Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Ponsel Callista tidak aktif


__ADS_3

Callista terlihat berkeringat karena begitu canggung sekali dengan pria asing yang tidak ia kenal satu ruangan. Ronald bangkit dari tempat duduknya lalu mendekatinya Callista sambil membawakan minuman anggur mahalnya.


"Minum, 'lah kau sepertinya haus!" Ronald duduk di samping Callista dan sengaja merapikan tubuhnya ke Callista.


"Maaf Om aku tidak bisa minum," tolak Callista halus.


"Oh iya aku lupa kau adalah mahasiswa," ucapnya dengan nada kecewa.


"Apa lagi kau adalah mahasiswa terbaik di kampus iya bukan?" tanya Ronald lagi.


"Tidak Om hanya mahasiswa beasiswa saja,"


"Tapi aku yakin kau adalah wanita populer di kampus kau saja terlihat begitu cantik sekali pria mana yang tidak tertarik dengan wajah indah seperti kamu."


Tubuh Callista bergetar, panas mendengar perkataan Ronald yang membuatnya tidak nyaman. Ronald menikmati minuman anggur sambil melirik sesekali ke Callista yang sudah terlihat gelisah. Senyuman kecil terlihat dari sudut bibi tebalnya, tidak tahu yang mendorong Ronald hingga nekat melakukan hal yang tidak wajar kepada Callista.


"Om jangan!" teriaknya.


"Diam kau, jika tidak kerja sama kita tidak akan pernah terjalin," ancamnya.


"Tapi tidak seperti ini Om," lirihnya sambil memperbaiki pakaiannya yang sudah terekspos diatas dan menampilkan benda yang begitu indah sekali.

__ADS_1


"Kau lupa Kanita sudah menyerahkan kau sepenuhnya kepadaku," seringainya.


"Apa?"


"Kau lupa telah menyetujui untuk mengembangkan Toko buah kau itu dan jika berhasil kau boleh kuliah lalu jika tidak-"


"Tidak Om ada salah bukan ini caranya," ucap Callista yang sudah begitu ketakutan sekali.


"Callista hei dengarkan Kanita yang mengatakan ternyata aku tidak salah mengeluarkan uang yang begitu banyak dengan daun muda seperti kau," ke dua bola mata Callista terbelalak karena Ronald semakin mendekati ia.


"Jangan Om, ah sakit kumohon," lirihnya. Callista sudah tidak bisa bergerak lagi Ronald sudah menguncinya dan siap menikmati apa yang tersaji di hadapannya ini.


"Diam dan nikmati, 'lah!" Callista tidak bisa berbuat apa-apa ketika wajah Ronald sudah terbenam di sana dan hampir mengenai inti benda kenyal-kenyal miliknya. Suara isakan terdengar membuat konsentrasi Ronald hilang dan langsung menghentikan perbuatannya


"Kau tidak membuatku berselera," Ronald meninggalkan Callista yang bergetar di sudut ruangan tersebut.


"Dengarkan urusan kita belum selesai!" Ronald pergi begitu saja tanpa memperdulikan Callista yang sudah tidak kuat lagi.


Callista secara perlahan meninggalkan Hotel tersebut dalam keadaan tidak baik, air matanya terus berderai dan tubuhnya juga ikut bergetar hebat. Hal yang baru saja ia alami telah membuatnya trauma dan terus berjalan tanpa arah tujuan.


"Bagaimana bisa Ibu melakukan ini kepadaku? Kau jahat," teriak Callista sambil memeluk tubuhnya.

__ADS_1


Tempat lain, Willy benar-benar begitu cemas dan perasaannya tidak enak sesekali Willy menghubungi Callista namun tidak di angkat. Kebetulan Leonore lewat dan melihat saudara kembarnya itu sudah seperti setrikaan.


"Kak ada apa? Mataku sakit sekali melihatmu seperti ini,"


"Ponsel Callista tidak aktif Leonore aku takut sesuatu terjadi dengannya,"


"Astaga Kak Callista itu bukan anak kecil lagi dia sudah besar dan bisa menjaga diri,"


"Semoga saja Leonore." Willy terlihat cemas, Callista tiba di salah satu rumah kecil yang terlihat sudah tidak pantas di huni lagi.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen


\=> Share ke tiap Grup chat

__ADS_1


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2