Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Pria yang jahat


__ADS_3

Callista sudah lama meninggalkan semua kehidupan dahulu, sekarang telah kembali kehidupan baru bersama keluarga barunya. Mbok yang masih setia melayani Callista sudah menganggap Putrinya.


"Jefri,"panggil Callista lembut.


"Iya Mami," Jefri menghampiri Callista mempersiapkan makan malam.


"Panggil Papi Sayang kita akan makan malam!"


"Baik Mami." Jefri naik ke atas dengan wajah bahagia.


"Nak, biarkan Mbok yang menata meja," ucapnya halus.


"Tidak apa-apa Mbok," jawab Callista lembut. Pria asing turun secara bersamaan dengan Putranya yang sudah berumur empat tahun.


"Wangi sekali," pujinya sambil duduk.


"Nona yang memasak Tuan," jawab Mbok tersenyum.


"Benarkah tidak sia-sia aku memperkerjakannya di restoran milikku," candanya. Calista hanya tersenyum menanggapinya lalu mereka makan malam begitu tenang tidak ada obrolan sedikitpun, pemandangan di meja makan tersebut sudah seperti layaknya keluarga yang sempurna.


Callista membantu Mbok membersihkan meja makan lalu tidak lupa juga menyediakan kopi untuk Darwin. Naik ke atas, mengetuk pintu sebanyak tiga kali lalu masuk setelah Darwin mempersilahkannya masuk.


"Kak kopi," ucapnya.


"Taruh saja seperti biasa Callista!" jawab Darwin lalu dia hentikan pekerjaannya.


"Kau tidak minum?" tanya Darwin.


"Sudah Kak tadi bersama si Mbok,"


"Bagus, 'lah,"


"Oh iya boleh kau bantu aku menganalisis laporan ini?"


"Baik Kak."


Callista dan Darwin begitu fokus menyelesaikan pekerjaan tersebut sampai larut malam bahkan Callista sampai tertidur di ruangan kerja Darwin.


"Kebiasaan kau Callista tidur sembarangan andaikan aku pria yang jahat bisa saja kau sudah lama menjadi milikku tapi ... aku akan menunggu jawabanmu apapun keputusanmu suatu saat."


Darwin menggendong Callista ke kamarnya menyelimuti dengan baik layaknya seorang anaknya sendiri.


"Willy maafkan aku," ucap Callista tanpa sadar dalam tidurnya.


"Willy?" gumam Darwin.


"Aku kotor Willy," Callista menangis dalam tidurnya sambil memeluk tubuh langsingnya.


"Apa yang kamu alami Callista sebenarnya?" Darwin memperhatikan Callista yang begitu memprihatinkan.


Darwin turun ke bawah melihat si Mbok sedang bersantai di teras sambil menikmati teh hangat lalu, Darwin menghampirinya.


"Mbok tidak kedinginan?" suara Darwin mengagetkan Mbok dan langsung berdiri melihat kedatangannya.


"Tuan,"


"Duduk, 'lah Mbok!"

__ADS_1


"Tapi Tuan-"


"Ada yang ingin kubicarakan dengan Mbok?" ucap Darwin lembut. Mbok merasa perasaannya tidak enak lalu duduk dan menunduk tidak berani menatap Darwin.


"Silahkan Tuan,"


"Apakah kalian masih tidak mempercayai saya Mbok?"


"Maksud Tuan?"


"Soal Callista,"


"Maaf Tuan saya-"


"Mbok apa tahu tadi Callista kembali mengingat minta maaf dan menyebutkan nama Willy berkali-kali."


"Deg!"


"Beritahu saya Mbok apa yang sebenarnya terjadi?" ucapnya lagi.


"Tuan."


Mbok merasa Darwin sudah seharusnya tahu apa yang terjadi dengan Callista dan kehidupannya dahulu yang tidak diketahui kekasihnya yaitu Willy demi menghindar dari Ibu Kanita yang selalu memanfaatkannya namun hal tidak terduga telah membawanya ke kota asing dan sekarang bersama Darwin.


"Sangat disayangkan," Darwin merasa sakit mendengar penjelasan Mbok lalu meninggalkan Mbok yang masih mengusap air matanya.


"Maafkan Mbok Nona Callista sudah seharusnya Tuan Darwin mengetahui masalah ini agar beliau tidak mengharapkan anda lagi," ucap Mbok lalu masuk ke dalam.


Pagi harinya, Callista mengerjapkan kedua bola mata coklatnya dan meregangkan seluruh otot tubuhnya yang kaku, pintu terbuka terlihat anak kecil memasuki kamarnya tanpa permisi langsung naik ke atas tempat tidur dan memeluk Callista begitu erat sekali.


"Mami selamat pagi," ucapnya sambil tersenyum.


"Mami bukan lagi bayi kenapa lama bangun?" ucap Jefri begitu polosnya.


"Hah!" Jefri tertawa melihat wajah Callista yang memerah.


"Mami cantik sekali," celoteh Jefri lalu mencium pipi kiri Callista lalu dia kembali memeluk erat.


"Ada apa Sayang pagi-pagi kenapa memeluk Mami seperti ini tidak biasanya?" tanya Callista mengusap punggung Jefri lembut.


"Kangen Mami," ucapnya polos. Callista memeluk erat Jefri sambil mencium kepala anak kecil yang sudah ia anggap Putranya sendiri.


"Papi di mana, Sayang?"


"Sudah pergi bekerja Mami," Calista melepaskan pelukannya dan menangkup wajah gembul tersebut.


"Kau mau kita jalan-jalan ke taman?"


"Mami serius?"


"Iya hari ini Mami libur Sayang,"


"Baik Mami Jefri bersiap dulu." Tidak lupa Jefri memberikan ciuman ke pipi kanan Calista lalu keluar begitu bahagia sekali.


"Maaf, 'kan Mami yang belum siap menjadi bagian kalian Sayang," lirih Callista lalu beranjak ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Seperti biasanya Rayan mengabadikan semua kegiatan Callista hari ini bersama Jefri di taman pinggir kota yang begitu indah dan sejuk. Jefri begitu bahagia sekali bermain di tepi danau kecil dan mengejar kupu-kupu yang berlarian, senyuman indah Callista membuat hati siapapun akan meleleh jika melihatnya begitulah perasaan Willy saat ini ini yang terhipnotis melihat wajah dewasa Callista yang sudah lama tidak dia lihat.

__ADS_1


"Cantik sekali," ucap Willy tanpa sadar ada dua pria disampingnya saat ini menatapnya bingung.


"Tunggu aku Sayang," ucapnya lagi tanpa sadar.


Rahadian dan Baron geleng-geleng kepala dan kembali fokus belajar Callista dan Jefri mengelilingi taman tersebut dan tanpa mereka duga seorang pria asing telah menghampiri mereka.


"Papi!"


"Kak?" Jefri berhambur memeluk Darwin.


"Hai aku tidak sengaja ada di sekitar sini dan melihat kalian sedang bermain," ucap Darwin sambil mereka duduk di bangku taman.


"Ah ia Kak,"


"Kenapa?"


"Hanya kaget saja Kak," Callista nyengir sambil menunjukkan gigi putihnya.


"Apa yang kalian lakukan?"


"Papi Jefri tadi bermain dengan kupu-kupu," celotehnya.


"Dan Mami?" Darwin melirik Callista yang sedikit tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini seperti sudah keluarga lengkap.


"Mami baca buku sambil tersenyum Papi."


Wajah Callista bersemu merah mendengar celoteh Jefri dan Darwin merasa bahagia Callista terlihat baik-baik saja. Rayan yang tidak jauh dari mereka mengabadikan momen tersebut dan mengirim ke Willy.


"Mereka hanya sebatas Kakak adik Tuan, anak kecil tersebut menganggap Nona Callista Mami yang tidak pernah dia kenal karena sudah lama pergi jauh dan dari kehidupan mereka."


"Soal hubungan Calista dan pria itu?" tanya Willy datar.


"Maaf Tuan pria asing tersebut yang tidak lain bernama Darwin menginginkan Nona menjadi Ibu sambung dari Putranya," balas Rayan.


"Apa?"


"Tapi Tuan sepertinya Nona Callista menolak,"


"Kenapa?"


"Saya belum mengetahui soal ini Tuan sampai saat ini maaf," balas Rayan merasa bersalah.


"Callista kau ... ada apa denganmu sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku sampai kau tega meninggalkanku tanpa sebab dan mengembalikan cincin anniversary milik kita berdua.


Willy tidak bisa berkonsentrasi lagi lalu memilih duduk di balkon kamar asramanya sambil memikirkan laporan Rayan tiap hari kepadanya. Semua bayangan Calista selalu terlintas di benaknya dan tidak bisa dilupakannya sedikitpun.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen


\=> Share ke tiap Grup chat

__ADS_1


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2