Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Buah tidak jauh dari pohonnya


__ADS_3

Willy terus belajar dengan giat dan ingin cepat kembali ke tanah air untuk menemui Callista yang terus terbayang-bayang di benaknya. Hati Willy sudah begitu merindukan belahan jiwanya itu yang tidak pernah lagi dia sentuh apalagi dengan laporan Rayan tiap hari membuatnya meronta.


Willy telah dalam sekejap mengabaikan Rahadian dan Baron, memilih diam dan sendiri fokus pada tujuannya apalagi Baron saat ini telah banyak berubah semenjak mengenal Dita.


"Bang!" panggil Rahadian dengan wajah yang memelas.


"Kenapa?" jawab Willy datar.


"Persaudaraan kita sepertinya telah pudar," ucapnya.


"Baron?"


"Iya Bang. Baron banyak berubah,"


"Biarkan, dia jatuh Cinta untuk kedua kalinya Rahadian," jawab Willy tenang dan fokus ke bukunya.


"Tapi Dita sudah keterlaluan Bang masa Baron mau menuruti semua keinginannya,"


"Kau tahu Rahadian mereka sepasang kekasih sudahlah kau urusi saja hidupmu raih impianmu dulu baru temuin lagi kekasihmu itu," canda Willy.


"Abang juga." Mereka berdua tertawa kecil dan kembali belajar keras meraih impian mereka menjadi seorang CEO yang terbaik.


Baron telah mengabaikan kedua saudaranya itu karena dalam pengaruh Dita, mereka berdua telah melakukan hal-hal yang tidak baik sudah seperti layaknya Suami, Istri. Sekarang apa yang dikatakan oleh pepatah itu benar buah tidak jauh dari pohonnya seperti itulah cocok dengan Baron saat ini.

__ADS_1


"Ini hadiahmu aku pergi ya, Sayang," ucap Baron sambil mengusap kepala Dita lalu keluar begitu tenang dari asrama Putri. Dita begitu senang sekali dia cium uang itu yang begitu banyak di tangannya sampai tidak muat.


"Huh Kenapa tidak dari dulu aku mengenalnya mungkin aku tidak akan capek melayani si Tua bangka itu," ucap Dita sambil memeluk uang asing tersebut.


Baron masuk kedalam kamar asramanya dengan wajah yang bahagia dan sesekali bersiul. Willy dan Rahadian yang tidak menggubris kedatangan Baron dan fokus kepada diri masing-masing.


"Kalian kenapa?" tanya Baron sambil duduk.


"Tidak kenapa Bang hanya lagi fokus belajar," jawab Rahadian datar.


"Aku capek ingin beristirahat dulu," ucapnya sambil beranjak dan merebahkan tubuh kekarnya yang baru saja menguras tenaga bersama dengan Dita.


Willy kembali menatap layar ponselnya dan melihat kegiatan Callista dan kembali bersama pria dan seorang anak kecil dan begitu dekat dengan kekasihnya tersebut.


"Paman Rayan cari tahu hubungan mereka!"


"Callista jangan katakan kau memiliki hubungan dengan pria ini dan kalian-"


"Tidak mungkin, sampai kapanpun aku tidak akan terima Callista." Willy begitu kecewa sekali melihat Callista begitu bahagia sekali dengan pria asing dan bersama dengan seorang anak kecil.


Callista telah membuang perasaannya selama ini dan menutup hatinya rapat apalagi beban hatinya yang diselimuti penuh ketakutan akan perbuatan Ibu Kanita kepadanya bahkan, sampai ke luar kota Callista terus dikejar agar kembali namun sosok pria yang sudah mempunyai seorang anak menolongnya bersama dengan si Mbok. Awalnya Callista dan Mbok tidak percaya dengan pria tersebut namun dengan tulus pria tersebut menolong mereka dengan jaminan buah hatinya.


"Mami!"

__ADS_1


Suara anak kecil telah memanggil namanya Callista langsung merentangkan kedua tangannya menciumi kedua pipi gembul anak tersebut.


"Geli Mami," ucapnya sambil menahan wajah cantik Callista.


"Mami belum puas Sayang,"


"Mami pipi Jefri merah," ucapnya.


"Merah tanda Cinta Sayang,"


"Mami Cinta Jefri," ucapnya berbinar.


"Ya."


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen

__ADS_1


\=> Share ke tiap Grup chat


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2