
Willy sudah meninggalkan Toko Callista dan kembali ke Mansion untuk belajar lebih dalam cara berbisnis dengan guru privat. Rumah yang terlihat tidak mewah, Callista tiba dengan wajah yang sedikit lelah langsung menuju ke kamar merebahkan tubuh langsingnya. Sepintas Callista mengingat ia dan Mbok baru saja menaiki jet privat Willy yang pertama kali baginya.
"Kenapa kau kaya sekali Willy aku merasa kita dua jauh sekali."
Callista tidak lama akhirnya tertidur pulas sampai sore hari dan tidak menyadari Kanita baru saja kembali dari tempat perkumpulan sosialitanya masuk dan melihat Callista tidur begitu pulas sekali.
"Dasar anak malas." Tidak tahu kenapa tiap kali kanita melihat Callista seperti ini darahnya mendidih.
"Callista!"
"Ah," begitu terkejutnya Callista sampai jidatnya terbentur ke tembok.
"Ibu mengagetkanku," ucapnya sambil mengusap jidatnya yang memerah.
"Mana penghasilan kemarin!" ucap Kanita tidak menghiraukan perkataan Callista. Begitu kabarnya Callista menuju ke nakas dan mengambil uang dan menyerahkan kepada Kanita semuanya.
"Bagus bekerja, 'lah dengan baik," ucap Kanita lalu meninggalkan Callista begitu saja.
"Bu," panggil Callista.
"Apa?"
"Callista masih boleh kuliah, 'kan?"
"Tidak boleh, mulai besok kau tidak perlu kuliah lagi cari uang saja karena Dita masih membutuhkan uang lebih,"
"Deg!"
"Tapi Bu aku-"
"Apa kau tidak mendengar perkataanku Callista Dita menginginkan uang lebih kau harus membantu Ibu mencari uang, kuliah di di luar negeri biaya begitu besar Callista!" bentak Kanita.
"Kumohon Bu biarkan aku kuliah, aku akan berusaha mencari uang lebih banyak lagi," lirihnya sambil mengatupkan ke dua tangannya di dadanya bahkan kedua bola matanya terlihat sudah berkaca-kaca.
"Astaga lihat kenapa wajahnya terlihat imut sekali seperti itu siapapun yang melihatnya pasti menginginkannya," ucap Kanita dalam hati.
"Kau yakin?" tanya Kanita penuh selidik.
"Iya Bu Calista pasti bisa," ucapnya penuh percaya diri.
"Lakukan dan buktikan jika tidak kau akan-"
"Callista akan turuti semua kemauan Ibu," potongnya.
"Ya ampun anak ini benar-benar sudah tidak waras," gumam Kanita.
"Baik. Ingat jika gagal kau akan tahu akibatnya!"
Kanita pergi meninggalkan Callista begitu saja sambil tersenyum bahagia sesekali mencium uang yang telah diberikan Callista cukup untuk melakukan sekali shopping.
__ADS_1
"Dasar anak bodoh, mau sekali di bodoh bodohin," ucap Kanita sambil tertawa menuju ke kamarnya.
Callista tergeletak tempat tidurnya dan merasa sedikit bingung untuk memulai mengembangkan usahanya, modal yang ia pegang bahkan tidak cukup untuk membeli buah buahan baru untuk dibagi setiap ke pelanggannya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Callista menggigit bibir bawahnya sambil memikirkan cara.
"Apa aku minta tolong ke Willy saja tapi ... dia sudah banyak membantu selama ini bahkan dia memberikan hadiah kepadaku. Aku tidak tega dan tidak sanggup apa nanti perkataan keluarganya aku memperalat anaknya?" Callista bingung dan kepalanya sedikit sakit dan pening.
Callista mengutak Katik ponselnya meminta bantuan kepada temannya untuk membantu mengembangkan Toko miliknya, namun satupun tidak ada yang mau semuanya sibuk. Callista bingung dan memilih menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang begitu lengket sekali.
"Apa aku menyerah saja tapi ... Kuliahku? Bagaimana ini?" ucapnya sambil mengusap wajahnya sedikit kasar. Callista seketika mengingat teman Kanita yang hendak bekerja sama mengembangkan Tokonya ke luar negeri.
"Dari kemarin teman Ibu tidak pernah datang dan siapa dia kenapa mau bekerja sama dengan kami aneh rasanya tidak mungkin?"
"Callista!" teriak Kanita kesal.
"Callista ada di dalam,Bu," jawabnya.
"Kau mandi apa mau menjadi gentayangan?"
"Sebentar Bu,"
"Dasar anak tidak untung!"
Callista keluar dengan rambut yang basah dan menunduk melihat Kanita yang melotot kepadanya karena begitu lamanya Callista lama sekali berada di kamar mandi.
"Kau berdandan, 'lah secantik mungkin!"
"Menemui teman Ibu dari luar negeri, cepatlah!"
"Kenapa kebutuhan sekali?" gumam Callista.
"Tapi Bu-"
"Callista cepat jangan buang waktu!"
Kanita meninggalkan Callista begitu saja dan menuju ke kamar untuk merias dan mempercantik dirinya agar terlihat sempurna nanti di hadapan sahabatnya itu dan tidak mempermalukan dirinya sendiri.
"Sebenarnya siapa teman Ibu sampai aku disuruh berdandan seperti ini?" gumam Callista memandangi wajahnya yang terlihat begitu cantik sekali di cermin meja riasnya. Lamunan Callista buyar karena ponselnya berdering.
"Halo Willy,"
"Hai Sayang," day hay willy mengeryit melihat Callista yang tampak beda sekali.
"Kau mau ke mana?" suara Willy terdengar begitu berat sekali.
"Aku mau keluar bersama Ibu Will,"
"Keluar dengan memakai riasan seperti itu?" Willy terlihat kesal sekali melihat Callista terlihat begitu cantik sekali beda jika mereka jika berduaan.
__ADS_1
"Maaf aku tidak mengabari kamu sebelumnya, aku dan Ibu ingin bertemu dengan teman kerjaanya kamu jangan marah aku dandan seperti ini atas permintaan Ibu Willy," Willy mendengus kesal mendengar perkataan Callista.
"Kemana kalian akan pergi?"
"Ibu yang mengetahuinya aku ikut saja Willy," ucapnya begitu polos.
"Kau yakin kalian hanya melakukan kerjasama bukan hal yang lain?"
"Kau tidak percaya kepadaku lalu ini apa artinya?" tunjuk Callista pada hari manisnya cincin yang diberikan Willy saat mereka merayakan anniversary ketiga mereka.
"Baik aku percaya kepadamu ingat jaga dirimu aku tidak mau kalau kenapa-napa Sayang," ucap Willy sambil mengusap wajahnya kasar.
"Iya Willy."
Callista dan Ibu Kanita menuju salah satu Hotel di kota tersebut dan mereka disambut begitu hangat karena Kanita adalah tamu VVIP.
"Selamat malam dan selamat datang ikutlah dengan kami, silahkan Nyonya!" ucap mereka lembut sekali.
"Bu kita mau ngapain di sini?"
Callista terlihat tidak nyaman dengan pandangan orang-orang kepadanya yang terlihat begitu beda sekali apalagi mata mereka terlihat menginginkan Callista saat ini juga.
"Jangan buat aku malu Callista ikut saja!" bisik Kanita sedikit geram.
"Semoga tidak terjadi apa-apa nanti di dalam sana," ucap Callista dalam hati dan mengikuti langkah Kanita dari belakang.
Pintu terbuka dan sosok yang terlihat begitu berkelas telah sudah menunggu mereka dengan senyuman yang mengembang, Kanita langsung memeluk sahabatnya itu dan merapikan kerah pria tersebut sambil terlihat begitu menggoda calista yang melihat Kanita melakukan adegan itu di hadapannya tubuhnya bergetar.
"Kanita siapa wanita ini?" Ronald memperhatikan Callista dari atas lantai ke bawah dengan tatapan jember binar.
"Putriku Ronald, perkenalkan Callista sini!"
Callista berjalan sambil menundukkan wajahnya tidak berani menatap wajah Ronald yang begitu terlihat menakutkan.
"Callista Om," ucapnya pelan. Wajah Ronald terlihat pias Callista memanggilnya sebutan Om. Kanita yang menyadari wajah Ronald berubah langsung mencairkan situasi.
"Bagaimana kalau kita menikmati makan malam dulu," ucap Kanita. Ronald mengiyakan dan mereka makan malam bersama.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
\=> Share ke tiap Grup chat
__ADS_1
Salam hangat dari author PERA🤗