Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Pergilah jika itu yang kau mau


__ADS_3

Keluarga besar Johan Burk sibukkan dengan segala aktivitas mereka masing-masing terlebih lagi dengan Willy yang saat ini sudah terlihat begitu sibuk dengan mata kuliahnya yang sebentar lagi wisuda apa lagi di tambah dengan magang pelatihan yang dia pelajari bersama Rayan sebelum menuju ke Swiss. Seketika Willy sejenak melupakan Callista dan fokus ke dirinya.


"Bang, Kak Baron mana?" tanya Rahadian ketika mereka sudah memasuki parkiran kampus.


"Kau hubungi dia!"


Sebelum Rahadian mengunjungi, Baron sudah terlihat di ujung gerbang parkiran sedang berusaha menahan wanita cantik, tinggi, langsing. Willy dan Rahadian tercengang melihat Baron.


"Bang, Kak Baron apa aku salah lihat?" tanya Rahadian polos. Willy seketika dingin dan teringat dengan Callista namun langsung berusaha tenang di hadapan Rahadian.


"Aku tidak peduli kau mau masuk apa tidak?" Rahadian tidak mendengar perkataan Willy fokus ke Baron masih berusaha merayu wanita tersebut.


Willy langsung meninggalkan Rahadian begitu saja melajukan kendaraan mewahnya ke jalan raya tanpa memperdulikan makian pengendara lain.


"Tetap tenang Willy jangan bawa suasana hatimu fokus pada dirimu."


Willy terus membawa mobil mewahnya namun dadanya merasa tiba-tiba sesak. Mobil mewah dia bawa menuju ke pantai yang tidak jauh dari jalan raya. Willy meraih cepat obat sebanyak tiga butir dan langsung di telan begitu saja bersama dengan air mineral.


Keringat begitu banyak bercucuran membasahi wajah tampan Willy, tubuh kekarnya bahkan sudah membasahi kemeja biru dongker miliknya. Willy berusaha menenangkan dada bidangnya agar tidak memengaruhi pernapasan ya. Hal yang pertama tiap kali Willy mengalami hanya Callista yang dia ingat.


"Kau menyakiti hatiku Callista."

__ADS_1


Suara Willy bahkan terdengar pelan dan hampir tidak bisa di dengar siapapun jika ada di sampingnya, secara perlahan Willy memejamkan ke dua bola mata abunya.


Baron berdecak kesal dengan tingkah Emma yang secara tiba-tiba berubah dingin dan tidak mau bicara dengannya yang sudah menjadi kekasinya selama satu tahun ini.


"Emma tunggu!"


"Lepaskan Baron kau menyakitiku," tangan halus Emma menepis tangan kekar Baron yang menyentuh lengannya.


"Ada apa denganmu. Kenapa tidak mau angkat teleponku?"


"Setelah aku pikir dalam-dalam aku sudah tidak Cinta lagi sama kau Baron kita putus!"


"Apa?"


"Tidak akan pernah," kedua bola mata Baron melotot tajam membuat Emma sedikit ketakutan.


"Apa hak kau Baron, aku sudah bosan samamu mari kita sudahi hubungan kekanak-kanakan ini!"


Wajah Baron semakin mengeras mendengar perkataan Emma yang begitu sangat menyakitkan dan menusuk tanpa berkata apapun Baron menyeret Emma masuk kedalam mobil mewahnya.


"Lepaskan Baron sakit!"

__ADS_1


Baron tidak memperdulikan teriakan Emma dan membawanya ke sebuah tempat di mana itu adalah puncak tempat Callista dan Willy merayakan anniversary ke tiga mereka saat itu.


"Keluar!"


"Ya Tuhan tempat apa ini kenapa begitu menyeramkan." Emma bergidik ngeri memperhatikan sekitarnya yang terlihat seperti begitu menyeramkan tidak ada tanda-tanda kehidupan semua layu.


"Baron aku mau balik," ucapnya pelan.


"Tempat ini adalah kenangan terakhir Willy dan Callista. Aku Willy dan Rahadian tidak bisa dipisahkan yang dialami Willy, aku akan menyamakannya denganmu. Tempat ini sudah tidak berwarna lagi, jika kau mau pergi meninggalkanku kau sama halnya dengan Callista, pergilah jika itu yang kau mau."


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen


\=> Share ke tiap Grup chat

__ADS_1


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2