Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Ciuman pertamaku


__ADS_3

Suara tepukan tangan mengagetkan Callista melihat orang-orang yang ia sayangi ada di sini semua. Baron, Rahadian, Leonore, Tiur dan Yuliana tidak lupa kedua orang tua Willy juga ada di antara mereka.


"Putra kecilku ternyata sudah dewasa," ucap William.


"Daddy!"


"Selamat buat kalian berdua Sayang," Letizia mencium ke dua pipi Callista begitu lembut. Kedua orang tua Willy sudah lama merestui hubungan mereka dari dulu apa lagi Letizia menyelidiki keluarga Callista tidak ada yang buruk.


"Terimakasih Tante," Callista menunduk malu.


"Selamat buat kalian Abang, kami harus panggil apa sekarang kepada Callista. Aku ingat kalian berempat satu, dua dan tiga Kakak ipar."


Mereka tertawa melihat wajah Willy dan Callista yang melotot tidak percaya perkataan Baron barusan. Mereka makan malam di puncak tersebut tidak lain milik keluarga Burk, canda dan tawa menyinari kepada sepasang kekasih yang baru saja menjadi menjalani anniversary ke tiga mereka dan usia Callista saat ini menginjak sembilan belas tahun.


"Kakak ipar jangan diam saja mari bergabung!" ucap Leonore sambil tersenyum manis.


"Panggil Callista saja aku belom ada hubungan lanjutan dengan kakak kamu Leonore," jawab Callista menunduk malu.


"Bagaimana kalau kalian malam ini menikah saja," ceplos Baron.


"Hahaha!" mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat wajah Callista yang memerah sedangkan Willy tersenyum melihat wajah Callista yang terlihat menggemaskan.


Willy membawa Callista ke tempat yang sudah dia persiapkan khusus buat mereka berdua, rasa Cinta Willy kepada Callista sudah memantapkan hatinya kepada wanita yang di hadapannya ini. Umur yang terpaut satu hanya satu tahun itu, mereka berdua sesekali tersenyum hangat.


"Tutup mata kamu, sayang!"


"Kamu mau apa Willy?"


"Tutup saja aku ada sesuatu buat kamu."


Perasaan yang begitu gugup dan hatinya berdebar menunggu kejutan dari Willy sang pujaan hatinya itu.


"Buka, 'lah mata kamu, Sayang!"


Perlahan Callista membuka ke dua bola matanya dan terbelalak melihat Willy kembali memberikan kejutan kepadanya. Air mata kembali keluar sambil menutup mulutnya.


"Aku ingin di hari spesial kita ini menjadi spesial, Will you marry me Callista?"


"Will ini terlalu cepat buatku, lagian kita masih kuliah," ucapnya lirih.


"Aku hanya ingin mengikatmu saja Sayang, karena setelah kita wisuda nanti kau dan aku akan langsung menikah. Aku takut kamu akan pergi jauh dariku dan melupakan semua yang sudah kita lalui bersama," ucap Willy lembut.


Callista memeluk Willy begitu erat sekali, tidak tahu harus bagaimana ia membalas semua yang di berikan Willy merupakan sudah berlebihan, bagi ia selama ini belum pernah mendapatkan kasih Sayang seperti ini.


"Hei jangan menangis kau ini seperti bayi saja," ucap Willy terkekeh sambil mempererat pelukannya karena hal ini tidak mudah dia dapatkan.


"Aku tidak tahu harus membalaskan ini semua Will aku ... Aku merasa wanita yang,"


"Hei jangan katakan itu Sayang aku akan menagihnya nanti jika kita sudah di pelaminan," godanya.

__ADS_1


"Dasar!" wajah Callista memerah mendengar godaan Willy.


"Sayang," suara Willy terdengar serak sambil menatap wajah Callista lekat.


"I-iya ada apa Willy?" jantung Callista berdegup begitu kencang sekali nafasnya juga perlahan-lahan memburu.


"Bolehkah aku melanggar janji kita dua,"


"Lakukan, 'lah ini hadiahku untuk kamu Sayang anniversary ke tiga kita, terimakasih sudah mencintai wanita sepertiku."


Willy begitu terkejut karena Callista telah melakukan ciuman pertama untuk mereka berdua apalagi, kalimat yang ia ucapkan tadi begitu indah baginya tanpa mereka sadari Baron dan Rahadian mengabadikan momen tersebut.


Bagi Callista apa yang telah di berikan Willy kepadanya merupakan hal yang paling indah untuknya dan tidak bisa di balasnya dengan apapun oleh karena itu, Callista tidak mempermasalahkan soal ciuman pertamanya untuk pria yang mencintai ia apa adanya saat ini.


Makan malam telah usai, semua sudah meninggalkan puncak diam-diam membiarkan sepasang kekasih itu berduaan Letizia dan William sudah memberikan lampu hijau kepada putranya itu namun jangan sampai membuat hal malu William selalu menekankan itu kepada ke dua buah hatinya yang sudah mulai beranjak dewasa.


Callista dan Willy berkeliling menikmati malam yang dingin di puncak sesekali mereka berdua tersenyum.


"Kau kedinginan, Sayang?"


"Tidak Willy," ucapnya halus. Willy membuka jaketnya dan menaruh ke punggung Callista lalu Willy memeluknya dari belakang dan meletakkan wajahnya di leher jenjang kekasihnya itu.


"Willy!" Callista benar-benar terkejut apa yang di lakukan Willy kepadanya.


"Kumohon biarkan kita seperti ini sebentar saja, Sayang!"


"Tapi-"


Callista patuh walau sedikit risih dengan pelukan Willy kepadanya mereka berdua terdiam cukup lama sambil memandangi ke bawah begitu banyak lampu berwarna-warni yang indah.


"Indah sekali," ucap Callista tanpa di sadarinya.


"Kau menyukainya, Sayang?" Willy memperat pelukannya ke perut rata Callista.


"Iya Will sangat,"


"Lihat aku!"


Ke dua bola mata Callista terbelalak mendapat ciuman hangat yang datang secara tiba-tiba membuat tubuh langsingnya beku.


"Aku mencintaimu."


Willy mengusap bibir merah yang sudah candu baginya saat ini, sejenak mereka berdua sudah melupakan janji dulu tidak saling menyentuh namun malam janji itu sudah tidak berlaku lagi buat mereka berdua.


Mereka berdua kembali berpelukan begitu erat tidak mau melepaskan rasa rindu yang mereka tahan selama ini tidak menyentuh.


"Sayang!"


"Iya Will?"

__ADS_1


"Kenapa aku merasakan sesuatu hal yang buruk akan terjadi kepada kita berdua?" Callista berbalik dan menatap wajah tampan Willy lekat.


"Apa?"


"Aku merasa kau akan meninggalkan aku selamanya,"


"Tidak akan pernah Will, kamu adalah pria nomer satu di hatiku saat ini,"


"Aku tidak yakin?"


"Kalau tidak yakin aku tidak mungkin memberikan ciuman pertamaku kepada pria sepertimu," wajah Callista cemberut sambil memayunkan bibir merah alaminya.


"Hei kamu jelek sekali jika seperti itu, Sayang?" goda Willy.


"Aku mau pulang!"


Callista melepaskan pelukan Willy dari perut ratanya dan meninggalkannya begitu saja sedangkan Willy tertawa kecil melihat kekasihnya itu marah.


"Hei jangan marah, Sayang!"


"Aku mau pulang!"


"Kita akan menginap di sini,"


"Apa?"


"Hahaha lihat wajah kamu Sayang kenapa merah?" goda Willy lagi.


"Willy!" teriaknya.


Callista dan Willy sudah berada di dalam mobil mewah miliknya untuk mengantarkan pujaan hatinya itu kembali ke rumahnya sesekali Willy memperhatikan wajah pujaan hatinya itu yang menunduk malu dan memerah.


"Kenapa kamu menunduk, Sayang?" tanya Willy tangannya menggenggam tangan Callista namun pandangannya lurus ke depan.


"Tidak apa-apa Will," wajah Callista semakin panas dan merah karena Willy mencium punggung tangannya.


"Aku malu," ucapnya pelan.


"Kenapa malu? Aku sangat bahagia ternyata kamu pemain juga." Callista mencubit lengan Willy.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen

__ADS_1


\=> Share ke tiap Grup chat


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2