Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Melakukan kesalahan


__ADS_3

Willy hanya bisa menatap bus yang sudah mulai hilang dari hadapannya, perasaan yang begitu berpacu membuat Willy tidak tenang kepergian Callista kali ini namun, Willy percaya Callista akan baik-baik saja di sana. Willy sedikit tersenyum kecil kembali menuju mobil mewahnya disana, Rayan setia menungguinya.


"Tuan muda. Para bodyguard sudah saya tempatkan sesuai perintah anda untuk menjaga Nona Callista," ucap sekretaris Rayan begitu hormat sekali.


"Terima kasih Paman. Oh ya bagaimana keadaan Resa, Paman?" tanya Willy sambil melihat ponselnya memastikan Callista dalam keadaan baik-baik saja.


"Nona Resa hari ini sudah boleh pulang Tuan muda," jawab sekretaris Rayan sambil fokus menyetir.


"Baguslah, Baron?" tanya Willy sambil mematikan ponselnya.


"Tuan Baron saat ini sedang mengalami." Rayan menceritakan semuanya Wily terkekeh akhirnya semuanya telah terungkap.


kediaman Baron, membalikkan seluruh isi kamar pribadinya karena kesal dan jijik pada dirinya sendiri mengetahui fakta soal Dina yang ternyata bukan wanita baik-baik yang hanya memanfaatkan isi dompetnya saja.


"Dina sialan kau," teriak Baron kuat suara pecahan terdengar begitu kuat di ruangan yang luas tersebut.


Prang


Brian dan Yana selaku kedua orang tua Baron kaget mendengar suara pecahan diatas lalu mereka langsung menuju kamar Putra semata wayang mereka.


"Baron?!" ucap Brian kaget sama halnya juga dengan Yana melihat pecahan sudah di mana-mana.


"Apa yang terjadi, Baron?" tanya Yana sambil mendekati putranya yang sudah duduk di lantai sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Baron, kau tidak mendengarkan, Papi?" suara Brian memenuhi ruangan kamar Baron.


"Sayang hentikan! biar aku yang bicara dengannya," ucap Yana sambil menatap Brian sedikit tajam. Brian seketika menciut bila Yana sang istrinya sudah seperti ini apa boleh buat sebagai suami, Brian mengalah dan keluar menuju ruang kerjanya.


Yana menatap kembali Putra semata wayangnya itu terdengar suara isakan kecil sebagai pria, Baron ternyata sedikit cengeng juga.


"Baron, ada apa Sayang kau mau bercerita dengan Mami, 'kan?" ucap Yana lembut sambil mengusap kepala Baron pelan.

__ADS_1


"Mami Baron ... Baron salah ternyata selama ini aku telah dibohongi seorang wanita ular," ucap Baron gugup.


"Apa yang kau lakukan dengannya dan apa yang terjadi dengan kalian berdua?" tanya Yana menatap lekat Baron. Jantung Yana mulai berdegup kencang takut akan Baron telah melakukan kesalahan yang begitu fatal.


"Mami ... aku melakukan kesalahan. Kesalahan yang tidak seharusnya aku lakukan kami ... telah melakukan hubungan-"


"Layaknya Suami, Istri," potong Yana cepat. Baron menunduk takut Yana akan marah kepadanya dan langsung memohon bersimpuh di kaki Yana.


"Sejak kapan. Katakan!" suara Yana mulai naik tidak selembut tadi.


"Swiss. Awal pelatihan di Swiss Mami," jawab Baron dan tidak berani menatap wajah Yana yang sudah menegang. Apa yang telah dilakukan Brian masa lalu ternyata Baron juga mengalaminya terlebih lagi, saat ini Baron masih berusia muda dan sudah melakukan hal yang terlarang.


"Mami Baron mengaku salah wanita itu yang menjebak Baron dan dia ... dia memanfaatkan Baron selama ini," ucap Baron menatap Yana yang tiba-tiba tidak bergeming sama sekali.


"Mami kecewa denganmu Baron. Kau ... kau telah membuat luka di hati Mami kembali." Yana menitikan air matanya apa yang dikawatirkan telah terjadi kepada Putra semata wayangnya. Yana teringat langsung masa lalu Brian terlintas di benaknya dan itu membuat tubuhnya bergetar.


"Mami, kenapa?!" tanya Baron panik tiba-tiba karena kesadaran Yana hilang.


"Sayang, Mami!" ucap Baron dan Bryan bersamaan. Yana melihat kedua pria yang dia cintai itu secara perlahan air matanya membasahi pipi mulusnya.


"Sayang kau baik-baik saja katakan mana yang sakit?" tanya Brian cemas karena Yana tidak menjawabnya.


"Mami Baron minta maaf ...," lirihnya sambil mengatubkan kedua tangannya di dadanya memohon ampun kepada Yana.


"Sayang, maafkan Putra kita dia sudah jujur kepadaku. Sayang maaf ini kesalahanku dulu," ucap Brian pelan.


"Bagaimana bisa kalian berdua melakukan ini. Jika seperti ini aku bisa cepat pergi selamanya," ucap Yana sambil menghempaskan pelan tangan Baron dan Brian yang telah menyentuhnya kembali.


"Tidak! Sayang jangan bicara seperti itu," ucap Brian begitu panik mendengar perkataan Yana untuk pertama kalinya dia berbicara seperti itu semenjak mereka menikah.


"Mami ini salah Baron," ucap Baron sudah bersimpuh kembali di lantai. Yana mencoba duduk sambil bersandar di tempat tidur menatap Baron yang benar-benar bersalah apa yang telah dia lakukannya. Manik mata Baron terlihat dia benar-benar telah sudah mengakui kesalahannya yang begitu fatal.

__ADS_1


"Sayang lihat Putra kita dia sudah menyesal maafkanlah dia," ucap Baron sambil mencium punggung tangan Yana lembut. Yana merasa begitu sakit melihat putranya yang seperti itu, tidak tega bagaimanapun putranya hanyalah korban dari wanita yang telah menjebaknya.


"Baron kemari!" ucap Yana sambil mengusap air matanya yang terus bercucuran membasahi kedua pipinya yang begitu mulus. Baron mengangkat wajahnya pelan melihat wanita yang dicintai itu begitu pucat sakit hatinya karena menyakiti hati Yana.


"Mami." Baron benar-benar menyesali apa yang sudah dilakukannya dulu bersama Dina di kampus fair Swiss.


"Mami bilang kemari!" suara Yana setengah berteriak karena Baron tidak kunjung beranjak dari tempatnya. Brian terkejut mendengar suara Yana pertama kali yang begitu menakutkan.


"Sayang tenanglah," ucap Brian sambil memegang tangan Yana. Baron secara perlahan mendekati tempat tidur kedua orang tuanya dengan wajah yang menunduk.


"Anak bodoh. Bagaimana bisa kau melakukan itu kau tahu, hanya kau harta yang Papi dan Mami miliki karena itu Mami tidak mau kau kenapa-napa dan kamu melakukannya itu," ucap Yana memeluk erat Baron sambil memukul punggung kekar putranya tersebut.


"Mami maafkan Baron," ucap Baron memeluk erat Yana dan menahan pukulan sang Mami yang begitu kuat sekali.


"Sudahlah sayang Baron sudah menyesal dan dia tidak akan melakukannya kembali. Baron ingat ini bukan kesalahan biasa tapi belajarlah dari kesalahanmu kali ini. Dan jangan ulangi lagi cintailah hanya satu orang di dunia ini jangan pernah menyia-nyiakan yang ada di depan mata," ucap Brian sambil mengusap kepala Baron pelan.


"Iya Papi Baron akan ingat nasehat yang kalian berikan kepadaku," jawab Baron.


Baron yang merasa bersalah. Apa yang dia lakukan dulu di Swiss merupakan hal yang seharusnya tidak pernah disentuhnya. Kamar yang sudah terlihat rapi, Baron membaringkan tubuh kekarnya dan menatap langit-langit kamarnya, sepintas Baron mengingat Emma yang telah meninggalkannya dulu tanpa ada kejelasan sedikitpun.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen


\=> Share ke tiap Grup chat

__ADS_1


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2