Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Menerima Callista


__ADS_3

Kanita tidak percaya Willy akan melakukan itu kepada Dina Putri semata wayangnya. Semenjak kepergian Willy, Rayan mendekati Kanita tatapannya tajam dan dingin. Ingin sebenarnya Rayan menghapus jejak Kanita detik ini juga mengingat perbuatannya yang tidak lazim namun Willy mengulur waktu.


"Kau sungguh beruntung Tuan muda tidak membuatmu menjadi potongan kertas," ucap Rayan sambil memainkan ponselnya.


"Siapa kalian? kenapa melakukan ini kepadaku apalagi aku tidak kenal kalian sama sekali," ucap Kanita histeris.


"Kau tidak perlu tahu siapa kami yang pastinya kau sudah mengusik kebahagiaan Tuan muda selama satu tahun ini dan sekarang terimalah hukumanmu bersama pria yang hendak beli Callista," ucap Rayan.


"Apa?"


"Nona Callista adalah calon istri masa depan Tuan muda Willy selama ini namun, kau menghancurkan kebahagiaan mereka dan ingat, putrimu Dina yang akan mendapatkan hadiah dari Tuan muda Willy," ucap Rayan sinis lalu pergi meninggalkan Kanita yang masih tercengang apa yang barusan didengarnya.


Pagi harinya Callista secara perlahan membuka kedua bola matanya seluruh ruangan terlihat berwarna putih secara perlahan pintu terbuka terlihat sosok pria blasteran masuk dari dihampirinya Callista.


"Callista bagaimana keadaanmu?" tanya Darwin.


"Jangan mendekat!" ucap Callista takut.


"Ini aku Darwin Callista," ucap Darwin lembut. Tubuh langsing Callista bergetar bahkan jelas terlihat Darwin.


"Callista ini aku Darwin dengar kau sudah aman," tambah Darwin sambil menenangkan Callista.


"Kak Darwin?"


"Iya ini aku Darwin Callista," ucapnya lagi.


"Aku sudah kotor Kak," ucap Callista menangis sambil memeluk tubuhnya yang sudah kelihatan membaik.


"Tidak Callista kau tidak kotor tenanglah aku disini menjagamu." Darwin mendekati Callista.


"Aku benci pada tubuhku Kak aku ... aku gagal melindunginya." Callista histeris lalu ingin melukai dirinya sendiri namun, untung Darwin cepat menahan kedua tangan Callista karena hampir saja mencakar wajahnya.


"Jangan lakukan itu, kau menyakiti dirimu sendiri Callista," ucap Darwin sambil menahan kedua tangan Callista masih memberontak.


"Aku kotor Kak aku tidak pantas lagi bersama Willy," ucap Callista tanpa sadar menyebut nama Willy di hadapan Darwin.


Seketika Darwin berubah menjadi dingin namun pandangannya tertuju di balik pintu ternyata sosok pria yang diucapkan Callista sudah berdiri dengan tampang begitu tidak bisa diartikan lagi mendengar semua perkataan Callista.


Dokter dan suster masuk dan langsung memberikan obat kepada Callista agar tenang lalu Darwin keluar menghampiri Willy dengan tatapan begitu bersalah.


"Tuan, kau mendengar semuanya?" tanya Darwin pelan sambil melihat sesekali wajah Willy yang dingin.


"Kau tahu kemarin aku sudah tahu kebenarannya Darwin kau sendiri yang mengatakannya."

__ADS_1


"Apa kapan?!" tanya Darwin kaget.


"Aku malas berdebat denganmu minggir aku mau masuk ke dalam!" sambil berjalan kekamar Callista yaitu mereka sudah berada di puncak atas perintah Willy.


"Tunggu!" ucap Darwin. Langkah Willy terhenti lalu berbalik menatap Darwin dingin.


"Kau mau mendengar ceritaku, Tuan muda?"


Kini Darwin dan Willy telah berada di taman puncak tempat dia dan Callista merayakan dulu anniversary ke-3 mereka. Hati Willy sakit membayangkan momen indah tersebut yang pertama kali untuknya berani menyentuh Callista walau hanya sebatas sentuhan biasa.


"Apa aku boleh memanggilmu Willy sepertinya umur kita hampir sama," ucap Darwin.


"Katakan saja apa yang ingin kau katakan aku tidak memiliki banyak waktu," jawab Willy dingin.


"Aku belum pernah menikah," Willy ucap Darwin. Willy tentu kaget lalu ditatapnya Darwin lekat di balik mata abunya mengatakan Jefri siapa.


"Kekasihku sama seperti yang dialami Callista namun hanya saja aku terlambat melindunginya ... dia sudah pergi jauh dan meninggalkan adiknya yang masih kecil dia adalah Jefri," ucap Darwin sambil mengusap air matanya yang keluar.


"Siapa orang yang melakukan itu katakan?" tanya Willy dingin Darwin hanya geleng-geleng kepala.


"Kau tidak tahu siapa pelakunya?" tanya Willy penasaran.


"Aku hanya dapat informasi dia orang luar negeri yang begitu berpengaruh tapi sampai sekarang aku belum mendengarkan informasinya Willy," ucap Darwin pelan. Kini kedua pria tampan tersebut kalut dalam pikiran masing-masing apa yang dialami para kekasih mereka suatu pukulan besar.


Sudah tiga hari berlalu kesehatan Callista berangsur membaik dan selama hari itu Callista sama sekali belum pernah keluar dari ruangan tersebut karena dokter dan suster terus memberikan semangat supaya kondisinya tidak jauh dari diinginkan.


Willy hanya bisa menatap jauh sang pujaan hatinya melewati masa sulitnya. Hati Willy sakit melihat kekasihnya itu menderita tiba-tiba, ponselnya berdering dan melihat nama Rahadian.


"Ada apa, Rahadian?" tanya Willy.


"Abang di mana, Mommy mencarimu?" ucap Rahadian.


"Ya ampun Kenapa aku lupa mengabari keluarga."


"Hubungi Mommy sepertinya sudah marah karena putranya hilang," ucap Rahadian sambil meledek Willy.


"Dasar kamu Rahadian jangan karena Resa menerimamu kembali kau bahagia dan meledekku." Rahadian hanya tertawa kecil lalu menyudahi obrolan mereka dan menghubungi Letizia supaya tidak cemas terhadapnya.


"Halo Mommy," ucap Willy lembut.


"Sayang, kamu dimana?" tanya Letizia begitu khawatir sekali.


"Mommy willy baik-baik saja dan sekarang berada di puncak."

__ADS_1


"Kamu ngapain di sana, Sayang?" tanya Letizia heran. Karena semenjak Callista pergi Willy tidak pernah lagi bicara dan menyentuh puncak.


"Mommy ...," lirih Willy.


"Willy. Apa kau sedang bersama-"


"Iya Mommy," jawab Willy cepat. Letizia menutup mulutnya.


"Sejak kapan?" tanya Letizia.


"Bisa Mommy kesini!" ucap Willy sambil menghela napasnya menatap kosong ke depan setelah obrolan selesai.


"Callista hanya ini yang bisa kulakukan padamu aku akan menerima keputusanmu jika Mommy sudah tiba," ucap Willy pelan sambil kedua matanya berkaca-kaca. Setengah jam kemudian Letizia tiba di puncak Willy langsung menyambut kedatangan wanita yang dia cintai tersebut.


"Mommy," panggil Willy dan langsung memeluk Letizia.


"Sayang, ada apa?" tanya Letizia cemas. Willy langsung membawa Letizia ketaman untuk mengobrol.


"Katakan dimana Callista, Sayang?" tanya Letizia yang sudah tidak sabaran lagi.


"Callista ada di dalam Mommy," ucap Willy. Letizia beranjak namun Willy menahan lengannya.


"Mommy tunggu!"


"Kenapa Mommy sudah tidak sabar melihatnya Willy," ucap Letizia.


"Callista trauma Mommy," ucap Willy pelan.


"Apa maksudmu, Willy?" tanya Letizia memandang wajah sedih putranya itu. Willy menceritakan semua yang dialami Callista sampai saat ini Willy tidak mampu bertemu dengan Callista karena trauma yang ia dapat, Letizia langsung memeluk sang putra semata wayangnya.


"Kalau kalian tidak mau menerima Callista sebagai menantu, Willy rela Mommy meninggalkannya apalagi Callista tidak mau bertemu denganku mommy," ucap Willy sedih.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen


\=> Share ke tiap Grup chat

__ADS_1


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2