
Tiara merasa bahagia sekali malam ini bahkan rasanya, belum pernah ia sebahagia malam ini. Di antara musik yang hingar-bingar. di antara lampu yang berwarna-warni, dan di antara gelak canda teman-teman, ia merasa begitu menikmati suasana malam ini.
Ah. senang rasanya bisa terbang dari cengkeraman Mama dan aturan-aturannya yang menyiksa. Mama selalu melarang Tiara untuk berbuat ini dan itu. Melarang Tiara berpakaian sexy, melarang Tiara keluar malam, melarang Tiara membawa teman cowok ke rumah. Pokoknya, begitu banyak larangan malam ini, Tiara yang penasaran ingin ke diskotik dan bersenang-senang dengan teman-temannya, berhasil menyelinap keluar rumah. Setelah ini mau dimarahi atau diapakan pun, Tiara tidak mau peduli, yang penting dia bahagia malam ini. Dia ingin malam ini terbebas dan terlepas dari kekangan dan kungkungan Mama.
Tapi meskipun begitu. Tiara belum berani meminum-minuman keras seperti Anya dan Ersa.
"Coba sedikit deh Tia, "Ersa menawarkan minuman miliknya. "Kamu pasti suka. "
Tiara menggeleng. "Lain kali, deh. Sekarang ini bisa masuk ke sini aja udah seneng baget, "Katanya polos.
"Tapi bener ya, lain kali lagi lebih berani lagi, "Ucap Anya.
Tiara mengangguk senang.
"Gimana rasanya? Asyik, kan?" Ersa tersenyum.
__ADS_1
"Wah, asyik baget rasanya aku ingin ke sini tiap malam. "
"Jangan dong, kamu kan harus kuliah, apalagi baru semester pertama, "Komentar Ersa.
"Memangnya aku masih keliatan anak kecil dan bego, ya?" tanya Tiara pada dua temannya yang begitu lulus SMU tidak melanjutkan ke mana-mana.
"Bego? Jelas nggak dong, malah kamu lebih pintar dari kita berdua. Kamu kan sekolah, sedang kita berdua nganggur, " tukas Anya.
"Tapi kalian kelihatan lebih dewasa, " kata Tiara.
"Mungkin karena kami lebih pengalaman di banding kamu, makanya banyak belajar dari kita deh, " ujar Ersa bangga.
Tiara menyodot kembali minumanya, dan ketika musik mengalun lembut, suasana romantis melingkupi hatinya. Ah, inginnya ia berdansa, dengan seoramg cowok cakep. Selama ini, Tiara belum pernah punya pasar. Mama melaranya pacaran waktu di SMU, alasannya masih kecil. Dan sekarang, entah dengan alasan apa lagi, Mama masih tetap saja melarannya bergaul akrab dengan teman-temannya yang cowok, padahal sudah ingin sekali punya seseorang yang istimewa, yang ia cintai dan mencintainya. Ia ingin berbagi kasih, berbagi suka dan duka. Tiara ingin menikmati cinta seindah dalam film atau cerpen-cerpen yang ia baca. Tapi bagaimana mungkin? Mama begitu keras melarangnya.
"Er, aku ingin punya pacar deh, " Tersetus begitu saja kalimat itu dari mulutnya.
__ADS_1
Ersa memandang wajah cantik Tiara. "Pacaran aja. Apa sih susahnya nyari cowok buat gadis secantik kamu?"
"Ya, Tia, " Sambung Anya.
"Enggak boleh sama Mama, " ucap Tiara kecewa.
"Alasannya?" tanya Ersa.
"Nggak tahu. Nggak jelas apa maunya Mama. "
"Ada-ada aja, " cetus Anya
"Aneh, ya? Padahal terus terang aku kesepian. Udah nggak punya papa, nggak punya saudara, eh nggak punya cowok juga. Kayaknya aku hidup sendiri di dunia yang penuh sesak makhluk-makhluk tuhan ini. "
"Kamu kan udah dewasa, nurut sama ortu emang perlu, tapi kalau yang nantinya nyiksa perasaan kamu sendiri, jangan nurutin dong, "Anya mengajarinya untuk melawan.
__ADS_1
"Ya Tia. Lagian nggak ada alasan deh buat kamu untuk nggak pacaran, " timpal Ersa.
"Nggak tahulah. Tapi kayaknya, mulai malam ini aku harus belajar menentukan sendiri jalan hidupku."