
Prolog
Karakter dan Cerita
Kebahagiaan keluarga besar Johan Burk semakin terlihat karena para pewaris keluarga tersebut telah beranjak proses dewasa dan itu tidak luput dari perhatian William Letizia yang saat ini sudah menjalani rumah tangga selama dua puluh satu tahun. Hari yang mereka jalani begitu nikmat dengan canda dan tawa kadang hal terkonyol tidak pernah lepas dari keluarga harmonis tersebut.
"Mommy, di mana sepatu Leonore?"
"Sayang ada di dekat jemuran belakang," jawab Letizia sambil menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua dan dibantu oleh para maid.
"Tidak ada Mommy," teriaknya begitu kencang membuat para penghuni Mansion tutup kuping jika mendengar suara teriakan Leonore. Letizia dengan sabarnya menghadapi sifat putrinya ini lalu dihampiri dengan ekspresi wajah naik satu tingkat.
"Ini apa!"
Leonore melipat tangan di dada lalu cengengesan tanpa dosa langsung unjuk gigi masuk kedalam untuk bersiap menuju ke kampus.
"Sampai kapan putriku bertingkah konyol?"
Letizia tepuk jidat lalu kembali masuk ke dalam untuk melihat suami tampannya yang belum kunjung menunjukkan batang hidungnya.
"Kenapa belum bersiap, Sayang?"
"Aku kurang enak badan Sayang," lalu Letizia menyentuh kening William.
"Tidak hangat? Yakin kurang enak badan," tatapan Letizia sedikit menyipit melihat William yang saat ini sedang berbaring.
"Iya Sayang," jawab William memelas.
"Aku akan menghubungi dokter pribadimu!"
"Tidak perlu!"
"Kenapa?"
Letizia memicingkan kedua bola matanya memperhatikan William saat ini duduk lalu meraih kedua tangannya lalu, siapa tidak menyangka William langsung mengarahkannya ke tempat miliknya.
"Ini yang butuh obat Sayang," wajah Letizia seketika memerah.
"William!"
Letizia sama halnya juga berteriak pagi hari itu karena perbuatan suaminya yang tidak bosan menggodanya. William langsung kabur ke kamar mandi untuk membersihkan diri takut jatah malam akan puasa.
"Hah dasar suami mesum sudah tua tetap masih mode on."
Sambil menunggu suaminya selesai membersihkan diri, Letizia mengatur pintu kamar putranya namun tidak ada jawaban.
"Pasti ketiduran ini dia duplikat Bapaknya."
Letizia masuk dan betul saja Willy masih tidur dengan keadaan polos.
"Anak ini kenapa beda sekali dengan adiknya?" ucap Letizia sambil geleng-geleng kepala.
"Abang bangun sudah pagi bangun!"
" Sebentar lagi Mommy,"
"Jangan membantah bangun atau Mommy akan melakukan sesuatu yang membuatmu akan bangun," Willy tidak mendengarkannya justru menarik selimut sampai ke kepalanya.
Letizia meraih sesuatu benda yang sudah dibawanya dari dapur lalu memasukkan tangannya ke dalam selimut tersebut.
"Mommy dingin!"
__ADS_1
Willy seketika berteriak kencang karena benda dingin telah mengenai perutnya yang menempel.
"Mommy kenapa selalu melakukan ini kepadaku?"
"Karena kau anak yang malas bangun,"
"Tapi ini kan dingin?"
"Biar kau cepat bangun, cepat bersihkan dirimu lalu kita sarapan!"
"Baik Mommy."
Meja makan.
"Bagaimana pelajaran kalian di kampus?"
"Baik Daddy," jawab Willy dan Leonore bersamaan.
"Baguslah pertahankan nilai kalian berdua,"
"Ya Daddy.
Willy dan Leonore pamit kepada Letizia, tidak lupa mereka melakukan ritual cium pipi kiri dan kanan lalu mereka berangkat bersamaan kebetulan kantor dan kampus satu arah. Perjalanan Willy asyik balas pesan pujaan hatinya sedangkan Leonore membaca buku tentang kesehatan.
"Thank you Daddy!" ucap mereka setelah tiba di gerbang kampus.
"Sama-sama kalian belajarlah dengan baik-baik jangan nakal!"
"Siap Daddy."
Seperti itulah William selalu berpesan kepada kedua buah hatinya sebelum meninggalkan mereka.
"Leonore!" dua suara wanita yang tidak asing memanggilnya dari kejauhan.
"Dasar lihat itu Bapak-bapak muda juga hadir ucap Leonore tidak mau kalah dari Willy.
"Astaga lihat mereka cocok sekali," Willy menahan tawanya.
"Apa yang kalian tertawa, 'kan?" tanya Baron, Rahadian, Tiur dan Yuliana bersamaan.
"Tidak ada. Kalian berempat pasangan yang cocok sekali," ledek Willy sambil menahan tawanya.
"Willy!"
Mereka berlima menyerbu Willy sambil mengacak-acak rambut hitam mengkilapnya lalu ada yang menggelitiki ya. Semua yang melihat kekompakan mereka meronta-meronta.
"Sudah cukup aku tidak bisa bernafas teratur!"
"Rasakan?"
Mereka semua tertawa bersamaan melihat Willy yang acak-acakan namun tetap tampan, seperti ini lah mereka enam bersaudara ini selalu kompak dan terus bersama, saling menjaga dan menyayangi.
Mereka masuk ke kelas, Willy, Baron dan Rahadian satu kelas dan satu jurusan tentang bisnis dan ekonomi sedangkan Leonore, Tiur dan Yuliana mereka ke laboratorium untuk melakukan praktek cara bedah.
Dalam kelas, Willy adalah pangeran yang di idamkan semua kaum hawa bahkan sampai seluruh kampus. Terkenalnya Willy di bandingkan dengan Baron dan Rahadian karena lebih tampan, baik, ramah, pintar dan tidak sombong sedikitpun.
Semua itu membuat setiap wanita yang melihatnya histeris bahkan ada sampai pingsan. Kepopuleran sepupunya, Baron dan Rahadian tidak mau kalah menunjukkan pesona melalui kepintaran dan ilmu pengetahuan. Apa Willy tidak pintar kah sampai Baron dan Rahadian memberikan siswa lain ilmu grafis?
Hanya Willy yang mengetahuinya.
Jam pelajaran kampus telah usai, untuk kelas bisnis dan ekonomi semua siswa berhamburan keluar dan ada sebagian yang melanjutkan kelas tambahan, istirahat.
__ADS_1
"Willy!"
"Wah primadona kamu Will," ucap Baron tersenyum.
"Cantik sekali," puji Rahadian.
"Mata kalian kondisikan jika tidak aku beri nanti kabel listrik!"
"Bergetar kami Willy,"
"Itu bagus buat kalian berdua,"
"Dasar Abang tidak ada akhlak."Willy hanya tertawa kecil.
"Kau sudah selesai belajar!" tanya Willy lembut sekali membuat ke dua pria yang ada di sampingnya ingin mengeluarkan sesuatu dari perut.
"Satu pelajaran lagi, kamu?"
"Aku sudah selesai, Sayang" ucapnya lembut sambil mengusap kepala Callista lembut.
"Hei. Ingat kami masih ada di sini," teriak Baron dan Rahadian bersamaan.
"Sana makaya jangan mengganggu kita yang lagi kangen," ledek Willy.
"Rahadian leherku tegang," Baron memegangi lehernya sambil mencuri memandangi wajah Callista yang begitu cantik sekali.
"Mata kondisikan atau aku akan lapor kamu ke si Emma biar kamu jomblo abadi,"
"Astaga Abang. Parah bisa-bisanya," Callista tertawa mendengar obrolan ke tiga bersaudara ini.
"Kami pamit dulu ya para pria gantung,"
"Awas ya kamu Willy!"
Willy dan Callista tertawa terbahak-bahak meninggalkan mereka yang begitu sabar menunggui pasangannya yang belum kunjung datang.
Restoran yang cukup ramai pengunjungnya, Willy dan Callista makan siang dan sambil mengobrol. Banyak pasang mata menonton kebersamaan Willy dan Callista yang membuat siapapun melihat akan meleleh.
"Ah. Tampan sekali Willy,"
"Beruntung sekali Callista,"
"Wanita primadona,"
"Jika Willy mencari wanita ke dua aku mau banget,
"Jangan bermimpi dia bukan tipemu,"
"Kenapa tidak? Callista saja wanita biasa sedangkan Willy bangsawan,"
"Betul. Willy benar- benar pria pujaan hati kita semuanya." ucap mereka secara bersamaan.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
__ADS_1
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗