Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Fakta baru


__ADS_3

Callista dibawa ke kamar untuk beristirahat sesekali Darwin memperhatikan Callista dari atas hingga kebawah yang terlihat begitu memprihatinkan. kedua tangan Darwin terkepal begitu kuat melihat kondisi Callista saat ini, rasanya dia ingin membalaskan semua sakit yang dialami Callista.


"Kau wanita baik tapi kenapa Ibu Kanita juga saudara tiri kamu tega melakukan itu kepadamu Callista ...," lirih Darwin. Tanpa Darwin sadari air matanya keluar, sesak, sakit. Darwin membayangkan kekasihnya dulu juga mengalami hal seperti ini tapi beda dengan Callista, kasusnya masih bisa diselamatkan walau sempat Ronald menyentuhnya.


Callista mulai mengerjapkan kedua bola mata coklatnya, secara perlahan melihat Darwin yang masih betah menemaninya.


"Kak Darwin," ucap Callista lemah secara perlahan ingin duduk namun ditahan oleh Darwin.


"Berbaringlah kau masih lemah," ucap Darwin lembut.


"Kak. Aku baik-baik saja." Callista tetap ngotot duduk lalu bersandar walau kepalanya masih sedikit pusing.


"Callista, boleh tidak Kakak bertanya?" ucap Darwin telan dan hati-hati.


"Iya Kak. Katakanlah!" jawab Callista sambil tersenyum kecil. Darwin menatap wajah Callista sesaat lalu Darwin buang napasnya pelan tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya itu dalam kondisi seperti ini.


"Bagaimana hubunganmu dengan, Willy?" tanya Darwin halus.


"Aku ... aku dan dia kak hubungan kami-"


"Tidak apa-apa jika kamu belum siap mengatakannya Calista, oh ya kamu istirahat saja," potong Darwin cepat.


"Maaf Kak. Aku belum bisa menemui Willy karena masih butuh waktu." Suara Callista begitu pelan sekali hampir tidak terdengar oleh Darwin.


"Apa kamu sudah menghubunginya?" tanya Darwin lagi. Callista geleng-geleng kepala tidak berani menatap Darwin wajahnya menunduk sambil mengusap air matanya yang kembali menetes.


"Jangan bersedih lagi Callista. Kakak yakin kamu dan Willy akan bersatu lagi kamu harus kuat dan tetap semangat." Darwin mengusap lembut pipi halus Callista sambil tersenyum lebar. Kedua jantung sepasang anak mudah tersebut berpacu begitu kencang seketika hawa disekeliling mereka sedikit panas.


"Aku permisi dulu masih ada yang harus kukerjakan," ucap Darwin karena jantungnya semakin berdetak jika berdekatan dengan Callista. Callista hanya menatap punggung kekar Darwin keluar dari kamarnya, terlihat senyum tipis dari bibir kecil Callista melihat kegugupan Darwin jika bersamanya.


Callista berdiri menghadap jendela memandang kosong, satu persatu masalah telah kelar kebahagiaan di sekelilingnya telah kembali. Callista menitikkan air matanya, sesak tidak tahu harus apa yang dilakukannya saat ini.


Callista teringat ketika ia sedang berbincang dengan warga masalah mereka yang kurang air bersih.


"Kenapa Ibu tega melakukan itu kepada warga. Apa Ibu tidak puas hampir menjualku kepada Om Ronald?" Callista mendesah harus apa membantu warga mengembalikan dana yang telah kita bawa.

__ADS_1


Callista keluar ingin minum karena tenggorokannya begitu halus sekali lalu melihat Darwin yang sedang saat ini berkutat pada ponselnya.


"Apa Kak Darwin mau membantuku?" ucap Callista dalam hati. Merasa ada yang sedang memperhatikannya dari belakang, Darwin berbalik dan sedikit kaget melihat Callista sedang termenung.


"Callista!" panggil Darwin. Callista sedikit kaget mendengar panggilan Darwin lalu ia hampiri.


"Ada apa Kenapa kamu berdiri di situ?" tanya Darwin lembut sambil menatap lekat wajah lesu Callista.


"Kak, Callista bisa minta tolong?" ucapnya ragu-ragu.


"Katakan selagi aku bisa membantu!" ucap Darwin tersenyum. Callista bercerita soal apa yang saat ini dialami oleh para warga desanya karena perbuatan Ibu Kanita. Wajah tampan Darwin seketika berubah mendengar nama Kanita.


"Wanita tidak berperasaan." Rahang Darwin seketika mengeras, ingin rasanya menghilangkan Ibu Kanita selamanya dari muka bumi ini.


"Kak!" panggil Callista pelan. Darwin menyentuh kedua bahu Callista lalu tersenyum hangat menatap wanita yang dicintainya tersebut.


"Jangan kuatir besok kita temui para warga bicarakan ini lagi kepada mereka." Wajah Callista seketika berubah cerah mendengar jawaban dari Darwin hatinya begitu lega sekali.


Malam itu, Callista seperti mendapatkan sosok kakak kandung yang menolongnya di saat dia membutuhkannya. Merasakan tubuh lelah, Callista merebahkan tubuh langsingnya sambil memikirkan Willy sampai saat ini ia belum menghubunginya dan memberikan jawaban.


"Willy ...," lirih Callista sambil memeluk bantal guling ya dan hanya membutuhkan beberapa menit Callista akhirnya tertidur pulas.


"Dari mana aku bisa mendapatkan dana menyalurkan air bersih sedangkan tabunganku saja sedikit." Darwin terlihat bingung harus mencari uang dari mana.


"Apa aku jual restoran saja?" gumam Darwin namun, Darwin teringat nasib para karyawannya nanti bagaimana kedepannya, "Ah bisa-bisanya aku terjebak karena perbuatan Kanita." Darwin memutuskan masuk kedalam untuk beristirahat biarlah besok kembali memikirkan masalah desa.


Tempat lain, Willy emosi karena mengetahui Callista kembali jatuh sakit karena perbuatan Kanita lagi. Tidak segan-segan Willy langsung menuju tempat Kanita dan Dina saat ini mencari uang yang banyak.


"Bruk!!"


Ibu Kanita dan Dina yang lagi melayani para tamu kaget melihat Willy masuk begitu saja dengan tampang yang menakutkan.


"Dasar wanita ular! tidak puas kau menjual Callista lagi kau mengambil dana desa," teriak Willy.


"Apa?!" Ibu Kanita begitu terkejut Willy tahu masalah ini padahal dia sudah tutup rapat mulut para warga selama ini.

__ADS_1


"Kalian akan aku pastikan tidak bernapas di sini lagi!" ucap Willy lalu keluar dengan wajah penuh amarah dan emosi. Willy sudah tidak terkendali jika menyangkut Callista bagaimanapun, pujaan hatinya itu adalah segalanya dan masa depannya.


"Apa yang Ibu lakukan lagi?" tanya Dina dengan tatapan tajam.


"Apa! Tidak ada," bantah Kanita.


"Tidak usah menyembunyikan lagi kepadaku Bu. Karena Ibu, hidupku harus berakhir di tempat yang menjijikan ini." Dina meninggalkan ruangan tersebut dengan emosi dan tidak peduli dengan para pelanggan yang tanggung pekerjaan mereka berdua.


"Paman jalan!" ucap Willy sambil memejamkan kedua bola matanya.


"Baik, Tuan muda." Sekretaris Rayan melajukan mobil sport Willy dan sesekali melirik dari kaca melihat kondisi anak majikannya.


"Tuan. Para bodyguard melaporkan bahwa Tuan Darwin saat ini bersama dengan Nona Callista," ucap sekretaris Rayan hati-hati.


"Ngapain dia di sana?" tanya Willy dengan nada tidak suka.


"Tuan ... Tuan Darwin sebenarnya Putra Mbok." Sekretaris Rayan menceritakan Semua yang dilaporkan anak buahnya.


"kejutan apa lagi ini, Paman?" ucap Willy tidak percaya, satu masalah saja belum kelar muncul lagi fakta baru.


"Nona meminta kepada Tuan Darwin untuk membantu desa." Rayan kembali bercerita soal desa


"Lalu?" tanya Willy sambil mendesah pelan.


"Saya sudah selidiki keuangan Tuan Darwin, sepertinya beliau tidak akan bisa membantu desa Tuan," ucap sekretaris Rayan hati-hati karena wajah Willy sudah berubah.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen

__ADS_1


\=> Share ke tiap Grup chat


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2