
Willy menatap kosong ke depan sambil menikmati jus orange sesekali membuang nafasnya kasar. Merasa sudah cukup menikmati angin sore, Willy memutuskan turun ke bawah berkumpul dengan keluarga besarnya.
"Hai Daddy,"
"Hai Nak, bagaimana dengan pelajaranmu?"
William meletakkan kacamatanya dan menatap lekat Putra satu-satunya itu dengan tatapan penuh kasih Sayang.
"Come on Daddy jangan membahas itu sekarang kepalaku pusing," ucapnya malas.
"Kak bagaimana kalau kita cari angin Leonore bosan," ucap Leonore dengan nada manjanya sambil bersandar ke William.
"Dasar anak manja," ucap William sambil mengelus kepala Putrinya tersebut.
"Daddy," rengeknya.
"Mommy, Daddy Willy naik ke atas," ucapnya datar.
"Kakak baru saja turun, naik ke atas lagi tidak asik," keluh Leonore.
"Kamu mau ikut mandi dengan Kakak?"
"Apa?" wajah Leonore seketika bersemu merah dan mereka semua tertawa melihatnya.
"Mommy, Daddy Leonore juga naik ke atas mau belajar," ucapnya sambil menutupi wajahnya yang masih memerah.
__ADS_1
Kini tinggal hanya Letizia dan William mereka berdua saling pandang, terlihat jelas sekali wajah istrinya tersebut sedih dengan keadaan keluarganya yang dingin.
"Sayang sampai kapan keluarga kita seperti ini?" ucapnya lirih.
William membuang nafasnya kasar baginya ini merupakan hal yang berat namun, William tidak bisa menekan Willy yang saat ini sedang dirundung kesedihan dan tekanan karena kepergian Callista yang mendadak.
"Aku akan bicara dengan Willy kau jangan banyak pikiran ingat aku tidak mau kau kenapa-napa Sayang." Letizia mengangguk.
Di taman Mansion Willy tidak jadi ke lantai atas dan memilih menghirup udara sedalam-dalamnya sambil memejamkan ke dua bola matanya.
Tidak tabu apa yang di pikiran Willy saat ini sampai William sang Daddy turun tangan melihat kondisi Putra satu-satunya. Hati William begitu sakit melihat Willy yang dingin dan datar beda ketika mereka bersama.
"Kau banyak sekali berubah, Son," William semakin dekat dengan Willy yang belum menyadari kedatangannya.
"Willy!"
"Daddy sedang apa di sini?" Willy memperhatikan wajah William lekat merasa ada yang tidak beres.
"Duduk!"
"Daddy!"
"Apa kau masih memikirkan mantanmu itu?" ucap William langsung points to points sambil menekankan kata mantan.
"Daddy!"
__ADS_1
"Mommy bilang kau tidak akan mempercayai Cinta sejati, mulai sekarang lupakan wanita itu!" ucap William tegas. Kedua bola mata Willy terbelalak mendengar perkataan William yang menusuk dada Willy.
"Daddy aku-"
"Kau masih mencintai dia Willy dan itu kelemahanmu jadilah pria kuat dan tangguh supaya kau bisa mendapatkan kembali Cinta sejati yang sudah tidak kau tidak percayai itu lagi."
Willy merasa terharu mendengar perkataan William tanpa berkata apapun Willy memeluk William begitu erat energinya seketika kembali mendengar perkataan sang Daddy.
"Daddy!"
"Jangan kau buat dirimu tersiksa Nak mulailah hidup baru, ingat kau adalah calon penerus Burk selanjutnya,"
"Iya Daddy."
Willy sedikit termenung di taman selama beberapa bulan ini dalam hati dan pikiran hanya ada Callista kadang Willy tidak bisa tidur memikirkan Callista di mana dan sedang apa, bagaimana kabarnya. Begitu banyak berpikir satu orangpun tidak ada yang tahu Willy selama ini telah mengkonsumsi obat-obatan agar bisa tidur normal, Memang kadang Cinta membuat kita tidak bisa mengendalikan tubuh dan pikiran.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
__ADS_1
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗