
Ah, seharusnya Mama tidak sekasar itu semalam, agar ia tidak perlu kembali lagi ke tempat itu, dan tidak perlu ternoda. Meski peristiwa semalam sangat indah untuk
dikenang, dia tetap saja merasa menyesal, dan membenarkan kekhawatiran Mama.
"Tiara juga minta maaf, Ma. Tiara udah ngecewain Mama. Tiara udah bikin marah Mama. Tapi.... Tiara nggak mau dijodohin, Ma. Dan Mama bohong tentang perjodohan itu kan?"
"Perjodohan itu benar, tapi Tiara nggak akan kecewa jika sudah kenal dengan Frans. Percayanya, Mama ingin berbuat yang terbaik untuk Tiara...."
"Nggak, Ma. Tiara nggak mau. Mama norak deh. Ngapain sih harus ada perjodohan di zaman seperti sekarang ini?"
"Alasannya emang klise, hanya ingin mempererat tali persahabatan antara keluarga kita dengan keluarga Oom Hendarto juga maksa, "Mama berusaha bicara sabar. "Maunya kami kalian kenalan dulu, berteman dulu, lalu kami akan bicara tentang rancana kami. Dan Mama yakin, kamu akan suka padanya, begitupun dia. kamu cantik, sedang dia ganteng. "
"Ganteng dan cantik nggak menjamin akan tumbuhnya cinta, Ma. Selain itu, aku juga punya pacar...."
"Apa?" tanya Mama kaget dan tidak percaya.
__ADS_1
"Aku punya pacar, Ma. " Tiara memberanikan diri untuk bicara lebih jelas. Dia harus jujur, apalagi hubungannya dengan Danial sudah begitu jauh. Kehormatannya telah terengut, dia tidak bisa melepaskan diri dari cowok itu. Dan dia juga tidak mau berusaha mencintai Frans, meski Frans jauh lebih menarik daripada Danial. Dia tidak ingin Frans kecewa, karena tidak mendapatkannya sebagai gadis suci. Tapi yang terpenting, dia benci perjodohan itu.
"Kamu jangan kecewakan Mama dong, Tia, " ucap Mama memalas.
"Mama juga jangan kecewakan Tia, " pinta Tiara sama memelasnya.
Mama mendesah lrih, sedih dan kecewa.
__ADS_1
"Papa dan papanya dulu bersahabat, begitupun Mamamu dan mama Tiara. Dan nasib kami juga sama. Mama Tiara juga ditinggalkan suaminya dalam usia masih muda, Papa juga begitu, ditinggalkan almarhumah mamamu. Dan berdasar persahabatan kami dan perasaan senasib inilah Papa ingin menyatukan kalian dalam ikatan pernikahan.... "
"Kenapa bukan Papa dan mamanya Tiara saja yang menikah, jika itu alasannya Papa?"
"Nggak mungkin, Frans. Tante Dea itu sudah Papa anggap saudara, hubungan kami sangat dekat dan sudah seperti keluarga. Selain itu, Papa juga tidak ingin berpikir untuk mencari pengganti Mama, dan Papa rasa Tante Dea juga tidak akan mendapatkan pengganti almarhum suaminya. "
"Kalau begitu, kenapa Papa memaksa Frans untuk menganti Riska, padahal Riska masih hidup? Sementara Papa dan Tante Dea yang kekasih hatinya sudah meninggal saja tidak tergantikan, "
"Kami beda, Frans, Papa sudah tua dan tidak ingin lagi berpikir tentang cinta. Yang Papa pikirkan hanya kamu dan massa depanmu.
"Papa pandai mencari alasan, " tukas Frans ketus.
"Kamu juga pandai bikin kecewa dan sedih Papa, " lagi-lagi harus bicara dengan suara pelan, penuh kesakitan dan tanpa kemarahan. Dan itu membuat Frans merasa bersalah.
Frans memandang wajah Papa, wajah itu demikian murungnya, dan terlihat jalas kekecewaan yang dalam. Tapi Papa tidak marah, tidak meledak-ledak emosinya.
__ADS_1
Dan ketika Frans pamit untuk keluar. Papa bertanya dengan nada sedih, "Mau ke rumah Riska kan?"
Frans mengangguk, Papa terdiam dan hanya memandangi Frans dengan tatapan sanyu dan sendu. Rasanya belum pernah Papa seperti itu sebelumnya.