
Willy tersenyum hangat melihat wajah malu-malu Callista yang membuat dia ingin menggodanya lebih namun karena sudah larut, Willy tidak mau kekasihnya itu kelamaan masuk.
"Sudah larut masuk, 'lah ingat jangan begadang aku tidak suka kamu sakit,"
"Iya terimakasih kamu juga hati jangan ngebut,"
"Baik Nyonya Burk." Callista tertawa kecil sambil melihat wajah tampan Willy yang begitu sempurna.
Callista masuk ke dalam dengan perasaan yang begitu bahagia sekali tiga momen yang tidak bisa ia lupakan hari ini hatinya berbunga-bunga membayangkan apa lagi yang mereka lakukan di puncak adalah hal yang pertama buat ia dan Willy.
"Ah. Willy kau sudah membuat jantungku berdebar membayangkan wajah tampan kamu hatiku berdegup begitu kencang sekali," ucapnya tanpa sadar.
"Siapa yang tampan?"
"Dari mana kau baru pulang jam segini Callista? Toko berantakan karena kau hilang satu harian dan tidak ada kabar!"
Callista baru ingat Toko yang harus ia jaga dan mengirim barang ke pelanggan hari ini karena terbawa suasana Callista sejenak melupakan pekerjaannya.
"Hei apa kau tidak bisa mendengar Callista?"
"Maaf Bu, Callista ada pelajaran tambahan di kampus hari ini," bohongnya.
"Sebagai gantinya kau sekarang turuti perkataan Ibu, mulai besok kau tidak boleh lagi kuliah dan fokus menjaga Toko!"
"Callista tidak mau Bu,"
"Pokoknya mau darimana aku menyekolahkan kau Callista Toko hari ini berantakan dan lagi ... Dita baru saja menghubungi Ibu untuk mengirim uang bayar uang kuliahnya. Kau tahu kuliah di luar negeri itu biaya tidak murah Callista,"
"Tapi Bu kuliah Callista tinggal satu tahun lagi,"
"Ibu tidak mau tahu pikirkan, 'lah semua yang Ibu katakan!"
Callista menitikkan air matanya seketika kedua pipi mulus dan lembut basah berjalan dengan langkah gontai, Callista tiba di kamar yang ukurannya kecil muat satu orang dan pelengkap hanya ada sebuah lemari kecil.
"Tidak mungkin aku meninggalkan kuliahku yang hanya tinggal kurang lebih satu tahun lagi," lirihnya. Ponsel Callista berdering dengan cepat langsung mengusap air matanya yang membekas di wajahnya dan berdehem sesekali.
"Halo Sayang aku baru saja tiba di rumah," ucap Willy sambil tersenyum.
"Bagus, 'lah aku senang mendengarnya Willy,"
"Sayang suara kamu kenapa seperti baru menangis?"
"Siapa yang menangis?" ucap Callista sedikit tertawa.
"Apa kau sedang menggodaku, Sayang?"
"Tidak hanya saja aku tiba-tiba kangen kamu," ucapnya malu-malu tidak tahu lagi bagaimana wajah Callista saat ini sudah merah, panas dan melayang.
__ADS_1
"Wah lihat kekasih siapa ini yang menggoda belahannya yang baru saja mendapat hadiah ciuman pertama kau ternyata primadona yang tidak ternilai Sayang ternyata aku salah kau diam-diam ketagihan juga," Willy tersenyum bahagia dan lupa saat ini dia sudah tontonan keluarganya.
"Willy!"
Callista berteriak begitu kencang sekali karena sudah malu mendengar godaan Willy barusan yang membuatnya seketika melayang lalu mereka berdua tertawa bersamaan, malam itu Callista sejenak melupakan masalahnya dan asik mengobrol dengan Willy.
"Callista!"
Suara teriakan Kanita Callista membuatnya terbangun dan kaget sudah lebih sepuluh tahun Callista tinggal dengan Ibu sambung yang sudah menemaninya selama ini semenjak Ayah kandungnya pergi jauh meninggalkan ia dengan kematian sang Ayah, hidup Callista dan Ibu sambung berbalik dan mereka bisa hidup enak dan berkecukupan karena Ayah Callista meninggalkan tabungan begitu banyak untuk kedua buah hatinya.
"Maaf Bu, Callista terlambat bangun," ucapnya.
"Cepat sana ke Toko pelanggan sudah banyak banyak datang ingat jika kau hilang lagi kau boleh angkat kaki dari rumah ini!"
"Deg!"
"Iya Bu,"
"Dasar anak pembawa tidak untung."
Callista hanya diam dan tidak berusaha memasukkan ke dalam hati perkataan Kanita baginya tiap hari ia mendengar kalimat yang bisa membuat mentalnya turun ditepiskan ya dan tidak mau ambil pusing. Lima belas menit , Callista telah siap dan sudah kelihatan rapi.
"Tidak perlu sarapan nasi belum masak!"
"Baik Callista pamit Bu." Hati yang berkecamuk, Callista berjalan ke halte untuk menunggu bus yang biasa ia tumpangi.
"Kenapa aku terus kepikiran yang semalam ah malunya aku," ucapnya pelan sambil menyentuh bibir tipisnya.
"Ah manis sekali kamu Willy."
Tidak tahu lagi bagaimana wajah Callista pagi hari ini seketika berubah ceria dan melupakan perut laparnya dan Kanita yang berkomat-kamit tidak jelas di rumah.
"Selamat pagi Nak Callista," sapa wanita paruh baya.
"Pagi Mbok," jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Ceria sekali, 'Nak?"
"Harus Mbok biar rejeki pagi-pagi lancar."
Callista langsung menuju ke ruangannya sambil bernyanyi kecil tidak memperdulikan sekitarnya yang melihatnya geleng-geleng kepala.
Banyaknya pelanggan pagi yang membeli buah-buahan membuat Callista lelah apa lagi rasa lapar di perut ratanya kian bertambah, peluh keringat bercucuran di keningnya dan turun sampai ke leher jenjangnya.
"Makan dan minum, 'lah kau bisa sakit nantinya Nyonya Burk," bisik Willy.
"Willy!"
__ADS_1
"Ah kau menyakitiku Sayang," lirih Willy sambil memegangi perutnya.
"Maaf apa sakit aku tidak sengaja kau mengagetkanku Willy," Callista menyentuh perut kotak-kotak Willy.
"Ini sakit Sayang," tunjuk Willy sambil melirik Callista yang terlihat mengkhawatirkan dia sekilas senyuman jahil Willy terlihat.
"Mari aku oleskan minyak!"
"Tidak perlu kamu hanya perlu menyentuh saja Sayang," goda Willy. Wajah Callista seketika memerah dan tatapannya sedikit tajam.
"Dasar modus!"
Mereka berdua lalu duduk lalu Willy mengeluarkan makanan dan memberikannya kepada Callista. Udang sambal dan sayur hijau tumis yang terlihat sederhana namun jangan salahkan rasanya luar biasa jangan di ragukan makanan ini telah di uji oleh ahli gizi terbaik.
"Apa enak?" tanya Willy sambil memperhatikan nafsu makan Callista tinggi dan tidak sadar Willy memperhatikan ia sambil tersenyum.
"Sangat enak sekali. Terimakasih ya kamu sudah repot membawakan makanan ini Willy," Willy merasa prihatin melihat Callista kadang tidak mengurus dirinya dan terlalu mengutamakan pekerjaan dan kuliah.
"Pekerjaanmu apa masih banyak? Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar ke pantai," ucap Willy setelah mereka sudah terlihat santai.
"Maaf Willy aku masih mau menunggu pelanggan dari luar negeri akan tiba sebentar lagi ke sini,"
"Luar negeri?"
"Iya Ibu yang mengatakannya, salah satu teman lamanya meminta kerja sama menjual buah-buahan ini ke luar negeri,"
"Kamu yakin dengan kerja sama ini?"
"Aku selalu yakin apa yang di katakan Ibu Willy dengan ini usaha kami akan semakin maju," ucapnya pelan.
"Apa Toko tidak lancar?"
"La-lancar kog Willy." Callista tersenyum menghilangkan kegugupannya.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗
__ADS_1