
Hati Emma bagaikan ditusuk beribu jarum mendengar perkataan Baron barusan, ini pertama kalinya dia melihat sisi Baron. Baron langsung meninggalkan Emma begitu saja dengan perasaan kacau balau.
"Baron," lirih Emma menahan dadanya yang tiba-tiba nyeri. Secara perlahan Emma menahan dirinya yang sesak karena sudah banyak bercucuran di keningnya.
"Aku sulit bernapas Baron jangan pergi!" ucapnya pelan dan terus melihat mobil Baron sudah hilang di balik pintu gerbang.
"Maafkan aku Baron. Aku wanita tidak pantas untukmu secara perlahan Emma menutup kedua bola matanya. Penjaga tempat tersebut tidak sengaja lewat dan melihat Emma sudah tidak sadarkan diri wajahnya bahkan sudah begitu pucat.
"Nona Emma!"
Wanita paruh baya tersebut begitu kaget dan langsung memanggil suaminya dan mereka berdua membawa Emma ke rumah sakit terdekat. Dalam perjalanan, Emma sudah sadar namun belum sepenuhnya. Emma meminta kepada sepasang Suami, Istri tersebut tidak menghubungi Baron lalu kembali tidak sadarkan diri lagi.
Di tempat lain Baron berkecamuk kesal dan kembali ke puncak menyesal meninggalkan Emma namun wanita yang dia Cinta itu sudah tidak ada lagi di sana.
"Kau jahat, kau pergi meninggalkanku Emma!"
Baron berteriak sambil menendang setiap ada benda di sampingnya semua terbalik begitu saja tidak tahu apa yang dipikirkannya langsung meninggalkan puncak begitu saja.
"Emma kau mendengar Ayah, Nak?" ucap Emmanuel lirih.
"Ayah aku-"
"Kau di rumah sakit, tenanglah dokter sudah memberimu obat, Ayah, Ibu kaget mendengar kau tidak sadarkan diri itu sangat berbahaya pada kesehatanmu, kami tidak mau kehilangan kamu Emma." Emma menitikkan air matanya dan memeluk kedua orang tuanya.
Emma yang sudah merasa baikan duduk di atas kursi roda sambil memandang kosong ke depan. Wanita paruh baya menghampirinya dan membawa beberapa buah-buahan segar.
__ADS_1
"Emma makan buah ini, Sayang!"
"Ibu!" Emma tersenyum lebar menghilangkan kegugupannya.
"Kau menangis?"
"Tidak Bu, kalau Emma menangis itu air mata kebahagiaan bisa memeluk Ibu erat seperti ini," ucapnya sambil memeluk wanita paruh baya tersebut yang sudah meneteskan air matanya.
"Jangan bohong Sayang katakan kau memiliki masalah bukan?" Emma memalingkan wajahnya.
"Kau belum memberitahukan kondisimu kepada Baron?"
"Ibu," lirihnya.
Mereka berdua berpelukan dan Emma menumpahkan tangisannya di pelukan wanita yang dia cintai tersebut.
"Sayang kau beristirahatlah malam ini kita akan meninggalkan negara ini dan kau akan mendapatkan pengobatan yang lebih baik." Emma menurut dan mereka masuk dalam.
Willy yang baru saja terbangun dari tidurnya menatap nanar sunset yang semakin lama menghilang dan berganti gelap sama halnya dengan hatinya saat ini benar-benar gelap. Ponsel miliknya menyadarkan dari lamunannya.
"Baron?" ucapnya.
"Maaf pengguna ponsel ini sedang tidak sadarkan diri Tuan," ucap pria di seberang sana.
"Katakan di mana?"
__ADS_1
Willy langsung meluncur ke sebuah klub yang tidak pernah disentuh dan dipijak Baron.
"Apapun yang terjadi didalam sana kuatkan dirimu Willy," ucapnya. Banyak wanita di dalam menggoda Willy dan mereka berusaha untuk mendapatkannya namun ditepisnya.
"Minggir!" bentaknya lalu menghampiri Baron.
"Baron!"
"Willy kau di sini jangan katakan untuk membuang sial karena Callista meninggalkanmu," ucapnya sambil tertawa.
"Kalau terlalu banyak minum Baron." Willy secara perlahan membawa Baron keluar dengan hati yang begitu sesak.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗
__ADS_1