penuh keyakinan. "Tandanya kau sangat mencintaiku." tangannya terulur dan menarik Audrey masuk dalam dekapannya.


"Tapi jangan sering seperti itu ya Kak. Jangan sering memancing rasa cemburu Audrey." gadis itu mendongak dan menatap Aaron dengan raut wajah memelas.


Pemuda itu terkejut, ia melepas pelukan kemudian mendorong bahu Audrey dengan pelan agar tubuh gadis itu agak menjauh dari tubuhnya. Ia menatap Audrey lekat-lekat.


"Kenapa?"


"Audrey masih lelah dengan emosi yang tidak stabil karena Rebecca. Jadi Audrey ingin menenangkan hati dan pikiran Kak. Perasaan cemburu memang tidak bisa dihindari, tapi tolong jangan sekarang. Takut Audrey bisa bunuh orang saking marahnya."


Aaron tergelak mendengar itu, terlebih lagi ekspresi wajah Audrey yang terlihat menggemaskan.


"Baiklah, aku akan berusaha menghindari hal-hal yang membuatmu marah. Kau pun sama, bagaimana?"


"Tentu." Audrey tersenyum senang.


"Masalah besar, diperkecil. Masalah kecil, dihilangkan."


Tanpa disangka Audrey langsung menghambur ke dalam pelukan Aaron.

__ADS_1


"Perbincangan ini terasa sangat menyenangkan." Audrey tersenyum dalam dekapan Aaron dan mempererat pelukannya. "Jadi makin sayang deh sama Kakak."


Aaron merasa ada aliran hangat mengalir dari dada ke seluruh tubuhnya. Ia mengecup punca kepala Audrey berulang kali.


.


.


.


Dua minggu kemudian, Audrey mengundang sahabat-sahabatnya beserta keluarga dan pasangan untuk menikmati makan siang bersama. Ini adalah acara makan siang yang memang biasa diadakan bergilir oleh mereka berempat. Namun sempat beberapa bulan tertunda karena satu dan lain hal.


Alasan utama keempat gadis itu membuat acara makan siang beserta keluarga adalah supaya keluarga juga mengenal dengan siapa mereka bergaul. Karena kepercayaan dari orang tua adalah hal penting yang harus dijaga dan dipertahankan, selama mereka masih menjadi tanggung jawab orang tua.


Makan siang kali ini lebih meriah, karena masing-masing sudah memiliki calon suami, jadi lebih banyak orang yang datang. Acara digelar di taman samping rumah yang luas. Para orang tua membentuk kelompok di ruang keluarga untuk bercengkrama dan terpisah dari anak-anak mereka.


Audrey dan sahabat-sahabatnya duduk berkumpul di dekat kolam ikan sedang kekasih mereka duduk tak jauh dari sana. Banyak hal yang diperbincangkan gadis-gadis itu hingga akhirnya mereka membahas persiapan pernikahan. Saking asyiknya bercerita, mereka tidak sadar kalau para pemuda sudah ikut mendengar perbincangan itu sejak mereka mulai membahas soal persiapan pernikahan itu.


Tampaknya para calon Kepala Keluarga itu ingin mengetahui konsep impian calon istri mereka soal pesta pernikahan. Karena setiap gadis pasti memiliki cita-cita seperti apa upacara pernikahan mereka nanti. Entah soal gaun, dekorasi bahkan lagu yang akan diperdengarkan. Jadilah mereka mencuri dengar tanpa mengganggu perbincangan itu.


"Tapi, aku takut jika harus menikah." wajah Isabela terlihat ketakutan.


"Memangnya kenapa?" Audrey bingung dengan pengakuan Isabela.


"Siapa yang memberi tahumu?" Yura melebarkan netranya, tubuhnya bahkan langsung menegang.


"Kak Mita." Isabela menatap wajah sahabatnya satu per satu. "Kata Kak Mita rasanya sakit sekali. Seperti tertembak peluru, lalu tanpa anestesi kita mencungkil luka untuk mengeluarkan proyektil yang tertinggal di dalam." ia bergidik ngeri membayangkan itu.


Raut wajah ketiga gadis itu berubah menjadi pucat, mereka berpandangan satu sama lain. Bahkan terlihat dengan susah payah mereka menelan saliva.


"Be-benarkah itu?" Nabila tercekat.


Isabela mengangguk yakin. "Kak Mita kan sudah mengalaminya, tidak mungkin dia berbohong."


Aaron mengusap wajahnya dengan kasar mendengar penuturan Isabela. "Lebih baik kau pergi dan menutup mulut calon istrimu itu." katanya pada Leon dengan volume suara yang sengaja dibuat pelan agar gadis-gadis itu tidak mendengarnya.


"Ya, dia sudah menyebar berita bohong." Rangga menimpali. "Bisa-bisa aku batal menikah bulan depan karena informasi menyesatkan yang diucapkannya." ucapnya bersungut-sungut.


"Kenapa aku?" Leon melipat tangan di depan dada dan tetap memasang wajah datar. "Informasi awal bukan dari Isabela. Harusnya Bram yang menegur istrinya. Kenapa dia menakut-nakuti Isabelaku!"

__ADS_1


Isabelaku? Aaron mengangkat kedua alisnya dan tanpa sadar tersenyum.


Semua mata pemuda itu tertuju pada Bram. Melihat tatapan tajam rekan-rekannya membuat Bram susah payah menelan salivanya.


"Mana aku tahu Mita berkata seperti itu. Lagipula pasti dia hanya bercanda. Isabela saja yang menanggapinya dengan serius." Bram mencoba membela diri dan juga Mita.


"Jadi kau menyalahkan Isabela?" Leon memicingkan matanya. "Harusnya kalian yang lebih tahu, gadis itu kan.."


"Lugu-lugu aneh." potong Rangga cepat. Leon menatap tajam pada Rangga.


"Kenapa? Kenyataan kan." kata Rangga tanpa rasa bersalah. Leon hanya mendengkus kesal, sebab yang dikatakan pemuda itu ada benarnya.


"Lagi pula yang dikatakan Mita ada benarnya. Pertama kali memang sakit." Bram menyeringai.


Namun seringaian Bram itu menghilang saat melihat Rangga memaksakan diri untuk tersenyum dan melambaikan tangan. Ia ikut melihat ke arah tatapan Rangga. Ternyata Yura sedang menatap Rangga dengan wajah yang terlihat aneh. Gadis itu pun mengulas senyum terpaksa.


Setelah Bram memalingkan wajah dari Yura, ia terkejut mendapati pemuda lain juga menatap pasangan mereka. Dan lucunya gadis-gadis lain memiliki ekspresi wajah yang sama dengan Yura. Bram menggeleng-gelengkan kepala sambil berusaha menahan tawa.


Leon berdiri dan menghampiri Isabela, membuat gadis itu terkejut. Duda keren itu langsung duduk di sandaran tangan kursi sofa yang ditempati Isabela. Tentu saja itu adalah hal yang mengejutkan. Pasalnya, pria sapu ijuk itu jarang memperlihatkan kedekatan mereka di depan umum.


"Mengapa menatapku seperti itu?" Leon menunduk karena posisinya lebih tinggi dari Isabela.


"Ti-tidak ada." Isabela mendongak dan menjawab dengan terbata.


Leon semakin menunduk dan mendekatkan bibirnya pada telinga Isabela. "Memang sakit, tapi sebentar saja. Setelah itu berganti dengan kenikmatan." kemudian Leon meniup telinga Isabela diakhir bisikannya.


Isabela refleks menjauh dengan wajah yang sangat merah. Sedang Leon sudah beranjak pergi tanpa rasa bersalah sedikit pun. Bahkan ekspresinya tetap datar. Audrey, Nabila dan Yura segera menatap Isabela dengan penuh rasa ingin tahu.


Leon kembali ke perkumpulannya dengan tetap memasang ekspresi datar. "Sudah beres." ujarnya.


"Apa yang beres?" Aaron penasaran.


"Soal info malam pertama itu." katanya dengan santai.


"Apa yang kau bisikkan?" Aaron bahkan mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat pada Leon.


"Rahasia." jawab Leon sambil menatap Isabela, ternyata gadis itu juga masih menatapnya dengan wajah memerah disertai ekspresi kesal. Sangat manis, gumamnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2