Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Kepalaku pusing


__ADS_3

Satu tahun telah berlalu tidak ada yang berubah sedikitpun dari Callista, menjalani hidupnya layaknya seorang Ibu bagi Jefri. Pertemuan Darwin dan Rayan bahkan tidak ada kemajuan, Rayan tetap ngotot pada prinsipnya tidak mempertemukan Willy dan Darwin sebelum mengetahui kebenarannya namun Rayan tetap mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Callista.


Sosok pria tinggi, tegap keluar dari mobil yang ada hanya beberapa di dunia tersebut semua yang melihat kedatangannya membuat para kaum hawa menjerit di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di tanah air tersebut.


"Randy kepalaku pusing," ucapnya sambil melangkah masuk kedalam tanpa memperdulikan yang menyapanya.


"Baik Tuan muda." Randy adalah asisten dan sekaligus tangan kanan Willy juga Putra dari Rayan sudah bisa memerankan pekerjaannya dari didikan sang Ayah kandung sejak dini.


Tidak tahu apa yang dilakukan Randy para pengunjung yang mengelilingi Wily sedari tadi secara perlahan membubarkan diri. Langkah Willy berhenti tepat di depan toko perhiasan karena melihat kalung berlian beserta cincin seketika Willy teringat kepada Callista.


"Apa dia mau menerima benda ini sadarlah Willy, Calista dia wanita yang sederhana," ucapnya pada dirinya sendiri. Namun tidak tahu perasaan apa yang mendorong Willy memutuskan membeli benda pasangan tersebut dengan harga yang begitu fantastis.


Willy yang kembali ke tanah air tidak ada yang mengetahui kepulangannya kali ini bahkan, kedua orang tuanya William dan Letizia sama sekali tidak tahu. Mobil mewah tersebut memasuki sebuah Mansion yang terlihat begitu megah dan para bodyguard, Maid langsung memberikan hormat kepada Tuan muda mereka yang baru saja kembali.


"Selamat datang kembali Tuan muda," ucap mereka secara bersamaan.


"Terima kasih."


"Apa Daddy dan Mommy ada di dalam?" tanya Willy.


"Tuan besar dan Nyonya sedang santai di dalam Tuan muda," jawab Maid sedikit gugup karena kagum akan ketampanan Willy yang begitu sempurna sekali beda terlihat terakhir kali ketika Willy berangkat ke Swiss tahun lalu.


Willy masuk membuka kaca mata hitamnya orang yang dia rindukan selama ini akhirnya bisa dipeluknya.


"Daddy, Mommy!" panggil Willy lembut. Letizia mengemil sambil bersandar di dada William terkejut mendengar suara Willy.


"Willy!" Letizia berdiri dan langsung memeluk Putra kesayangannya itu lalu menciumi wajah tampannya sampai membuat William cemburu.


"Aku kembali," ucap Willy sambil mencium pipi kanan Letizia.


"Kenapa tidak memberi tahu kami kau kembali, Nak?" tanya William.


"Kejutan Daddy lagian aku jadi puas menikmati kota kelahiranku ini," ucapnya sambil unjuk gigi.


"Dasar."

__ADS_1


"Jadi kau sudah memutuskan memimpin perusahaan Daddy baguslah. Daddy akhirnya bisa pensiun dan menghabiskan waktu dengan Mommy," ucap William tanpa dosa.


"Sayang," Letizia mencubit pelan paha William dan wajahnya bahkan bersemu merah.


"Daddy jangan membahas soal perusahaan aku butuh udara baru bulan lalu aku lulus dan harus memimpin perusahaan kepalaku rasanya ingin meledak Daddy," jawab Willy lemas.


"Sayang berikan waktu kepada Willy dulu," bela Letizia. Willy yang merasa dibela oleh Mommy mengambil kesempatan bermanja-manja dipelukan Letizia sampai William kepanasan, apalagi Willy sengaja meletakkan wajahnya ke leher jenjang Letizia yang biasanya tempat dia menghirup udara segar jika lelah.


"Dasar bocah," gerutu William dan Willy tertawa kecil telah berhasil menggoda Daddy William.


Willy naik ke atas menuju kamar pribadinya secara perlahan pintu mulai terbuka, sudah lama Willy tidak menghirup aroma kamarnya ini lalu dia rebahkan tubuh lelahnya ke tempat tidur King size tersebut.


"Callista," lirih Willy lalu merogoh kalung dan cincin yang dia beli tadi.


"Aku sudah tidak sabar lagi menemuimu dan kita bisa kembali seperti dulu lagi," ucap Willy lalu semakin lama kedua bola mata abunya tertutup dan tidur begitu pulasnya.


Di kota lain Callista menikmati peran barunya saat ini yang sudah tidak bekerja lagi di restoran Darwin dan bekerja di rumah sebagai asisten namun Darwin menganggap Callista lain daripada asisten utama di rumah.


"Menu malam ini apa, Callista?" tanya Darwin dari belakang jarak mereka berdua begitu dekat sekali sampai Callista tidak nyaman.


"Nasi goreng spesial Kak sesuai permintaan Jefri," jawabnya gugup.


"Sebentar Kak sedikit lagi kog."


Darwin duduk dan memperhatikan Callista memasak begitu telaten sekali hal inilah yang di sukai Darwin dari Callista bisa memasak apapun beda dengan author tidak tahu memasak.


"Jika Callista menjadi Isteriku bisa-bisanya aku hanya satu hari gemuk." Darwin senyum-senyum dengan sendirinya sampai tidak menyadari kedatangan Jefri.


"Papi, kenapa?" ucapnya pelan lalu Jefri menghampiri Darwin dan memperhatikan tatapan sang Papi dan menoleh ke Callista. Sebuah ide terlintas di benak Jefri untuk menyadarkan Darwin.


"Mami awas ada kecoa," teriak Jefri begitu keras sekali membuat Callista dan Darwin kaget.


"Kecoa, mana?" jerit Callista lalu berhambur memeluk Darwin dan mereka berdua jatuh secara bersamaan Darwin di bawah dan Callista di atas. Jefri tertawa terbahak-bahak dan merasa tidak bersalah dengan apa yang dia lakukan.


"M-maaf Kak," ucap Callista gugup lalu berdiri.

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa Callista aku senang kog," jawab Darwin tanpa sadar.


"Apa?"


"Tidak kau lanjutkan saja memasak," ucapnya cepat dan menoleh ke Jefri yang sedang mengacungkan jempol lalu berlari ke ruang tengah meninggalkan Callista dan Darwin.


Callista kembali memasak walau jantungnya berpacu karena ia tidak sadar telah memeluk Darwin. Tubuh Callista seketika merinding dan teringat kepada Willy ketika mereka berpelukan terakhir kali di puncak merayakan anniversary ke tiga mereka.


"Aku merindukanmu Willy," lirihnya.


"Apapun kata orang dan dunia aku munafik karena merindukanmu namun tidak menginginkan sosokmu aku tidak peduli karena kamu sampai saat ini aku bertahan," tambah Callista lalu menata meja makan.


Callista memanggil Darwin, Jefri dan Mbok agar makan malam. Suasana makan malam berakhir dengan perasaan yang begitu canggung sekali. Mbok sesekali mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi namun sulit di temukan.


"Pasti ada sesuatu antara Nona dan Tuna muda sepertinya hubungan mereka ada kemajuan," ucap Mbok berspekulasi sendiri tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Sela makan malam yang ada canggung antara Darwin dan Callista ponsel Darwin langsung memecahkan keheningan di meja makan tersebut.


"Ada apa?" tanya Darwin tenang.


"Tuan kita mendapatkan informasi bahwa Tuan muda Willy kembali ke tanah air tiga jam yang lalu," ucap anak buah Darwin yang sudah jauh-jauh hari menyewa mereka semenjak Rayan tidak mau memberitahu keberadaan Willy.


"Apa?" Callista, Mbok dan Jefri melihatnya sedikit curiga.


"Nanti aku menghubungi kalian tetap bekerja dengan baik!" ucap Darwin tenang agar Callista tidak curiga.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen

__ADS_1


\=> Share ke tiap Grup chat


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2