Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Fakta Callista


__ADS_3

Callista, Darwin dan Jefri keluar menuju parkiran yang benar saja siapapun yang melihat mereka bertiga akan iri melihat pemandangan indah tersebut. Callista menggendong Jefri dari depan dan Darwin memegangi dompet Callista, terlebih lagi mereka begitu dekat sekali tidak ada jarak Willy seketika suhu tubuhnya panas melihat mereka bertiga.


Callista meletakkan Jefri di belakang dibantu Darwin lalu pintu depan terbuka Callista masuk dan Darwin menutup, mereka meluncur kembali ke rumah dan tidak menyadari Willy melihat mereka. Dari belakang Willy mengikuti mereka dengan perasaan berkecamuk.


"Jadi di sini kau selama ini tinggal Callista," ucap Willy sambil kembali melihat pemandangan indah tersebut.


Sampai larut malam Willy masih setia di luar kediaman Darwin memandangi rumah yang cukup besar tersebut hanya tinggal satu ruangan yang lampunya masih menyala.


Sosok wanita cantik yang sudah terlihat dewasa membuka satu jendela kamarnya dan menghirup udara sedalam-dalamnya dan tidak menyadari Willy memperhatikannya dari bawah sana dengan tatapan yang penuh kerinduan.


Tanpa disadari pasangan yang sudah lama terpisah tersebut, Darwin melihat manik mata Willy yang begitu tulus mencintai Callista dada sakit.


"Apakah ini namanya cinta?"


Darwin menatap Callista yang saat ini sedang memandang kosong tidak tahu apa yang dipikirkan wanita yang mengisi hari-harinya tiap hari bersama dengan Jefri.


"Dibalik senyummu ternyata kau menyimpan beban berat Callista," ucap Darwin.


Merasa cukup lama berada di luar Callista masuk ke dalam mematikan lampu kamarnya sedangkan Willy masih betah menatap kamar Callista yang sudah gelap gulita, tidak tahu kenapa kedua kaki Darwin melangkah keluar menemui Willy yang masih terus memandangi kamar Callista.


"Apa ini benar. Aku harus mengatakannya yang sebenarnya kepadanya?" batin Darwin Sambil memandangi punggung tegap Willy. Merasa ada yang sedang berdiri di belakang, Willy berbalik dan terkejut melihat Darwin yang sudah berdiri dengan tatapan yang begitu dingin sekali.


"Kau!"


"Aku tahu anda adalah Willy Alexander Johan Burk Putra dari Tuan William dan Nyonya Letizia, kedatanganmu ke sini hendak menemui Callista, bukan?" tanya Darwin tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Ternyata kau tahu semua tentangku," jawab Willy tenang.


"Siapa yang tidak mengenal anda mantan kekasih dari wanita yang saat ini aku lindungi." Kedua bola mata Willy menatap tajam Darwin kedua tangannya terkepal begitu kuat.


"Asal kau tahu saja kami tidak ada kata putus dengar aku akan kembali membawa Callista ke dalam hidupku dan kau bersiaplah aku akan membawanya segera," jawab Willy mulai emosi.


"Dan kau akan membahayakannya,"


"Apa maksudmu?"


Kini kedua pria tampan tersebut berada di taman yang tidak jauh dari rumah Darwin lalu, karena tidak sabarnya mengetahui apa maksud perkataan Darwin Willy langsung membuka percakapan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan lagi.


"Katakan, kau tahu banyak tentang Callista selama ini karena dia bersamamu!"


"Kau pikir karena kami bersama dia akan bercerita kepadaku," ucap jawab Darwin tenang dan tidak ada rasa takut dengan pria dihadapannya ini.

__ADS_1


"Apa?"


"Jangan pernah menemuinya sekalipun!"


"Sial kau pikir kau, siapa?" Willy mulai emosi.


"Biarkan Callista tenang karena selama ini dia menderita," Darwin menghempaskan kedua tangan Willy yang memegangi kerah bajunya.


"Aku kembali karena ingin memperbaiki semua jadi jangan melarangku menemui kekasihku!"


"Kalau kau menemuinya apakah Callista menerimamu sepertinya tidak akan pernah," jawab Darwin sambil tersenyum sinis.


"Kau-"


"Biarkan waktu yang menjawab Tuan muda Willy," potong Darwin.


"Apa!"


Darwin meninggalkan Willy yang masih berdiri mematung sedangkan Darwin langsung kembali menuju ke kediamannya dengan perasaan bercampur aduk.


"Apa yang aku katakan tadi benar sebenarnya aku terlalu egois tidak mempertemukan mereka, ah kenapa aku harus terjebak di antara sepasang kekasih gantung itu?" Darwin mengacak rambutnya sambil membayangkan wajah imut dan lembut Callista.


"Callista kau cantik sekali. Ibu tirimu pasti jelek sampai mau menjualmu kepada orang jelek juga," ucap Darwin tanpa sadar Willy mendengarnya dari belakang.


Willy menuju ke apartemen Rahadian yang tidak jauh dari kediaman Darwin pikirannya masih tertuju ke ucapan Darwin barusan yang membuat pikirannya kemana-mana. Rahadian yang belum tidur walau sudah pukul dua dini hari tiba-tiba mendapatkan panggilan dari Willy dengan kedatangannya secara mendadak sedangkan Baron jangan dikatakan lagi berada di mana saat ini tentu sedang melakukan pesta dengan teman klub Dina di salah satu Hotel milik mewah Baron di kota tersebut.


"Bang!"


"Apa kau memiliki minuman untuk menghilangkan rasa sakit di kepala ini, Rahadian?" tanya Willy sambil duduk.


"Kenapa Abang ingin mencari benda itu, Abang tahu kita tidak pernah menyentuh itu karena sudah diajarkan kedua orang tua menjauhi benda kotor tersebut," jawab Rahadian.


"Kau benar tapi kepalaku sakit sekali Rahadian," ucap Willy sambil memijat kepalanya yang berdenyut-denyut.


"Abang dari mana saja kenapa bisa sampai kepala sesakit ini minumlah biar Abang tenang!"


"Terima kasih Rahadian." Willy meminum air putih tersebut sampai habis tanpa menyisakan sedikitpun. Merasa cukup tenang Willy menarik napasnya secara perlahan.


"Rahadian bagaimana kekasihmu apa sudah ada tanda mau kembali denganmu?" tanya Willy.


"Kenapa jadi membahas tentangku, Bang?"

__ADS_1


"Aku sudah tidak berpikir jernih lagi Rahadian," ucap Willy sambil memejamkan kedua bola matanya.


"Ada apa Bang, cerita, 'lah!"


"Callista kau tahu ... ternyata selama ini dia-"


"Dia Kenapa, Bang?" potong Rahadian.


"Aku baru mendengar fakta Callista ternyata selama ini jual Ibu tirinya Rahadian ...," lirihnya.


"Apa?"


"Aku juga tidak percaya Rahadian aku harap fakta yang aku dengar ini tidak benar,"


"Terus Callista bagaimana, Bang?" Willy geleng-geleng kepala dan tidak tahu apalagi yang harus di katakannya.


"Kalau itu sebenarnya terjadi dengan Callista selama ini Bang ... jangan katakan Callista saat ini sudah tidak-


"Itu tidak akan pernah terjadi Rahadian aku tahu Callista pasti menjaga dirinya baik-baik karena selama kami bersama menyentuhnya saja aku tidak pernah sekalipun kecuali kami merayakan anniversary ketika di puncak," sergah Willy.


"Aku tahu apa maksud Abang tapi apa yang akan Abang lakukan sekarang?"


"Aku akan secepatnya menemui dia Rahadian aku tidak mau berlarut-larut seperti ini terus."


"Bang, jika Callista memang sudah tidak bersih Abang tahu maksud perkataanku. Apa Abang mau menerima Callista apa adanya?"


"Deg!"


Seketika napas Willy terhenti oksigen di apartemen Rahadian seketika habis, pandangannya seketika kosong ke depan dan membayangkan wajah Callista sang pujaan hatinya yang tiba-tiba pergi meninggalkannya begitu saja.


"Bang!" panggil Rahadian sambil mengguncang tubuh Willy pelan.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen

__ADS_1


\=> Share ke tiap Grup chat


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2