
Mommy Letizia masuk ke dalam dan melihat Callista memeluk kedua kakinya lalu dihampirinya calon menantunya tersebut.
"Jangan kamu berkecil hati dengan keadaanmu ini apapun kekuranganmu, kami tetap menerimamu kembali. Willy tidak pernah sekalipun melupakanmu bahkan dia terus mencarimu selama ini Sayang. Mommy ... bahkan pernah melihat Willy meminum obat agar dia bisa tidur karena terus memikirkan kamu Callista," ucap Mommy Letizia lirih sambil menghapus air matanya keluar karena melihat kondisi Callista begitu buruk.
Hati Ibu mana yang mau melihat anaknya menderita seperti itu, bisa dikatakan kalau ada niat jahat di hati Mommy Letizia mungkin Callista tidak akan pernah diterimanya. Namun Letizia sadar dia juga memiliki seorang anak gadis.
"Tante aku-"
"Pikirkanlah Nak. Willy sangat mencintaimu," potong Letizia sambil mengusap lembut kepala Callista.
"Bolehkah aku memelukmu, Tante?" tanya Callista pelan.
"Tentu Sayang, sini!" Callista merasakan kedamaian dalam pelukan Letizia. Pelukan seorang Ibu yang tidak pernah ia dapatkan sama sekali.
"Pelukan Tante hangat," ucap Callista tanpa sadar. Letizia tersenyum dan semakin erat memeluk Callista layaknya anak perempuannya.
"Panggil Mommy mulai dari sekarang, kamu mau, 'kan?" ucap Letizia lembut.
"Mommy," panggil Letizia pelan.
"Iya Sayang. Panggil aku Mommy mulai dari sekarang!" ucap Letizia lembut. Merasa begitu nyaman dalam pelukan Mommy Letizia, Callista terlelap dalam pelukannya.
"Anak yang malang kasihan kamu, Nak," ucap Callista dalam hati lalu secara perlahan membaringkan Callista lalu keluar menemui Willy yang hatinya begitu sakit.
Willy yang masih di puncak menatap kosong kedepan dan tidak menyadari kedatangan Mommy Letizia.
"Willy," panggil Mommy Letizia lembut.
"Mommy." Willy tersenyum kecil melihat cinta pertamanya itu. "Bagaimana keadaan Callista, Mommy?" tanya Willy.
"Biarkan dia beristirahat dulu mungkin hari ini dia banyak terkejut dan tidak bisa berpikir jernih. Nak, coba jaga perasaan dan emosimu karena kamu tahu Callista di sini yang menjadi korban kamu seharusnya bersifat lembut," ucap Mommy Letizia lembut sambil tersenyum indah.
"Maaf, Willy tadi tidak bisa mengontrol perasaanku Mommy," balas Willy merasa bersalah.
"Kau sudah menemukan jawaban, Callista?" tanya Mommy Letizia.
__ADS_1
"Dia menolakku Mommy," jawab Willy pelan suaranya bahkan terdengar tercekat.
"Sekali lagi coba bicara lagi dengannya setelah itu kalian berdua buat keputusan bersama Mommy yakin akan cinta kalian berdua akan tetap bertahan," ucap Letizia sambil memeluk Willy.
Callista mulai mengerjapkan kedua bola matanya dan melihat keluar jendela sudah sore. Perlahan Callista turun dari tempat tidur melihat seluruh puncak tidak ada siapapun bahkan hanya terdengar suara burung yang berkicau.
"Aku kembali sendiri," ucapnya lirih sambil memeluk seluruh tubuhnya. Perlahan, kedua kaki Callista berjalan hingga tiba di gerbang keluar.
"Maafkan aku Willy, kita tidak bisa bersatu terima kasih kau mau bertemu denganku," ucap Callista menoleh ke belakang. Dan tiba-tiba langkah Callista terhenti melihat para pria yang membuatnya kotor tepat saat ini ada di hadapannya.
"Kau ternyata berada di sini Callista," ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Om!" kagetnya.
"Bawa dia masuk, cepat!" perintah pria lanjut usia tersebut.
"Masuk!"
"Lepaskan aku tidak mau ikut kalian," ucap Callista sambil memberontak, kedua tangannya bahkan menahan dirinya agar tidak masuk ke dalam mobil tersebut namun kekuatannya tidak sebanding dengan para pria besar dan akhirnya Callista masuk ke dalam tidak tahu apa yang mereka perbuat terhadap Calista, langsung tidak sadarkan diri lagi.
Mobil hitam tersebut memasuki kawasan hotel yang sudah disediakan untuk Ronald dan malam ini dengan bantuan para pelayan hotel Callista dibawa masuk ke dalam. Ronald mengikuti dari belakang dengan perasaan begitu bahagia sekali. Callista sudah dibaringkan tidak lupa Ronald memberikan upah atau tips besar kepada para pelayan tersebut. Ronald mendekati Callista dan menyentuh wajah mulusnya yang semakin cantik.
"Kau semakin cantik Callista. Bodoh sekali Kanita mau memberikanmu kepadaku hanya demi uang yang tidak seberapa," ucap Ronald mulai menyentuh setiap inci wajah Callista.
Merasakan sentuhan yang tidak asing, Callista tergelonjak kaget melihat Ronald ada tepat dihadapannya saat ini dengan wajah yang begitu dekat sekali.
"Om. Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Callista terkejut setengah mati apalagi saat ini ia tidak tahu di mana sekarang.
"Diamlah Callista! Mari kita lanjutkan hal tertunda kemarin," ucap Ronald mulai mendekati wajah Callista.
"Jangan Om. Hentikan!" teriak Callista karena Ronald mulai melancarkan aksinya lagi bagian depan Callista.
"Kau yang menggodaku Callista. Seharusnya tahun lalu kau menolak ajakan Kanita tapi, kau malah datang dan membuat jiwaku berkeliaran." Ronald mulai melancarkan jarinya namun sekuat tenaga Callista menahannya.
"Jangan Om aku mohon ...," ucap Callista yang sudah mengeluarkan air matanya. Ronald tidak memperdulikan apa yang dikatakan Callista dan terus berusaha melancarkan aksinya sampai Callista benar-benar tidak berdaya lagi.
__ADS_1
"Bruk!"
Suara pintu terdengar begitu kuat terbuka membuat Ronald tergelonjak kaget dan langsung menghentikan aksinya. Willy dan Darwin masuk dengan tampang yang begitu menakutkan melihat wanita yang mereka cintai sudah tidak berdaya diatas tempat tidur mewah tersebut.
"Siapa kalian? beraninya masuk tanpa ijnku!" teriak Ronald. Namun hanya hadiah kuat dari Willy dan Darwin didapat Ronald membuat mulutnya keluar cairan berwarna merah.
"Darwin kau urus pria tua bangka ini!" ucap Willy dingin.
"Baik Willy," jawab Darwin sambil menarik Ronald keluar tanpa ampun.
kini, hanya Callista dan Willy saat ini berada dalam kamar mewah tersebut hening dan tidak ada suara. Secara perlahan Willy mendekati Callista yang sudah terekspos di depannya lalu, Willy langsung memberikan selimut ketubuh Callista yang sudah bergetar hebat.
"Aku melihatmu di bawah mereka dan mengikutimu kesini kau tahu tempat ini adalah milikku jadi mudah saja menolong kamu," ucap Willy berusaha tetap tenang namun, hatinya sakit melihat wanita yang dia cintai telah dikerjain oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Beristirahatlah jangan berpikir macam-macam," ucap Willy lagi lalu beranjak keluar. Namun langkahnya berhenti ketika Callista menarik lengannya.
"Maaf ...," lirihnya.
"Sudahlah kau lebih baik istirahat soal pria itu aku akan mengurusnya."
"Boleh tidak kau temani aku di sini? Aku takut sekali," ucap Callista masih memegang kuat lengan Willy. Willy merasakan tangan Callista berkeringat dan bergetar hebat lalu dipandanginya wajah Callista yang begitu pucat.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗
__ADS_1