
Darwin dan anak buah Rayan masuk ke dalam rumah tersebut begitu hati-hati sekali sedangkan Willy, merasa tidak berguna menunggu di dalam mobil mewahnya dan berharap Callista baik-baik saja di dalam sana. Darwin dan lainnya sudah berhasil masuk dan mencari tahu siapa yang berani mencuri Callista, dia dan putranya di tengah malam.
Suara wanita paruh baya terdengar sedang merendahkan seseorang di dalam sana bahkan jeritan terdengar.
"Tuan Darwin lakukan sekarang!" ucap pengawal Rayan.
"Kalian lindungi aku," ucap Darwin.
"Baik Tuan bersiaplah." Para pengawal langsung melindungi Darwin dari belakang yang sudah bersiap masuk ke dalam namun dalam sekejap hanya Callista yang ada di dalam ruangan dan tidak ada orang selain Callista.
"Callista!" Darwin kaget dan langsung berteriak melihat Callista sudah tidak bisa diartikan pakaiannya bahkan sudah acak-acakan dan memar di wajahnya menunjukkan ia baru saja diperlakukan tidak baik.
"Kak Darwin ...," lirih Callista lalu tidak sadarkan diri lagi.
Willy yang mendapatkan informasi keadaan Callista yang tidak baik langsung masuk ke dalam meraih tubuh lemah Callista sambil memohon agar ia tidak meninggalkannya untuk kedua kalinya.
"Sayang jangan pergi lagi kumohon jangan tinggalkan aku," ucap Willy sambil memeluk Callista. Willy langsung membawa Callista menuju ke rumah sakit di mana Rena juga dirawat di sana sedangkan Rayan yang menyetirnya langsung melajukan mobil Willy.
Callista yang saat ini berada di pangkuan Willy samar-samar melihat wajah pria yang ia rindukan selama ini, senyum kecil terlihat di bibir tipis Callista sambil mengucapkan nama Willy dalam hatinya selalu kesadarannya hilang.
"Callista bangun jangan tinggalkan aku." Willy terus menepuk pipi Callista namun kesadarannya tidak kembali. Tiba di rumah sakit, Willy langsung membawa Callista menuju ke dalam dokter langsung memeriksa Callista dan menemukan banyak tanda merah dan biru di sekujur tubuh langsingnya.
"Dokter, sepertinya ini kasus besar pasien mengalami yang tidak pantas," ucap suster sambil menyuntikan obat ke infus Callista.
"Tapi Nona ini masih bisa melindungi mahkotanya suster aku salut melihatnya." Dokter dan suster tersebut memutuskan menemui Willy setelah mengobati Callista. Pintu terbuka Willy langsung menghampiri dokter dan suster tersebut.
"Bagaimana keadaan Callista, dokter?" tanya Willy cemas.
"Bisa kita bicara ke ruangan Tuan Willy?" jawab sang dokter.
"Baik dokter." Willy mengikuti langkah dokter tersebut menuju ke ruangannya dan mereka duduk berhadapan ruangan tersebut langsung seketika dingin.
"Tuan, maaf saya harus mengatakan bahwa saat ini Nona Callista telah mengalami." Dokter wanita tersebut menceritakan semua bahwa seluruh tubuh Callista setelah mengalami banyak tanda merah dan biru. Lalu dokter menceritakan kembali yang dialami Callista saat ini merupakan sudah melebihi batasan.
__ADS_1
"Tanda seperti ini merupakan biasanya wanita melindungi mahkotanya Tuan muda dan Nona berhasil melindunginya," ucap dokter tersebut lagi.
Wajah Willy berubah dingin kedua bola matanya memerah mendengar penjelasan dokter dan bisa dibayangkan saat ini Willy bahkan tidak berani menyentuh Callista namun, oknum yang tidak bertanggungjawab telah berbuat tidak baik kepada kekasihnya tersebut Willy langsung keluar dari ruangan tidak berkata sepatah kata kepada dokter.
Darwin yang sudah gagal melindungi Callista terdiam di bangku kosong dan tidak menyangka Callista bisa mengalami hal tersebut. Willy melihat Darwin langsung memberikan hadiah ke mulut Darwin.
"Tuan muda," ucap Darwin kaget sambil mengusap bibir tipisnya yang sudah ada warna merah mengalir.
"Katakan siapa yang melakukan ini kepada Callista!" bentak Willy lagi sambil memberikan hadiah kedua kalinya kepada Darwin ke perutnya.
"Tuan Willy tunggu," ucap Darwin sambil menahan sakit di bibir dan perutnya.
"Katakan!" bentak Willy.
"Seorang wanita paruh baya dan pria tua ... aku hanya melihat wanita itu tapi pria tidak dia langsung hilang ketika kami ketahuan,"ucap Darwin.
"Siapa wanita itu?" tanya Willy yang semakin menakutkan.
"Ibu Callista," jawab Darwin.
Rayan yang sudah kembali dari tugasnya langsung menghampiri Willy yang terus menatap Callista yang terbaring lemah.
"Tuan muda. Ibu Nona Callista sudah saya amankan," ucap sekretaris Rayan sambil menunduk hormat.
"Satu lagi?" tanya Willy tidak mau menyebut nama pria yang sudah melakukan ini kepada Callista.
"Maaf, Tuan dia lolos," jawab sekretaris Rayan merasa bersalah dan semakin menunduk. Willy memejamkan kedua bola mata abunya kedua tangannya bahkan sudah terkepal begitu kuat sampai menampilkan uratnya.
"Paman jika Callista sudah sadar bahwa dia ke puncak!"
"Baik Tuan muda." Sekretaris Rayan langsung meraih ponselnya menghubungi penjaga puncak agar tempat disterilkan. Willy menyuruh anak buahnya menjaga ketat Callista sedangkan Darwin yang memimpin menjaga Callista lalu Willy pergi menuju ke suatu tempat membersihkan sampah yang seharusnya tidak ada di dunia ini.
Sekretaris Rayan begitu setia mendampingi mereka menuju rumah tua yang terletak pinggir hutan semua para penjaga rumah langsung menunduk hormat kepadanya.
__ADS_1
"Selamat malam Tuan muda," ucap mereka bersamaan sambil menunduk hormat.
"Kembali bekerja!" balas Rayan.
"Baik Tuan." Mereka semua kembali ke pos masing-masing. Willy dan Rayan masuk ke dalam dan melihat wanita paruh baya yang sudah berumur namun masih cantik dan awet muda. Ya tentu perawatan selama ini membuatnya menjadi cantik dari hasil uang yang tidak jelas asal-usulnya.
"Siapa kau, lepaskan saya!" teriaknya. Willy berjongkok lalu menatap sinis kepada wanita tersebut.
"Wanita sepertimu seharusnya tidak ada di dunia ini tega ... Ibu mana memberikan putrinya kepada pria yang sudah berumur," ucap Willy geram.
"Siapa kau?" tanya Kanita. Ya wanita itu adalah wanita Ibu tiri Callista yang selama ini mencari putrinya karena pergi meninggalkan Hotel pada saat itu dan selama satu tahun ini Kanita telah berusaha mencarinya agar uang terus mengalir ke dompetnya namun semua kacau ketika Darwin dan anak buah melihat mereka dan tertangkap oleh Rayan ketika hendak melarikan diri.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Sungguh miris melihat kehidupan anda hanya bisa menikmati barang mewah rela memberikan kedua putrinya kepada pria kaya," ucap Willy sambil duduk disalah satu bangku yang sudah disediakan.
"Kau-"
"Kau sudah membangunkan harimau dari tidurnya selama ini wanita bangka!" bentak Willy.
"Dari mana kau tahu?" tanya Kanita.
"Dina putrimu, bukan?" tanya Willy dingin. Kanita menunduk lidahnya seperti sulit mengucapkan sesuatu.
"Akan aku jadikan dia wanita sebenarnya dan kau akan menyaksikan sendiri bagaimana Ibu melihat putrinya terjun ke dunia yang kau lakukan kepada Callista," ucap Willy sambil beranjak dari duduknya.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
__ADS_1
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗