Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Tinggal seseorang


__ADS_3

Sepintas Baron mengingat Emma yang telah meninggalkannya dulu tanpa ada kejelasan sedikitpun. Rasa bersalah Baron semakin besar karena bisa terjerumus kedalam dunia Dina dan melupakan kekasihnya.


"Emma ... sedang apa kau dan dimana sekarang," ucap Baron pelan sambil memejamkan kedua bola matanya sambil menitikkan bulir bening yang lolos begitu saja dari sudut matanya.


Sebuah desa kecil, sosok wanita cantik yang sudah lama tiba di salah satu rumah sederhana, histeris melihat peninggalan kedua orangtua yang ia sangat rindukan. Callista memeluk foto kedua orang tuanya begitu erat sekali karena baru sekali ini ia bisa melihat wajah Ibu kandungnya.


"Ayah, Ibu." Callista terus menangis memeluk benda ukuran sedang tersebut.


"Nona tenangkan diri anda," ucap Mbok sambil mengusap punggung Callista lembut.


"Mbok aku ... aku pikir Ibu Kanita adalah-"


"Maafkan Mbok Nona tidak beritahukan selama ini," ucap Mbok merasa bersalah.


"Aku tahu Mbok. Ayah tidak memberitahukan ini kepadaku ternyata Ibu Kanita hanya menginginkan kekayaan Ayah saja." Callista terus menangis sampai kedua bola matanya bengkak.


"Tuan besar hanya ingin Nona memiliki Ibu, karena Ibu yang melahirkan Nona sudah lama berpulang ketika Nona masih bayi. Tuan menikah lagi namun, salah menilai Ibu Kanita tidak sesuai yang dilihatnya," lirih Mbok sambil menangis juga.


"Ayah," ucap Callista memeluk erat foto kedua orang tuanya sambil menangis.


"Maafkan Mbok Nona baru memberitahukan sekarang ini," ucap Mbok merasa bersalah sekali menutupi siapa sebenarnya Ibu Kanita selama ini.


"Tidak apa-apa Mbok Callista tahu alasan Mbok selama ini. Aku yang salah Mbok sempat membenci Ayah dulu kenapa aku memiliki Ibu seperti Ibu Kanita sampai aku mengalami hal buruk dan aku-"


"Nona semua sudah berlalu, Tuan muda tetap menerima Nona apa adanya juga seluruh keluarganya. Lupakan Nona semua mari kita kembali memulai hidup baru," ucap Mbok lembut. Callista memeluk Mbok begitu erat sekali sambil menangis, kenyamanan, kehangatan telah memenuhi tubuh kurus Callista.


Kini, Callista tinggal seseorang dalam kamar kecil yang penuh foto ia semasa kecil bersama dengan kedua orang tuanya, senyuman hangat dari kedua orang tuanya membuat hati Callista tenang dan nyaman.


Callista merebahkan tubuhnya sambil memeluk foto kedua orang tuanya sambil memejamkan kedua bola matanya, tersenyum kecil lalu, sepintas Callista mengingat kenangan-kenangannya dulu semasa kecil bersama Ayah kandungnya di rumah ini canda, tawa jelas terdengar. Callista tersenyum namun, air matanya keluar dari kedua sudut bola matanya tanpa diundang.


"Ayah, Ibu Callista merindukan kalian," ucapnya pelan.


Mbok yang sedari tadi memperhatikan Callista dari pintu merasakan sakit melihat anak majikan itu menderita selama ini. Menjalankan amanat terakhir Tuan besarnya, Mbok rela menjaga Callista dari Kanita dan Dina yang selalu menyuruhnya mencari uang sebanyak-banyaknya lalu mereka menikmati hasilnya.


"Maafkan saya Tuan besar. Mbok tidak bisa menjaga Nona sepenuhnya ...," lirih Mbok sambil memukul kecil dadanya.


Hari sudah malam, Callista terbangun dari tidurnya yang panjang dan melihat Mbok masuk sambil membawa makan malam lalu diletakkan di atas nakas sebelah tempat tidurnya.

__ADS_1


"Nona, makan, 'lah!" ucap Mbok lembut.


"Mbok, jam berapa ini?" tanya Callista yang kesadarannya belum benar-benar pulih.


"Pukul delapan malam Nona," jawab Mbok tersenyum kecil.


"Ya, ampun Kenapa Mbok tidak bangunin, Callista?" ucapnya sambil memayunkan bibir tipisnya. Mbok merasa gemas melihat Callista seperti ini yang terlihat begitu imut sekali.


"Nona anda sungguh gemas pantas saja Tuan muda jatuh cinta kepada anda dan tidak mau melepaskan begitu saja," gumam Mbok terus menatap Callista. Tanpa sadar Callista sudah sedari tadi memanggilnya.


"Mbok, Mbok!" panggil Callista.


"Eh iya silakan makan malam Nona!" ucap Mbok merasa gugup sekali.


"Mbok, sedang pikirkan apa?" tanya Callista sambil menerima makan malamnya.


"Nona sungguh cantik sekali pantas Tuan muda jatuh cinta kepada Nona Callista," ceplos Mbok.


"Mbok bisa saja." Wajah Callista merah lalu ia menikmati makan malamnya begitu lahap sambil bercerita tentang kedua orang tuanya yang ternyata orang dermawan dan mau menolong orang-orang kampung dahulu semasa hidupnya.


"Nona, serius?" ucap Mbok senang.


"Iya Mbok. Aku ingin menyapa mereka sekalian ingin berkeliling kampung."


"Baik Nona. Mbok akan persiapkan semuanya," ucap Mbok begitu antusias sekali.


"Terimakasih Mbok." Callista memeluk Mbok tiba-tiba sampai membuat Mbok kaget.


"Nona!" panggil Mbok pelan sambil melepaskan pelan pelukan Callista.


"Ada apa, Mbok?" tanya Callista tersenyum hangat menatap Mbok.


"Maaf, sebelumnya Nona tidak risih memeluk Mbok yang hanya seorang pembantu?" ucap Mbok dengan hati-hati, Callista kembali tersenyum lebar lalu memeluk Mbok lagi.


"Mbok adalah Ibu aku mulai dari sekarang, boleh kan aku memanggil Mbok Ibu," ucap Callista semakin memeluk erat Mbok. Mbok menitikkan air matanya sudah lama tidak ada yang memanggilnya Ibu semenjak putranya pergi jauh dan tidak ada kabar sampai sekarang.


"Nona, Mbok-"

__ADS_1


"Jangan panggil Nona, Callista saja Bu," ucap Callista sambil tersenyum lebar sambil menangkup wajah Mbok yang sudah terlihat keriput. Mbok dan Callista berpelukan lalu secara perlahan Mbok bercerita soal putranya yang telah pergi dibawa seseorang yang tidak dikenalnya dulu karena keadaan mereka yang sulit.


"Apa selama ini Ibu tidak mencarinya?" tanya Callista ketika mereka sudah dalam keadaan tenang. Sedangkan Callista juga sudah merasa lebih baik dan sudah kembali kepada dirinya lagi.


"Ibu hanya mendapatkan kabar kalau Putra Ibu tinggal di ibukota, Nak," jawab Mbok pelan.


"Terus?" tanya Callista penasaran.


"Mbok menemuinya tapi katanya dia kembali keluar negeri dan dari situ Ibu tidak dapat kabar darinya sampai sekarang ini." Mbok menitikkan air matanya karena tidak bisa menemui putranya.


"Bu, Callista yakin Putra Ibu saat ini pasti sedang mencari keberadaan Ibu," ucap Callista sedikit tersenyum.


"Iya Nak semoga saja." Mbok merasa begitu sakit karena tidak bisa menemui putranya lagi.


"Oh ya apa Ibu memiliki benda peninggalan Putra Ibu atau semacamnya?" tanya Callista begitu antusias dengan Putra Mbok yang satu ini dan melupakan Willy dan semuanya seketika. Mbok tampak berpikir lalu langsung menuju ke belakang mengambil salah satu benda usang yang disimpannya dulu.


"Mobil usang?" ucap Callista sambil memperhatikan ada nama inisial seseorang huruf D.


"Yakin ini milik Putra Ibu?" tanya Callista kembali memperhatikan benda uang tersebut.


"Iya, Nak hanya ini peninggalannya lainnya Ibu sudah tidak punya lagi ...," lirih Mbok.


"Ibu, Callista ada rencana," ucapnya sambil menuju kedepan.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen


\=> Share ke tiap Grup chat


Salam hangat dari author PERA🤗

__ADS_1


__ADS_2