
Willy, Baron dan Rahadian menjadi perwakilan untuk kedua orang tua mereka, semua yang melihat kedatangan mereka bertiga mulai melakukan pendekatan karena ini merupakan hal yang langka bagi para kalangan pengusaha.
Ke tiga pria tampan ini hanya bersikap biasa saja merespon para penjilat yang ingin mengambil keuntungan dari mereka.
"Hai!" sapa Dita sambil membusungkan benda kenyal-kenyalnya begitu menantang. Willy, Baron dan Rahadian hanya menunduk dan kembali mengobrol dengan para pengusaha lain.
"Sial apa aku tidak menarik di mata mereka?" ucap Dita dalam hati.
"Hai perkenalkan aku Dita Anggraini," ucapnya lagi sambil tersenyum lebar.
"Hai," balas Baron.
"Bukankah kalian mahasiswa baru yang ada di fair?"
"Iya," jawab Baron.
"Apa kau tidak tahu kalau kita satu kelas?" Baron memperhatikan Dita.
"Oh Jadi kau wanita fair yang dikatakan kampus?" tanya Baron mulai masuk ke dalam dunia Dita.
"Ingatanmu ternyata bagus."
Baron hanya tersenyum lalu mereka duduk dan mengobrol sambil menikmati makan malam mewah tersebut, para tamu yang begitu kagum melihat Baron dan Dita kompak dan serasi seketika langsung masuk televisi.
"Bang, siapa wanita itu aku seperti tidak asing melihatnya?" tanya Rahardian sela makan malamnya.
"Suatu saat kau akan tahu Rahadian dan aku tidak peduli." Willy kembali ke wajah datar dan dinginnya.
__ADS_1
Dita begitu beruntung bisa berkenalan dengan salah satu tiga pria tampan yang lagi populer di fair dalam hitungan jam saja Baron sudah kembali, melupakan masa lalunya.
Willy, Baron dan Rahadian kembali ke asrama, terlihat jelas wajah Baron begitu bahagia meninggalkan acara tersebut. Willy merasa jengkel dengan Baron yang saat ini sedang mengalami jatuh Cinta kedua kalinya. Memang Cinta kadang membuat kita tidak waras lagi by Pera.
Dalam kamar yang cukup luas, Willy menerima panggilan dari Indonesia dan langsung menuju ke balkon mengangkat ponselnya.
"Ada apa Paman?"
"Tuan saya menemukan keberadaan Nona Callista,"
"Deg!"
"Apa?"
"Nona Callista berada di."
Willy tergeletak di bangku balkon dan mengusap layar ponsel miliknya yang tidak lain adalah foto Callista sedang bekerja di salah satu restoran warga asing.
"Callista," lirih Willy sambil menitikkan air matanya. Rahadian yang melihat Willy mengusap wajahnya lalu dia hampiri.
"Bang!"
"Rahadian Callista,"
"Kenapa dengan Callista, Bang?"
"Selama ini ia ada di luar kota,"
__ADS_1
"Apa dari mana Abang tahu?" Willy memperlihatkan foto Callista sedang melayani pengunjung.
"Callista!" pekik Rahadian.
"Rahadian aku ingin pulang,"
"Bang jangan ngawur, jika kita pulang Abang tahu resikonya bukan?"
"Tapi Rahadian Callista aku-"
"Bang, dari sini Abang bisa pantau Callista yang penting kita sudah dapat kabarnya. Mari kita raih cita-cita kita dulu baru kita hampiri pasangan kita. Aku yakin Callista dan Abang nanti pasti bersatu lagi." Willy lemas mendengar penjelasan Rahadian yang panjang kali lebar.
Malam itu Willy, tidak bisa tidur dan terus menatap layar ponsel miliknya Cinta dan pujaan hatinya yang sudah lama hilang bak ditelan bumi akhirnya muncul dengan wajah yang beda dan terlihat dewasa.
"Tunggu aku Calista kali ini kau tidak lolos dari jangkauanku!" ucap Willy lalu tidur terlelap.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
\=> Share ke tiap Grup chat
__ADS_1
Salam hangat dari author PERA🤗