CINTA PALSU

CINTA PALSU
murka


__ADS_3

Benar kata orang "Celaka tidak bisa dihindari diwakili bahkan dilewati," tubuh Tyo nampak terkulai lemas di pinggir jalan bersimbah darah. Erikpun melihat itu sesaat memarkirkan kendaraanya ingin memberi kejutan, tapi Tuhan memberikan kejutan yang lain dengan memberikan kesaksian saat wanitanya terpental dan tersungkur seperti tak ada arti. Kerumunan orang membuatnya sadar bahwa itu kenyataan bukan lamunan atau semacamnya.


"Ton!" teriakan Erik keras seolah memecah keramaian dan membuat semua yang disana tercengang, berlari tanpa menunggu lagi dan membawa sang istri dalam pangkuan serta menghubungi dokter pribadi yang tidak lain adalah pamannya sendiri.


sedangkan Toni yang sudah menolang tanpa permisi bibik menangis sejadinya sampai tak bersuara terlebih dulu sekian menit dari peristiwa itu. Lima belas menit baru ambulance datang tidak main main dokter Irfan sendiri yang turun tangan.


Segala perlengkapanpun sudah tercukupi, banyak alat yang terpasang Erik hanya bisa mengharap semua ini hanya mimpi, bukan sebuah kenyataan. Tak ada kata atau pergerakan hanya sebuah genggaman yang bisa dilakukan dengan penuh harap dan permintaan kepada Tuhan atas keselamatan untuk mereka yang ia sayang.

__ADS_1


Sampai rumah sakit langsung mendapat prioritas pelayanan bukan tanpa alasan Erik ikut andil besar dalam pembangunan rumah sakit.


Satu jam seakan sewindu. Dokter yang kali ini datang bukan lagi pamannya, menjelaskan bahwa Kemungkin besar Erik harus memilih diantara keduanya, Istri atau dua bayinya. begitu marahnya Erik sampai menghajar dokter itu. untung Tono memegangnya jadi masih bisa sedikit terkondisikan.


Tanda tangan persetujuan dengan air mata yang tak pernah keluar. kini Erik hanya bisa pasrah dan diantara marahnya mengambil benda pipihnya dan memberikan perintah kepada sosok yang selama ini belum diketahui Tondua bahkan sang Istri untuk mencari dan memberikan pelajaran kepada sosok penabrak Istrinya, yang tidak lain adalah Ayu adik tiri dari mantan istri Omnya.


"om, selamatkan Tyoku" pinta Erik dengan bersimpuh penuh permohonan juga harapan.

__ADS_1


"kami sudah melakukan yang terbaik sayang maafkan kami" Jawaban membosankan yang sering dokter katakan itu sungguh menusuk hati. membuat Erik menggila memukul mukulkan semua untuk melampiaskan amarahnya ke lantai.


Om Irfan kini hanya bisa berkata "Tenanglah sabar, kasihan jagoanmu mereka berdua juga kritis" hari ini ujian terbesar Erik, "anakku iya mereka ada di dalam masih dalam penanganan" jawab Om Irfan.


tanpa kata Erik masuk, masih dengan air mata yang mengalir menatap kosong ruangan yang berlapis itu, masuk dalam ruangan tengah nampak sosok sang istri tengah tergeletak tanpa teman disisi lain memberikan pertolongan untuk sikembar.


"Bangunlah sayang, aku mohon" kata kata Erik dengan isak tangis tertahan. "Bukankah ingin membesarkan mereka bersama, ataukah kamu sengaja" Erik kembali menangis dalam percakapan dengan wajah pucat nampak tak bernyawa itu, semua alat telah rapi disampingnya.

__ADS_1


"Sayang jangan lakukan itu, Aku mohon aku bisa gila" Erik mengatakan dengan air mata telah menetes membasahi wajah istrinya yang tengah diam tanpa reaksi "sayang aku menunggumu kembali tidak aku mereka juga butuh kamu" Erik kembali mengiba dan air mata lagi lagi jatuh disembarang muka sang istri karena ulahnya yang memohon dengan kecupan yang menandakan ketidak relaan.


__ADS_2