
Mereka meluncur ke tempat Callista terakhir kali para bodyguard sudah berdiri banyak mengamankan tempat tersebut karena para pewaris Grub Burk tersebut hendak menuju ke hotel milik mereka.
"Silahkan Tuan, Nona!"
"Kak," Leonore berusaha menenangkan Willy yang tergesa-gesa masuk kedalam, mereka tiba di salah satu ruangan yang cukup besar sebuah layar lebar sudah siap menampilkan sesuatu yang menarik Rayan memberikan perintah kepada anak buahnya dan terlihat dimana Callista keluar dari ruangan yang hanya bisa dihuni oleh kalangan atas aja.
"Callista," lirih Willy.
Willy melihat kekasihnya itu keluar sambil memeluk tubuh rampingnya lalu menghilang di balik pintu gerbang hotel tersebut.
"Apa yang terjadi, Kak?" tanya Leonore.
"Sepertinya Callista mengalami hal yang buruk Leonore lihatlah bagaimana dia keluar dari ruangan tersebut terlihat penuh tanda tanya,"
"Callista menangis lihatlah Kak!"
Hati Willy merasa sakit melihat kekasihnya itu terlihat sangat memperihatinkan.
"Tuan lihat, 'lah," tunjuk Rayan.
"Siapa pria itu Rayan?"
Wajah Willy mengeras melihat pria yang keluar tidak ada rasa bersalah sedikitpun membuat hati Willy panas.
"Maaf Tuan muda pria ini tidak ada dalam daftar masuk ke hotel dan sepertinya seseorang telah bermain di balik pertemuan ini Tuan muda," ucap Rayan bersalah.
__ADS_1
"Apa?" Willy benar-benar marah dan mengobrak-abrik isi ruangan tersebut.
"Kak tenang jangan seperti ini," ucap Leonore menahan tubuh kekar Willy.
"Maafkan saya Tuan," ucap Rayan menunduk.
"Pecat semua yang dinas malam itu Rayan dan beri mereka pelajaran!"
Kedua bola mata Leonore terbelalak mendengar perkataan Willy barusan baginya ini pertama kali dia melihat sifat asli saudara kembarnya itu.
"Baik Tuan."
Willy terus memutar rekaman tersebut namun tidak mendapatkan jawaban justru hati Willy semakin sakit melihat Callista menangis sambil memeluk tubuhnya.
"Callista kembalilah kau ada di mana dan sedang apa," ucapnya lirih sambil melihat foto Callista di ponsel miliknya ketika mereka berada puncak.
Leonore sakit melihat Willy seperti ini sebagai adik, Leonore merasa tidak berguna membantu Willy yang saat ini benar-benar kacau.
"Maafkan Leonore Kak tidak bisa membantu, Callista kau ada di mana? kembalilah kau jahat pergi begitu saja aku membencimu perkataan yang kau ucapkan kemarin bohong, kau tidak mencintai Kak Willy, kau egois Callista."
Tiga bulan berlalu pasca hilangnya Callista lebih tepatnya lagi pergi meninggalkan Willy, kampus, rumah, dan semua sahabatnya. Willy telah banyak berubah diam di kamar dan menghabiskan waktunya belajar dengan giat.
Pintu kamar terbuka menampilkan sosok wanita yang sudah lanjut usia namun masih terlihat cantik sekali.
"Willy!" panggilnya lembut.
__ADS_1
"Mommy," Willy menutup semua bukunya lalu beranjak menghampiri Letizia.
"Apa Mommy mengganggumu?"
"Tidak, ada apa, Mommy?" tanya Willy. Letizia mengusap kepala putranya tampannya itu lalu tersenyum.
"Hanya melihat kamu saja Nak Mommy kangen sama Putra kecilku ini yang sudah dewasa," wajah Willy merah dan menuju ke balkon.
"Mommy,"
"Ada apa, Nak?"
"Apa Mommy percaya Cinta sejati?" Letizia mengeryitkan dahinya sambil menatap lekat Putranya.
"Aku sudah tidak membutuhkan itu lagi Mommy." Willy tersenyum wajahnya terlihat miris jika di pandang.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
__ADS_1
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗