
Callista dan Willy kini tinggal mereka berdua dalam rumah sederhana milik kedua orang tua Callista dengan perasaan yang begitu gugup dan canggung.
"Callista!" panggil Willy pelan, secara perlahan menyentuh tangan mulus Callista.
"Willy!" Callista menatap wajah tampan Willy rasa gugupnya telah terlihat di mata abu milik Willy yang terlihat begitu indah sekali.
"Kamu mau tidak ikut menemuiku keluarga besarku?" ucap Willy halus.
"Sekarang?" tanya Callista begitu polosnya bahkan, kedua bola matanya terlihat seperti bayi yang ingin minta jajan es krim. Willy menatap wajah Callista ingin makan kekasihnya itu detik ini juga.
"Tidak. Tahun depan kita temui Mommy dan Daddy," jawab Willy sedikit cemberut.
"Kamu ini ada-ada saja, Willy." Callista tertawa kecil melihat sifat Willy yang terlihat begitu lucu.
"Sayang!" panggil Willy pelan sambil mengusap kedua tangan Callista lalu diciumnya lembut.
"Ada apa, Willy?" Callista terlihat begitu canggung dan gugup ketika Willy memanggilnya dengan sebutan sayang apalagi dengan tingkah Willy yang membuatnya jantungnya Seraya mau melompat keluar.
"Aku boleh bertanya tidak?" ucap Willy halus.
__ADS_1
"Apa itu will tanya?" Callista penasaran dan menatap wajah tampan Willy sekilas.
"Soal Darwin," ucapnya sedikit canggung dan Callista yang menyadari maksud perkataan Willy lalu tersenyum lebar.
"Kak Darwin ... kami hanya sebatas kakak adik saja Willy, kamu tahu bukan Mbok sudah aku anggap Ibu kandungku jadi-"
"Iya aku tahu Sayang aku bangga melihatmu dan semua adalah orang-orang yang aku cintai dan sayangi," potong Willy cepat namun suaranya halus, seketika Willy langsung memeluk Callista begitu erat.
Sore jelang malam Willy telah bersiap hendak menuju Mansion tempat tinggalnya, Willy, Callista sebelumnya pamit kepada Mbok.
"Ibu, Callista. Aku akan kembali menjenguk kalian kesini lagi dengan cara yang lebih baik lagi," ucap Willy sopan.
"Hati-hati dijalan Nak dan ... berikan salam Ibu kepada Tuan dan Nyonya besar," ucap Mbok lirih.
"Ibu masuk dulu ada pekerjaan penting yang belum selesai," alasan Mbok karena tidak enak melihat wajah canggung sepasang kekasih yang baru saja kembali itu. Callista menghantarkan Willy sampai menuju mobil sport miliknya yang sudah terparkir rapi di halaman teras rumahnya dan di sana sekretaris Rayan sudah siap menyambut Tuan mudanya.
"Aku akan kembali secepatnya," ucap Willy sambil menatap wajah Callista yang terus menunduk itu.
"Iya. Kamu hati-hatilah di jalan jangan ngebut!" pesan Callista.
__ADS_1
"Siap Nyonya Burk," canda Willy. Calista terkekeh melihat Willy yang menghormat kepadanya.
"Astaga kamu ini." Callista menurunkan tangan Willy yang yang masih menghormati dirinya karena malu sekretaris Rayan memperhatikan mereka sedari tadi.
"Aku ingin terus bersamamu Sayang malam ini." Willy mulai terlihat manja dan tidak menanggapi perkataan Callista.
"Willy jangan aneh-aneh. Apa kamu mau para warga melihat kita seperti ini?" Callista melirik kiri dan kanan memastikan warga tidak ada melihat apa yang mereka lakukan apalagi jarak di antara mereka begitu berdekatan sekali. Willy tertawa kecil melihat wajah panik pujaan hatinya yang begitu polos sekali.
"Boleh tidak aku menikmati buah ceri milikmu sebelum aku kembali, Sayang?" goda Willy yang benar-benar serius ingin melakukannya di areal terbuka. Callista kaget luar biasa dan langsung menutup bibir tipisnya dengan kedua tangannya.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
__ADS_1
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗