Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Grub Burk


__ADS_3

Mbok sedikit lega kembali menceritakan semuanya kepada Darwin bagaimanapun Mbok yakin Darwin pasti membantu Callista keluar dari rasa trauma yang ia miliki. Apakah Darwin yang akan mengembalikan kebahagiaan Callista dan Willy?


Keesokan harinya suasana meja makan pagi hari sedikit canggung, Darwin banyak diam dan memakan sarapannya sama halnya dengan Jefri yang sudah diajarkan sopan santun ketika sedang makan, Callista sesekali melirik ke arah Darwin merasa gugup.


"Apa dia marah karena aku menolaknya kemarin makan malam berdua?" batin Callista.


"Jefri, Papi kemungkinan lama pulang kamu jangan nakal ya, Nak!' pesan Darwin.


"Iya Papi," jawab Jefri sambil tersenyum manis.


"Papi berangkat kerja," tidak lupa Darwin memberikan ciuman hangat ke kening sang Putranya.


"Aku pergi," hanya kata itu keluar dari mulut Darwin sedari tadi pagi.


Mbok yang melihat raut wajah Callista berubah menyentuh lengannya dan tersenyum mengartikan semua baik-baik saja.


"Mami, Jefri ingin makan es krim boleh tidak?" ucapannya pelan dan sedikit takut.


"Boleh tapi bukan sekarang Sayang,"


"Kapan, Mami?" tanya Jefri berbinar.


"Nanti siang kita beli bersama dengan Mbok,"


"Asik." Jefri meloncat-loncat saking senangnya.


"Jangan meloncat Sayang kamu baru sarapan nanti muntah!"


"Baik Mami."


Jefri begitu menurut sekali kepada Calista apa yang dilarang Jefri tidak pernah membangkang dan melawan karena Darwin telah mengajarinya dengan baik padahal hubungan Jefri dan Callista tidak ada namun Jefri sudah menganggap Callista layaknya Ibu kandung yang tidak pernah dia kenal sama sekali.


Tempat lain, Darwin yang sudah mendapatkan akses informasi soal Willy merasa ragu-ragu menghubunginya bagaimana tidak, Callista jika balik ke Willy dia, Jefri akan kembali kesepian. Begitu egoisnya bukan Darwin sampai ragu-ragu akan apa yang hendak di tuntaskan ini?


Darwin sakit mendengar langsung jawaban Callista benar-benar menolaknya karena masa lalunya akibat perbuatan Ibu Kanita, diam-diam Darwin menyelidiki keluarga Callista dan mengetahui semua kebenarannya.


"Kau sungguh menderita Callista Ibu macam apa yang tega melakukan itu kepada Putrinya, ya Putri tiri dari pernikahan kedua," gumam Darwin.


Tidak tahu kenapa kedua kaki Darwin telah menginjakkan grup Burk yang begitu menjulang tinggi sekali, begitu banyak karyawan terlihat sibuk dan sesekali memperhatikannya, seorang pegawai menghampiri Darwin.


"Tuan apa ada yang saya bisa bantu?"


"Maaf apa bisa saya bertemu dengan sekretaris Rayan?"


Pegawai tersebut memperhatikan Darwin dari atas sampai ke bawah penuh selidik bagaimana tidak, sosok yang hendak ditemui Darwin merupakan orang berpengaruh kedua di grup Burk.


"Apa anda sudah membuat janji , Tuan?" Darwin menggeleng.


"Tapi kau bisa mengatakan kepada sekretaris Rayan namaku adalah Darwin mungkin beliau sudah mengetahuinya," sang pegawai tidak menaruh curiga lagi lalu membawa Darwin ke dalam.

__ADS_1


"Ikut saya!"


Darwin tidak percaya dia bisa masuk ke grup Burk dengan mudah dan tanpa ada hambatan, semua menoleh ke Darwin bahkan ada yang berbisik dengan sosok pria blasteran tersebut.


"Silah, 'kan Tuan!"


"Terima kasih," ucap Darwin tulus.


Darwin begitu gugup karena sudah tepat berada didepan ruangan Rayan, tiga kali Darwin mengetuk pintu dan terdengar suara khas pria lanjut usia namun masih terlihat aura jiwa mudanya.


"Masuk!"


Darwin masuk dan kagum dengan ruangan Rayan yang begitu besar dan mewah bahkan mengalahkan restorannya.


"Tuan selamat siang." Rayan menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke sumber suara yang tidak pernah didengar.


"Kau?"


"Perkenalkan saya Darwin Tuan," Rayan begitu terkejut melihat kedatangan Darwin ke kantornya.


"Jangan ada masuk ke ruanganku!" ucap Rayan kepada asistennya.


"Baik Pak," Darwin semakin gugup dengan ekspresi Rayan yang terlihat begitu aneh.


"Silakan duduk!" Rayan begitu sopan kepada Darwin karena berhubungan dengan orang yang disayangi Tuan mudanya dalam naungan Darwin.


"Terimakasih,"


"Maaf apa saya boleh bertemu dengan Tuan muda Willy?" Rayan membuang nafasnya pelan.


"Jadi kau sudah tahu, Tuan?" Darwin terbelalak.


"Jagalah Nona muda kami karena Tuan muda akan segera kembali terima kasih sudah menolong Nona selama ini Tuan Darwin."


"Kau tahu namaku?"


"Semua," jawab Rayan yang tegas.


"Dan Callista-"


"Iya."


"Kalau boleh tahu kenapa Callista pergi meninggalkan Tuan muda?"


"Hal pribadi tidak boleh diketahui orang luar Tuan Darwin,"


"Dan ini harus aku ketahui," jawab Darwin mulai tidak takut lagi.


"Kau tentu sudah tahu jawabannya Tuan Darwin,

__ADS_1


"Tapi Callista tidak pernah cerita Tuan Rayan,"


"Karena itu hal pribadi seperti yang sudah kukatakan," Rayan mulai merasakan membuang waktunya yang tidak berguna.


"Pribadi dan menghancurkan hidupnya,"


"Apa?"


"Aku sungguh kasihan dengan kalian ternyata sedikitpun tidak ada yang tahu apa yang dialami Callista selama ini sebagai pria Aku mengatakan kalian lemah menjaga wanita."


Kedua bola mata Rayan melotot dan tidak percaya, tidak terima apa yang dikatakan Darwin lalu tanpa sadar Rayan menarik kerah kemeja Darwin.


"Katakan apa yang terjadi dengan Nona muda,"


"Lepaskan!" Darwin mengempaskan kedua tangan kekar Rayan.


"Pertemukan aku dengan Tuan muda Willy!"


"Itu tidak akan pernah terjadi sebelum aku mengetahui kebenarannya," Rayan masih ngotot dengan prinsip cara kerjanya dan tidak mau melapor sebelum hasil kerjanya benar-benar real.


"Kau ternyata pengawal yang begitu setia Rayan aku kagum kepadamu kesetiaanmu kepada majikanmu sampai hari ini," ucap Darwin sedikit tersenyum. Rayan benar-benar sudah ingin menghajar Darwin karena berani kepadanya jika tidak soal Tuan muda tidak tahu bagaimana nasib Darwin saat ini di tangan sosok Rayan.


"Ingat Tuan Rayan pertemukan saya dengan Tuan muda." Darwin meninggalkan ruangan Rayan begitu saja tanpa mempedulikan semua karyawan menatapnya heran.


Dalam mobil Darwin menghirup udara sedalam-dalamnya lalu meraih botol air mineral dari diteguk ya sampai habis.


"Apa aku sudah terlihat bagus akting yang aku perankan aku tidak bisa bayangkan Rayan akan berbuat lebih kepada aku di dalam sana. Aku harap dengan ini masalah Callista kelar biarlah waktu menjawab ini semua, rasa Cintaku kepadamu Callista tidak akan pernah pudar sampai kau mengatakan yang sebenarnya kepadaku." Darwin melajukan mobilnya menuju ke restoran miliknya dengan perasaan yang berkecamuk.


Di taman yang tidak jauh dari tempat tinggal, Callista Jefri dan Mbok menikmati sepotong es crim yang baru saja mereka beli. Jefri begitu menikmatinya sampai wajahnya belepotan menikmatinya membuat Callista begitu gemas melihat Jefri yang begitu lucu.


"Kenapa kamu makannya seperti ini Sayang lihat wajahmu jadi tidak tampan lagi,"


"Enak Mami," jawab Jefri polos.


"Tapi kamu tidak akan tampan lagi Sayang," goda Callista.


"Yang penting tampan di depan Mami," celotehnya. Mbok dan Callista tertawa pelan.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen


\=> Share ke tiap Grup chat

__ADS_1


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2