
"Tapi Mama lebih aman jika kamu menikah dengan Frans kelak...."
"Frans? Siapa Frans?"
"Anak Oom Hendarto. Dia cakep, kamu pasti suka."
"Cakep kok mau di jodohin? Lagian Mama ini aneh, sekarang tuh sudah bukan zamannya lagi main jodoh-jodohin, Ma. Sekarang...."
"Mama sudah bilang, susah nyari lelaki yang baik, makanya Mama...."
"Enggak! Tiara enggak bisa terima! Lagi pula Tiara sudah punya pacar!" teriak Tiara kecewa, lalu ia berlari ke pintu depan, dan berusaha membukanya.
"Tiara mau ke mana kamu?" Mama menahannya.
Tapi Tiara tidak peduli, dia meleset keluar.
"Tiaaaa!" Teriak Mama panik. "Kembali kamu!" panggilan memohon. Tapi Tiara tidak mau mendengar, dia berlari ke jalan, menyetop taksi yang lewat, dan kembali ke diskotik yang tadi. Dia yakin Anya dan si keren Danial masih di sana. Mereka tadi memang sempat bilang kalau mereka baru akan pulang jam dua nanti.
Benar, Danial Anya masih di sana, mereka masih duduk berdua, entah apa yang mereka tunggu.
"Tia...." desis Anya kaget dan tidak percaya.
"Aku diomelin Mama, " adu Tiara. "Makanya aku kembali. Aku nggak mau pulang ke rumah."
Danial terseyum. "Sudahlah, nggak usah sedih. Rumahku besar, dan siap nampung kamu."
__ADS_1
Tiara menuju kursi di dekat Danial ketika cowok itu meraih tangannya.
"Tapi aku nginep di rumah kamu saja ya?"
Tiara memandang Anya.
"Ng... gimana ya? Soalnya aku sendiri belum tentu tidur di rumah, " jawab Anya.
"Memangnya kamu mau tidur dimana?"
Anya terseyum tanpa menjawab.
"Anya..."
"Tergantung yang ngajak, dong, " kata Anya akhirnya.
"Aku tinggal dulu ya?" ucap Anya pada Tiara. "Dan tolong jaga Tia, " pesannya pada Danial.
Aneh siapa sebenernya Anya? Kenapa dia harus pergi dengan lelaki sebaya ayahnya itu?
Ah, mungkinkah Anya...? Tiara tidak berani berpikiran buruk tentang Anya, tapi jika dia bukan gadis penghibur, kenapa dia... ah, entahlah!
"Sebentar, ya," Danial meninggalkannya sebentar, dan tidak lama kemudian ia kembali dengan segelas minuman yang entah apa namanya, Tiara sendiri tidak pernah kenal.
"Kamu keliatan sedih, " ucap Danial.
__ADS_1
"Nggak cuma sedih, tapi juga bingung, "
jawab Tiara dengan pikiran yang kian kacau.
"Kalau begitu, minumlah ini, " Danial menyorongkan gelasnya ke bibir Tiara.
"Minuman apa ini?" tanya Tiara tidak berani menenguknya sedikit pun.
"Minuman saja, rasanya enak, hati kamu juga akan ikut enak nantinya, " bujuk Danial.
"Aku akan mabuk, kan? Nggak ah, " gelang Tiara. "Aku takut. Aku nggak berani. "
"Nggak apa-apa kok. Masa sih kamu nggak percaya aku? Enggak mungkin dong aku nyelakain kamu. Malah kalau ada seseorang yang tega-teganya nyelakain kamu, aku yang menghadapi dia. "
"Masa sih?"
"Nggak percaya, ya?"
"Percaya, kamu emang baik kok. Tapi meski begitu, aku tetep nggak berani minum-minuman keras seperti itu. "
"Tapi yang ini benar-benar nggak apa-apa.
Nih deh aku coba dulu, ya?" Danial meneguknya. "Tu, kan? Aku nggak apa-apa. "
"Terang aja, kamu kan udah biasa minum yang kayak gitu. "
__ADS_1
"Ya udah deh, kalau nggak percaya. Aku pulang dulu, kamu juga pulang aja. Kamu jangan percaya aku, jangan mau aku temani, kau kan nggak tau siapa aku. Siapa tau aku penjahat, mencuri, atau pengedar obat-obatan terlarang..."