
Malam itu Callista sudah melupakan masalahnya karena sibuk mencari tahu tentang benda usang peninggalan Putra Mbok. Sudah larut malam Callista terus berkutat pada ponselnya terus membalas semua percakapan sosial medianya.
"Kena kau! Akhirnya ketemu," ucap Callista bahagia sekali. Callista benar-benar melupakan Willy dalam sekejap karena terlalu asyik pada dirinya sendiri tidak tahu bagaimana perasaan pria tampan disana sudah menunggu kabar darinya.
"Callista Kenapa tidak mengabariku? pengawal juga tidak becus hanya memberitahukan Callista sudah tiba dan tidak keluar sekalipun membuatku cemas," gerutunya sambil mondar-mandir di kamar.
Keesokan harinya, Callista sudah terbangun lebih awal memasak sarapan pagi sedangkan Mbok masih tidur pulas mungkin karena mendapatkan gelar baru, Mbok sedikit bermalas-malasan namun kenyataannya tidak. Callista begitu bersemangat memasak belum menyadari anak buah Willy sudah mengelilinginya selama dua puluh empat jam.
Callista yang sudah selesai memasak keluar sebentar untuk menghirup udara segar di pagi hari yang penuh udara bersih. Para pengawal yang melihat Callista perdana keluar langsung mengabadikan mengirim foto Callista kepada Willy.
Willy yang baru saja tidur tiga jam yang lalu mendapat notif pesan dari anak buah sekretaris Rayan. Seketika Willy terbelalak melihat senyum indah Callista yang terlihat begitu manis sekali. Willy tidak mau melewatkan langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju balkon tersenyum dengan sendirinya.
"Callista cantik sekali," ucap Willy pelan sambil terus melihat foto dan video Callista yang sedang tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya.
Semangat Willy telah kembali karena melihat wajah sang pujaan hatinya itu, tubuh yang kurang tidur tidak membuat Willy bermalas-malasan tetap membersihkan tubuhnya karena pagi ini dia harus bekerja di perusahaan milik keluarganya.
Callista yang merasa cukup menghirup udara masuk kembali ke dalam untuk membersihkan tubuhnya karena pagi ini ia dan Mbok berkeliling kampung.
"Ibu sudah bangun," ucap Callista lalu menghampiri Mbok yang masih terlihat mengantuk.
"Nak, kapan bangun?" tanya Mbok kesadarannya mulai pulih.
"Beberapa jam yang lalu, Bu. Mari bersihkan diri Bu lalu kita sarapan pagi bersama," ucap Callista tersenyum hangat.
"Sarapan pagi?" tanya Mbok heran.
"Callista masak Bu, coba nanti apa enak atau tidak." Mbok telan ludah mendengar perkataan Callista barusan akhirnya Callista memutuskan membersihkan diri.
Sembari menunggu Callista siap, Mbok menghampiri dapur yang sudah seperti kapal pecah dan meja makan terlihat lima jenis menu makanan sudah siap tersaji.
__ADS_1
"Astaga Nona apa yang terjadi dengan dapur pagi ini?" Mbok begitu panik sambil telan ludah. Kedua bola mata Mbok sakit melihat dapur yang kacau balau seperti ini akhirnya memutuskan untuk membersihkan pelan-pelan sambil menunggu Callista selesai membersihkan diri. Callista yang sudah selesai membersihkan diri keluar kaget melihat Mbok sedang membersihkan dapur langsung dihampirinya.
"Bu hentikan! kita sarapan dulu," ucap Callista sambil meraih sapu yang dipegang oleh Mbok.
"Iya Nak, sebentar tanggung." Mbok terus menyapu dan tidak memperdulikan Callista yang menggeleng kepala. Walau terus Callista menghentikannya namun, Mbok tidak mau dan akhirnya Callista memilih untuk menuju kamar berganti pakaian. Akhirnya dapur kembali normal dan terlihat bersih namun, tidak sebersih yang pertama kali mereka menuju kesini tapi tidak membuat sakit mata Mbok lagi.
Callista yang sudah berada di dapur sedikit menunduk karena merasa bersalah telah meninggalkan dapur begitu kacau. Walaupun Callista dulu dalam naungan Ibu Kanita namun tidak pernah sekalipun ia memasak karena fokus mencari uang.
"Bu, maaf ya Callista tadi ingin mencoba mau masak tapi dapur hancur," ucap Callista pelan.
"Tidak apa-apa Nak. Mari kita sarapan sepertinya enak Ibu belum pernah merasakan masakan kamu." Callista merasa begitu bersemangat kembali dan mereka duduk secara bersamaan mengambil makanan yang sudah tersaji di meja dengan rapi.
Mbok merasakan sesuatu yang begitu asing sekali di lidahnya sama halnya dengan Callista. Wajahnya terlihat miris lalu Mbok, Callista saling pandang dan tidak ada yang berani berbicara.
Callista yakin Mbok saat ini tidak berani untuk bicara soal sarapan pagi pertama kali yang ia masak terlihat buruk sekali.
"Bu, asin ya?" ucap Callista sambil nyengir.
"Kita makan di luar saja, Bu," potong Callista sambil menunjuk gigi putihnya.
"Tidak perlu! kamu sudah masak ini semua Ibu akan menambahkan air biar tidak asin," ucap Mbok halus sambil berdiri mengambil air hangat yang sudah matang. Callista heran lalu menghampiri Mbok yang sedang memasak masakannya kembali.
"Sayang Nak kalau dibuang ini masih bisa dimakan jika ditambah dengan air," tambah Mbok sambil tersenyum.
"Benarkah Bu? Callista hanya ingin mencoba masak saja tapi-"
"Masakan kamu Nak enak kok hanya saja terlalu banyak garamnya jadi, seandainya nanti kamu menikah sama Tuan muda sudah bisa memasak," ucap Mbok sambil memberikan semangat. Callista tersipu malu pipinya bahkan merona mendengar perkataan Mbok.
Hanya butuh waktu sepuluh menit saja makanan kembali tersaji di atas meja, Callista mencicipi sup daging yang ia masak tadi rasanya beda dan lebih enak.
__ADS_1
"Enak sekali Bu," ceplos Callista. Mbok hanya tersenyum saja lalu mereka akhirnya sarapan pagi begitu nikmat sambil berbicara soal pagi ini mereka hendak menemui para warga.
Callista dan Mbok telah selesai sarapan dan sudah bersiap untuk berkeliling kampung menyapa para warga, "Bu. Calista sudah siap," ucapnya penuh semangat.
Mbok juga begitu bersemangat sekali lalu menghampiri Callista, "Mari, Ibu akan membawamu kesuatu tempat."
"Kemana kita, Bu?" tanya Callista penasaran sekali. Mbok tidak menjawab hanya tersenyum saja.
Para bodyguard yang melihat Callista keluar dengan pakaian sedikit rapi langsung melapor ke sekretaris Rayan, "Mau kemana Nona dan Mbok pagi-pagi," ucap sekretaris Rayan pelan namun, langkahnya langsung menuju ruangan Willy mengabarkan keadaan Callista saat ini. Suara ketukan pintu sebanyak tiga kali dan Rayan masuk kedalam setelah mendapatkan izin dari Willy.
"Tuan selamat pagi," sapa sekretaris Rayan hormat dan menunduk.
"Pagi Paman. Ada apa?" tanya Willy masih fokus layar monitornya.
"Laporan Nona Callista Tuan pagi hari ini," ucap sekretaris Rayan sambil menyerahkan ponselnya dan terlihat jelas Callista dan Mbok saat ini sedang berbincang-bincang dengan para warga sekitar terlihat hangat sekali.
Willy tersenyum melihat pujaan hatinya itu sudah terlihat baik-baik saja sekretaris Rayan memilih untuk mengundurkan diri memberikan privasi kepada Tuan mudanya. Sekretaris Rayan tahu apa yang akan dia lakukan hari ini jika Tuan mudanya sudah seperti itu, menghandle seluruh pekerjaan.
Callista masih belum menyadari saat ini ia sedang dikelilingi parah anak buah Willy yang cukup banyak berbaur dengan para warga dan sibuk bercengkrama.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
__ADS_1
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗