
Ah, entah bagaimana irinya sarah, irma dan Nia, jika Tiara memperkenalkan Danial pada mereka sebagai kekasihnya. Di kampus Tiara, tidak banyak cowok sekeren ini. Dan tidak banyak yang Tiara kenal dengan baik.
Belum lagi mereka ngobrol, seorang cowok yang tidak kalah keren dengan Danial tiba-tiba muncul. Dia tersenyum manis pada Ersa, bicara sebentar dengan Ersa lalu mengajak gadis itu keluar.
"Tingal dulu ya?" kata Ersa pada mereka
"Mau ke mana, Er?" tanya Tiara
Ersa cuman tersenyum, lalu bergegas pergi, bahkan tidak memperkenalkan cowok itu pada Tiara.
Ah, pantas saja Esa dan Anya sering ke tempat ini, ternyata tempat ini benar-benar menyenangkan, selain ramai, juga banyak cowok-cowok cakep.
"Kemana sih Ersa?" tanya Tiara pada Anya.
Anya cuman angkat bahu.
__ADS_1
"Kok gitu? Dia ke sininya kan bareng kita, berarti pulangnya bareng juga, dong. Atau dia mau balik lagi?"
"Sudahlah, ngapain sih mikirin Ersa, " sergah Danial. "Kan ada aku, aku yang temani kamu di sini sampai jam berapa pun kamu mau, dan aku juga yang akan mengatarkan kamu pulang," Danial tersenyum manis.
Duh Tiara benar-benar terpesona oleh senyum itu, tapi tiba-tiba saja wajah Mama hadir dalam benaknya, dan dia mendadak tidak enak. Mama tahunya Tiara pergi dengan Ersa. maka pulangnya juga harus dengan Ersa juga. Jika tidak, apalagi di antara cowok gondrong ini, Mama bakalan berang. Tapi... Ah, seperti sempat ia pikirkan tadi, untuk cowok sekeren Danial, Tiara harus berani berkorban, juga harus berhadapan dengan wajah perang Mama.
"Nggak apa-apa kan aku temani?" ucap
Danial lagi.
"Ng... he-em, " angguk Tiara akhirnya.
Tiara senyum.
Dan malam itu, benar-benar merupakan malam terindah untuk Tiara. Dia bahagia bersama Danial. juga tidak ia tolak ketika Danial mengajaknya jojing mengikuti hentakan musik. Juga berdansa saat musik mengalun lembut. Tiara benar-benar merasa seperti mimpi. Dan ia juga tidak menolak ketika Danial mengatarkannya pulang.
__ADS_1
"Tapi kamu jangan mampir, ya? Soalnya sudah tengah malam, sudah hampir jam dua belas malam, " kata Tiara ketika Danial menghentikan mobilnya di depan rumah Tiara.
"Iya, deh. Tapi lain kali aku boleh kan ke sini?"
Tiara mengangguk. lalu di bukanya pintu mobil itu sebelum Danial turun untuk membukakannya. Tapi sebelum ia melompat, Danial menyentuh bahunya.
"Tia..., " panggil Danial lembut.
Tiara menoleh." Apa?"
Danial diam tapi, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Tiara. Tiara kaget, ia ingin mundur dan menghindar, tapi sisi hatinya yang lain melarangnya. Dia tahu maksud Danial. Dia tahu Danial pasti akan menciumnya, dan dia sama sekali tidak ingin menghindar. Terus terang, Tiara bahkan sangat menginginkannya. Tapi apa ridak terlalu cepat? Bisik harinya yang lain. Mereka baru saja kenal. Dan Danial bukan apa-apanya, apalagi pacar, kenal aja barusan. Tiara merasa ia perlu menolak, sekedar menjaga gengsi agar tidak terlalu dianggap murah dan tidak di remehkan, tapi...
Tapi Danial sudah berhasil menyentuh lembut pipinya.
Tiara menikmati ciuman itu, ia lupa kalau mereka baru saja kenal. Dan meski ia ingat, ia tidak peduli. Ia menyukai Danial.
__ADS_1
Danial tidak hanya mencium sekilas bibir Tiara, tapi mengucapkan mesra, dan memagutnya penuh gairah. Ia begitu bernafsu melumat bibir Tiara yang merah dan sedikit gemetar.
Perlahan, tangan Tiara terangkat, lalu menyentuh bahu Danial dan memeluk tubuh kekarnya. Bahkan Tiara merapatkan tubuhnya ke tubuh Danial hingga ke duanya begitu erat saling memeluk dan saling merapat satu sama lain.