
Callista kembali bekerja menyusun berbagai macam buah ke dalam keranjang yang hendak di kirim sore ini ke luar kota, akhir pekan yang berakhir di kota asing tidak membuat semangat Callista berkurang.
"Aku tidak boleh putus asa harus bisa kuliahku selesai ayolah Callista kau pasti bisa memperbaiki masalah Toko."
Hampir pukul sepuluh malam akhirnya pekerjaan Callista selesai wajah yang terlihat kusut dan tubuh benar-benar lelah, Callista menuju salah satu warung kecil yang tidak jauh dari tempatnya menginap.
"Mie satu, Bu!"
"Baik, Neng."
Menunggu selesai, Callista memijit pelan ke dua betisnya yang sedikit bengkak karena seharian berdiri dan lari kesana ke mari.
"Willy sedang apa ya?"
Sepintas Callista membayangkan wajah tampan Willy yang bahan perbincangan para kaum hawa di kampusnya.
"Aku sangat merindukannya," lirih Callista menekuk wajahnya.
"Ini mienya sudah siap, Neng,"
"Terimakasih, Bu."
Ruangan yang bisa cocok di katakan tempat gudang, Callista begitu lahap menghabiskan mie tidak menyisakan sedikitpun.
"Aku seperti terkena busung lapar bagaimana bisa aku menghabiskan ini hanya hitungan menit."
Kota tempat yang begitu banyak kenangan dan hal indah bagi Willy selama tiga tahun ini dia tidak percaya hubungannya dengan Callista sudah sejauh ini. Pikirannya menerawang membayangkan wajah kekasihnya itu sekaligus calon istrinya. Leonore yang kebetulan lewat dari pintu kamar Willy tidak sengaja melihat saudara kembarnya itu tersenyum dengan sendirinya.
"Kak Willy habis baru makan apa sampai senyum-senyum seperti itu? Apa Callista baru memberikan dia obat ajaib aku sangat meragukannya,"gumam Leonore sambil geleng-geleng kepala.
"Hadiah apa, Sayang?" tanya Letizia yang kebetulan lewat hendak ke kamarnya namun langkahnya terhenti melihat putrinya berdiri wajah bingung.
"Mommy Abang aneh semenjak kembali dari puncak," Letizia tersenyum dia tahu apa yang terjadi di puncak sampai putranya itu seperti ini sekarang.
"Sayang kamu tahu bukan bagaimana cintanya Willy sama Callista," jawab Letizia lembut.
"Iya Leonore tahu Mommy, tapi-"
"Tapi apa, Sayang?"
"Aku tadi tidak sengaja melihat Callista pergi Mommy,"
"Pergi kemana?"
"Sepertinya ke luar kota dia tadi bersamaan dengan para Ibu, Bapak dan anak-anak muda mereka menaiki sebuah mobil pickup,"
"Apa kamu mencurigainya, Sayang?"
"Aku belom mengerti soal dia Mommy, kami jarang berbicara karena kesibukan masing-masing,"
__ADS_1
"Kamu harus yakin Sayang, pilihan kakak kamu itu yang terbaik," ucap Letizia sambil tersenyum.
"Iya Mommy." Letizia merasa sedikit cemas dengan perkataan putrinya barusan lalu, menuju ke kamar.
"Darimana? Kenapa lama sekali kembali, Sayang?"
"Aku barusan dari kamar Leonore Sayang," Letizia naik ke atas tempat tidur merebahkan tubuhnya ke dada bidang William.
"Hei ada apa dengan wajah kamu, Sayang?" Letizia menghadap ke William lalu ia peluk pria yang sudah menemaninya sudah dua puluh satu tahun lebih itu yang menjaganya dengan ke dua buah hati mereka.
"Aku-"
"Katakan, Sayang?"
"Kamu jangan marah jika aku cerita," William tertawa lalu memeluk istri kesayangannya itu begitu erat.
"Soal apa?"
"Willy,"
"Ada apa dengan bocah itu?"
"Willy sudah dewasa Sayang," Letizia memanyunkan bibir merah alaminya.
"Iya aku tahu putra kita itu sudah dewasa dan dia sudah berani mencium calon menantu kamu itu, katakan, 'lah!" goda William.
"Aku ada perasaan tidak enak dengan calon menantu kita, Sayang?"
"Siapa lagi," Letizia sedikit kesal dengan suaminya yang sudah terlihat pikun.
"Apa sesuatu terjadi dengan mereka, Sayang?"
"Tidak ada hanya saja aku ingin mereka ... Sayang bagaimana kalau kita langsungkan saja pernikahan mereka,"
"Sayang kamu ada-ada saja mereka masih kuliah lagian tahun depan mereka akan selesai bersamaan jadi jangan khawatir hubungan mereka baik-baik saja, kamu harus percaya dengan mereka berdua," ucap William lembut.
"Astaga bagaimana bisa aku mengatakan itu," Letizia memijit pelipisnya.
"Sudah, 'lah Sayang, jangan di pikirkan lagi,"
"Iya Sayang." Letizia dan William tidur sambil memeluk William.
Pagi hari telah tiba masih sedikit terlihat gelap, Willy sudah bangun dan sudah lari pagi taman Mansion tangan kanannya memegangi botol minuman yang tidak lain milik Callista ketika mereka sedang bersamaan pulang dari kampus, Callista lupa membawanya.
Willy menghubungi Callista soal botol minumannya lalu keesokan harinya Willy mengembalikannya tapi tidak hanya di situ saja dengan jahilnya Willy kembali mengambil botol tersebut dan menjadi miliknya Callista tidak mempermasalahkan, tiap kali Willy kemana botol tersebut selalu menemaninya memang Cinta di waktu muda membuat hati siapapun bisa berbunga-bunga.
"Apa dia sudah bangun?" gumam Willy sambil menatap ponsel iPad miliknya, seketika senyum Willy mengembang melihat wanita yang dia rindukan itu karena senyumannya membuat Willy seketika melayang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Willy.
__ADS_1
"Aku berkemas mau kembali ke kota Willy,"
"Dengan siapa?"
"Mbok,"
"Kalian naik apa kembali ke sini?"
"Bus Willy," jawab Callista polos.
"Jangan bergerak dari sana aku akan datang menjemput kalian!"
"Tapi waktu tempuh ke sini empat jam Willy aku tidak mau kamu nanti capek,"
"Jangan khawatir tunggu saja jangan kemana-mana."
Willy langsung mematikan ponselnya dan berlari kencang masuk ke Mansion tidak memperdulikan para Maid melihatnya melongo.
"Daddy, Mommy buka pintunya gawat!"
Willy menggedor-gedor pintu kamar Letizia dan William begitu kuat sampai yang punya kamar kaget dan merapihkan pakaiannya.
"Willy ada apa? Kenapa kau mengganggu tidur Daddy dan Mommy kau tahu ini akhir pekan waktu di mana Daddy istirahat penuh," kesal William.
"Ada Willy?" tanya Letizia yang sudah kembali memakai piyamanya.
"Maaf Daddy, Mommy. Begini bolehkah Willy memakai jet privat milik Daddy sekarang ke kota A?" William memijit pelipisnya mendengar perkataan putranya ini sedangkan Letizia cekikikan melihat wajah suaminya itu.
"Kau menguji kesabaran Daddy di pagi hari Willy kau tahu semua fasilitas kalian boleh memakainya asal jangan salah di gunakan,"
"Maaf Daddy Willy lupa kalau begitu kalian lanjutkan saja tidur, aku pamit Mommy Daddy," tidak lupa Willy mencium pipi kanan Letizia lalu berlari ke luar.
"Rasanya aku ingin memberikan pelajaran kepada bocah itu bikin kesal," ucap William lalu merebahkan tubuhnya.
"Sabar Sayang orang yang lagi berbunga-bunga tidak akan melihat sekitarnya lagi berada dunia ini miliknya," ucap Letizia sambil menggoda suaminya itu supaya kesal di pagi harinya hilang dan yang terjadi akhirnya terjadi di kamar tersebut.
Callista tidak percaya Willy telah tiba hanya waktu satu jam saja dari perkiraannya, wajah tampannya begitu bersinar hanya memakai pakaian kaus warna putih dan celana krem membuat siapa saja melihat akan histeria.
"Hei jangan melihatku seperti itu aku tahu kekasihmu ini sangat tampan Sayang," goda Willy.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
__ADS_1
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗