
Callista kaget luar biasa langsung menutup bibir tipisnya dengan kedua tangannya sampai membuat Willy tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah kekasihnya itu yang begitu menggemaskan.
"Willy jangan macam-macam disini!" ucap Callista sedikit mundur bahkan kedua bola matanya juga fokus melihat sekitarnya. Willy menarik Callista dan membawanya kedalam pelukannya kepada pujaan hatinya tersebut. Callista merasa tidak nyaman akan pelukan Willy dan berusaha untuk melepaskannya namun Willy menolak.
"Biarkan kita seperti ini sebentar Sayang!" ucap Willy sambil mencium aroma kulit Callista yang mampu membuatnya melayang. Callista merasa tubuhnya merinding akan sentuhan Willy kepadanya. Masih dalam dekapan tubuh kekar Willy, merasakan kedua jantung sepasang kekasih tersebut berpacu begitu cepat sekali. Merasa cukup, Willy melepaskan pelukannya dan menatap penuh cinta wajah Callista.
"Aku pergi. Jaga dirimu disini baik-baik sampai aku kembali nanti!" ucap Willy dan tidak lupa mengucapkan pipi mulus Callista.
Iya. Kamu juga hati-hati di jalan jangan ngebut." Willy tersenyum lalu meninggalkan Callista.
Callista membuang napasnya sedikit kasar tubuhnya bahkan merinding dengan sentuhan Willy yang mampu membuatnya melupakan segalanya.
"Ada apa denganku? astaga." Callista menepuk jidatnya lalu kembali masuk kedalam dan mendapati Darwin sedang bekerja namun, Callista hanya berlalu melewati Darwin begitu saja menuju kebelakang.
"Dia tidak menyapa aku?" gumam Darwin dengan nada kecewa, tidak mau memikirkan Callista, Darwin kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
__ADS_1
Dari arah dapur, Callista melangkah menuju kedepan membawakan secangkir teh hangat dan letakkan di atas meja kerja Darwin begitu pelan.
"Sudah berapa lama Kakak bekerja? minum dulu, tidak baik bekerja tidak minum pinggang Kakak bisa panas nantinya!" ucap Callista sudah seperti istri mengomeli Darwin.
"Kau-" Callista langsung memotong perkataan Darwin begitu cepat.
"Jangan berwajah seperti itu Kak, Callista takut," candanya.
"Dasar kau ini," kekeh Darwin lalu menyeruput teh buatan Callista.
"Sedikit lagi Callista. Oh ya Willy sudah pergi?" tanya Darwin.
"Sudah Kak," jawab Callista sedikit tersipu malu.
"Jangan tersipu malu seperti itu, Kakak juga pernah di posisi kamu," ledek Darwin.
__ADS_1
"Kak, jangan goda-goda Callista, malu," ucapnya pelan sambil memegangi kedua pipinya yang sudah bersemu merah.
"Dasar kamu ini." Darwin tertawa kecil dan tidak sengaja mengusap kepala Callista lembut.
"Kak. Jeffri bagaimana?" tanya Callista sambil membantu Darwin menyusun laporan restoran pelan-pelan.
"Sebelum kesini kakak masukkan dia asrama, Callista. Kau tahu usia dia sudah cukup belajar mandiri," jawab Darwin pelan.
"Jeffri tidak menangis, Kak?" tanya Callista begitu penasaran soal Putra yang sudah ia anggap anaknya dulu.
"Tidak. Dia bahagia Callista, katanya tinggal di asrama aku banyak teman dan dia menyukainya," ucap Darwin terkekeh namun dari kedua bola matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam.
Willy yang telah tiba di mansion milik keluarganya masuk dengan perasaan yang begitu bahagia sekali, sampai para pelayan yang melihatnya tercengang. Di ruang tengah yang begitu luas William, Letizia dan Leonore sama menatap Willy begitu beda sekali sampai susu milik Leonore tumpah di lantai.
"Hai semua, selamat malam Daddy, Mommy dan adik manis Leonore. Dad, Mom Willy ingin bicara serius dengan kalian soal Callista," ucapnya sambil mendaratkan bokongnya di sofa empuk tersebut.
__ADS_1