
Pagi hari telah tiba, matahari telah memancar hingga menembus ruangan tengah rumah sederhana Callista. Sosok pria blasteran terbangun namun, kedua bola matanya terlihat hitam, Callista yang yang hendak menuju kedepan mau menyapu lantai kaget melihat wajah Darwin yang begitu kusut.
"Ada apa dengan kedua bola mata, Kak Darwin?" tanya Callista cekikikan.
"Kenapa dengan mata aku Callista?" balik tanya Darwin.
"Coba Kakak berkaca ada sesuatu yang unik di sana!" ucap Callista tertawa kecil. Darwin menuju meja rias tidak jauh darinya, alangkah terkejutnya dia melihat lingkaran hitam jelas di kedua bola mata abu miliknya.
"Apa-apaan ini?!" pekik Darwin. Callista tanpa sadar tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Darwin yang lucu sambil memegangi perut ratanya. Darwin tercengang melihat Callista untuk pertama kalinya tertawa lepas.
"Ya, Tuhan makhluk tercantik yang pernah aku temui," ucap Darwin tanpa sadar.
"Kakak baru bilang apa barusan?" tanya Callista setelah ia selesai tertawa.
"Tidak ada. Oh ya aku mau mandi sekalian hilangkan mata panda ini," ucap Darwin membuang rasa gugupnya lalu akhirnya berlalu ke dapur meninggalkan Callista yang masih cekikikan.
Dalam kamar mandi, Darwin memegangi dadanya yang berdegup kencang karena merasakan sesuatu yang beda sekali dari sebelumnya.
"Wahai jantungku, kondisikan dirimu jika bersama dengan Callista dia itu milik Willy bisa bisanya nanti kau kena batu jika merebut Callista," ucap Darwin pada dirinya sendiri sambil memejamkan kedua bola matanya yang masih terlihat hitam.
Mbok yang semangat hidupnya sudah kembali karena Darwin telah kembali kepadanya ditambah lagi Callista menjadi putrinya lengkap sudah kebahagiaannya. Mbok yang berkutat di dapur mempersiapkan sarapan pagi menyajikan masakannya jelas tercium bau aroma masakan yang menggugah selera.
"Bu. Wangi sekali," puji Callista. Mbok hanya tersenyum menanggapi pujian Callista dari belakang Darwin sudah terlihat rapi dengan pakaian santainya dan celana pendeknya warna hitam.
"Mari sarapan kalian pasti lapar," ucap Mbok tersenyum lebar, hangat dan Darwin dan Callista begitu menikmati masakan Mbok yang begitu nikmat sekali.
"Terima kasih Bu. masakan Ibu enak sekali," puji Darwin semakin lahap memakan sarapannya sama halnya dengan Callista juga. Mbok begitu bahagia sekali melihat Darwin dan Callista yang sudah seperti suami istri melahap sarapan pagi yang telah dia masak seadanya.
"Andaikan saja kalian duluan bertemu, pasti sekarang Ibu sudah memiliki cucu dan kita akan menjadi keluarga bahagia," kekeh Mbok dalam hati.
__ADS_1
Sarapan pagi telah usai, Callista membantu Mbok merapikan meja makan lalu mereka berdua menuju ke depan menemui Darwin yang sedang berkutat pada ponselnya.
"Kak. Bagaimana yang Callista bilang kemarin apa sudah ada?" tanya Callista lembut.
"Soal itu-"
"Apa ada sesuatu terjadi, Nak?" potong Mbok sambil menatap lekat wajah Darwin.
"Tidak ada Bu. Callista mari kita berangkat ke desa menemui para warga dan Ibu ikut tidak?" tanya Darwin.
"Nanti Ibu menyusul kalian," jawab Mbok halus.
Akhirnya Callista dan Darwin menuju tempat para warga yang sudah banyak berkumpul dan berdesak-desakan karena ada sosok pria tampan saat ini sedang bercengkrama dengan para warga.
"Kak, ada apa di sana? kenapa para warga berkerumun seperti itu?" tanya Callista penasaran.
"Apa?!" Callista menghentikan langkahnya dan menatap Darwin yang merasa bersalah tidak memberitahukan kepada Callista sebelumnya bahwa Willy saat ini ada berada di desa.
"Callista dengar, Willy sudah lama mengetahui masalah desa dan dia berencana membantu. Bagaimanapun desa ini adalah tempat tinggal calon istrinya oleh karena itu dia siap membantu desa membangun kembali namun jika kamu tidak mau kamu bisa mengatakan itu kepada Willy. Jujur saja kakak tidak mampu membantu desa seperti yang kamu katakan kemarin, tabunganku tidak cukup Callista dan aku menghubungi Willy dan dia siap membantu," ucap Darwin panjang kali lebar berharap Callista mengerti akan dirinya dan berharap dengan ini Willy dan Callista bisa kembali bersatu lagi. Callista terdiam sesaat dan tidak tahu harus mengatakan apalagi setelah mendengarkan penjelasan Darwin.
Willy yang melihat Callista dan Darwin tidak jauh dari tempatnya langsung dihampirinya dengan wajah dinginnya. Dari belakang, para warga mengikutinya untung saja para bodyguard memberikan jarak karena mereka tahu Tuan muda mereka hendak menemui calon Nona muda mereka.
"Callista, Darwin!" panggil Willy pelan. Callista yang melihat Willy sudah dekat dengan mereka sedikit gugup melihat wajah tampan Willy semakin bersinar.
"Wi-willy!" jawabnya sedikit gugup. Darwin yang merasakan hawa sedikit panas memilih mengundurkan diri untuk memberikan privasi kepada pasangan kekasih tersebut.
"Kalian bicaralah baik-baik!" ucap Darwin sambil menepuk pundak Willy lalu meninggalkan mereka berdua.
"Callista ikut aku!" tanpa menunggu jawaban dari Callista, Willy langsung membawanya menuju mobil sport miliknya tidak jauh dari tempatnya. Jantung Callista berdegup kencang ketika mereka telah tiba di danau yang tidak jauh dari desa. Willy menghadap Callista yang yang terus menunduk secara perlahan Willy menyentuh lembut tangan halus pujaan kekasih hatinya tersebut.
__ADS_1
"Willy?!" Callista sedikit kaget dengan sentuhan Willy yang membuat bulu halusnya merinding dan Callista menarik tangannya namun, hal yang tak terduga telah terjadi Willy spontan menarik pinggang ramping Callista dan langsung membawanya ke dalam pelukannya.
"Kembalilah Callista aku tidak sanggup jauh dari kamu, Sayang!" ucap Willy pelan bahkan suaranya terdengar serak dan tertekan.
"Willy?!" Callista tertegun karena Willy telah memeluknya begitu erat sekali napasnya bahkan mengenai leher jenjang putih miliknya.
"Kamu tidak perlu lagi memikirkan desa aku dan Darwin sudah mengurus semuanya Sayang. Dan sekarang ingat, liburanmu sudah berakhir mari kita kembali dan memulainya dari awal lagi," ucap Willy sedikit manja. Callista secara perlahan melepaskan pelukan Willy dan menatap lekat mata abunya yang terlihat begitu sayu.
"Maaf, aku hadir di hadapanmu tanpa memberitahukan kamu dulu. Aku tidak sabar lagi menunggu jawaban kamu, Sayang," ucap Willy kembali lagi menggenggam tangan Callista.
"Willy," Callista menarik napasnya lalu membuang sedikit kasar di tatapnya wajah tampan intens, "Willy aku tahu kamu pria baik dan mau menerima aku apa adanya. Kamu tahu jujur saja saat ini aku masih trauma." Callista menitikkan air matanya kedua tangannya langsung menutup wajahnya yang sudah basah.
"Akan aku hilangkan trauma kamu Sayang percaya denganku." Willy memeluk Callista dan menghujani banyak ciuman di pucuk kepalanya dan membiarkan Callista terus menangis di dada bidangnya menumpahkan semua bebannya selama ini ia pendam sendiri.
"Aku kotor Willy." kalimat itu terus diucapkan Callista sampai membuatnya lelah lalu tidur dipelukan Willy.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗
__ADS_1