
Willy merebahkan Baron yang masih berbicara tidak jelas, sesekali menarik Willy untuk berpelukan mungkin Baron mengira Willy adalah Emma.
"Kau buruk sekali, Baron," ucap Willy lalu menyelimuti Baron yang sudah tertidur lelap, sebelumnya Willy sudah mengganti pakaian Baron agar nyaman beristirahat.
Willy menuju ke balkon apartemennya lalu meraih ponsel miliknya menghubungi keluarga Baron dan keluarganya mereka menginap di apartemen miliknya. Apa jadinya Willy membawa Baron ke rumahnya keadaan seperti ini?
"Apa yang dialami Baron?" ucap Willy sambil meminum wine yang tidak ada dosisnya.
"Callista," lirihnya sambil mengusap ponselnya hanya tinggal satu foto Callista yang Willy simpan. Senyuman hangat Callista membuat hati Willy ketika tenang, malam semakin larut Willy ikut tidur di samping Baron yang sudah tidur nyenyak.
Tempat lain wanita muda yang sudah siap berangkat menoleh ke belakang berharap sang pujaan hatinya melihat terakhir kepergiannya.
"Jangan membenciku Baron, aku minta maaf untuk semuanya apapun yang terjadi denganku di sana carilah wanita yang lebih baik." Emma mengusap air matanya dan masuk ke pesawat yang sudah siap take off.
Pagi hari telah tiba Baron terbangun dan memegangi kepalanya yang begitu pening, pandangannya menoleh ke Willy yang masih tertidur begitu pulas.
"Apa yang terjadi?" gumamnya lalu menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terlihat kusut sekali. Seketika Baron mengingat dia semalam terakhir kali di sebuah klub menumpahkan kekesalannya kepada Emma.
"Sial ... Emma kau ternyata benar-benar pergi meninggalkanku!" decak Baron sambil memukul dinding begitu kuat sekali.
Baron keluar dengan wajah yang tidak bersemangat mengingat sang pujaan hatinya sudah pergi meninggalkan dirinya begitu saja.
Baron terduduk di salah satu sofa pandangannya mengarah ke nakas yang tidak jauh dari tempatnya.
"Obat?"
__ADS_1
Kedua bola mata Baron terbelalak melihat berbagai jenis obat-obatan. Baron tidak bodoh mengenai obatan yang dipegangnya saat ini karena Baron adalah anak dari dokter Brian.
"Willy ... apa kau selama ini mengkonsumsi obat ini sejak kapan?" ucapnya pelan.
Willy mulai mengerjapkan kedua bola matanya karena mengenai sinar matahari yang sudah menembus ke dalam apartemennya.
"Bangun!" bentak Baron membuat Willy terperanjat kaget seketika kesadarannya terisi penuh.
"Apa-apaan kau Baron?"
"Sejak kapan Abang meminum ini katakan!"
Willy mendengus dan tidak menjawab pertanyaan Baron, langkahnya menuju ke meja sofa meraih air putih diteguknya langsung satu gelas.
"Kau tidak perlu tahu ini kehidupanku Baron," ucap Willy tenang dan duduk dengan santai tanpa memperdulikan ekspresi wajah Baron sudah mengeras.
"Kau tahu mengonsumsi banyak akan-"
"Paling mati," potong Willy tenang dan tidak peduli.
"Kau!" Baron mencengkram kerah baju Willy tatapannya tajam sekali.
"Lepaskan! Baron kau saja tidak peduli dengan kehidupanmu dan terjun ke klub, kau tahu terlambat aku datang kau bakal merusak anak orang bagaimana nanti perasaan Emma kepadamu."
"Deg!"
__ADS_1
Baron melepaskan tangannya dan terlihat wajahnya dingin dan kedua tangannya terkepal.
"Baron jangan katakan kau dan Emma-"
"Jangan membahas wanita itu, Bang!"
"Kenapa?"
"Dia pergi, sama halnya dengan Callista," ucapnya dingin.
kini kedua pria tampan tersebut diam dan pikiran ke tempat lain. Mengalami Cinta yang digantung tidak akan membuat hati dan pikiran kita pendek teruslah berjuang meraih bahwasanya kesetiaan itu tetap akan menjadi satu hati by Pera.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗
__ADS_1