
Letizia tidak tahu harus mengatakan apa lagi saat ini, kebahagiaan Willy sudah di depan mata namun apa yang di alami Callista membuat cinta mereka berdua seperti ini.
"Willy lihat Mommy!" ucap Letizia lembut lalu Willy memandang wajah cantik Letizia yang tidak pernah pudar.
"Pertemukan Mommy dengan Callista."
"Mommy!" Willy terkejut mendengar perkataan Mommy Letizia.
"Percayalah dengan Mommy, Sayang." Letizia menangkup wajah kusut Willy.
"Aku percaya dengan Mommy," ucap Willy pelan.
Sosok wanita yang jiwanya hampir hilang separu menatap kosong keluar jendela kamar yang bernuansa putih. Pintu terbuka menampakkan sosok wanita cantik yang sudah lanjut usia mendekati Callista yang masih belum menyadari kedatangannya. Lalu, Letizia secara perlahan menyentuh pundak Callista pelan tapi tidak ada respon sama sekali.
"Callista. Nak, kau baik-baik saja?" ucap Letizia lembut. Callista yang merasa mendengar suara tidak asing berbalik dan terkejut melihat Letizia ada di hadapannya saat ini. Perlahan langkah Callista mundur sampai mengenai dinding.
"Nak, tenanglah ini Mommy," ucap Letizia lembut.
"Ta-tante aku-" Letizia langsung memeluk Callista begitu erat sekali sambil mengusap kepalanya lembut dan tidak di situ saja Letizia menciumi seluruh wajah Callista yang sudah dia rindukan selama ini bahkan, Letizia sudah menganggap Callista putri kandungnya. Letizia kembali lagi memeluk Callista erat sambil mengusap punggungnya, wanita yang sudah membuat putranya menderita selama ini.
"Apa kabarmu, Sayang?" tanya Letizia sambil menangkup kedua pipi tirus Callista. Bukan menjawab Callista justru merasa kotor di sentuh wanita bersih di hadapannya ini.
"Tante jangan menyentuhku," ucap Callista sambil bergeser kesamping.
"Kenapa Sayang? Bukankah kita biasanya seperti ini?" ucap Letizia sambil membuat wajahnya sesedih mungkin.
"Aku tidak pantas di peluk anda, Tante," jawab Callista sedikit gugup.
"Karena kau sedang mengalami musibah selama ini, Callista?" tanya Letizia mulai serius menatap wajah sembab Callista.
"Deg!"
__ADS_1
"Tante!" ucap Callista terkejut sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tante sudah tahu semua kebenarannya Callista," ucap Letizia pelan dan berusaha tetap lembut agar Callista tidak takut dan trauma kembali.
"Aku kotor Tante ... aku tidak pantas lagi bagian dari kalian aku akan pergi jauh dan melupakan semuanya. Willy putra anda pasti jijik dengan wanita sepertiku yang sudah kotor ...," ucap Callista lirih air matanya kembali keluar.
Letizia merasa begitu sakit mendengar perkataan Callista sekaligus iba, selama ini Callista begitu menderita. Sebagai Ibu yang memiliki anak perempuan, Letizia tahu betul bagaimana perasaan Callista sekarang ini.
"Sayang jangan bicara seperti itu dengarkan Mommy-"
"Maaf Tante aku akan pergi aku sudah ikhlas Willy mencari pengganti aku yang lebih baik bukan seperti aku yang sudah kotor, aku permisi Tante," ucap Callista pelan lalu keluar dari kamar untuk pertama kalinya. Namun, langkah Callista terhenti karena melihat sosok pria yang ia cintai dan dirindukannya tepat sekarang ada di hadapannya. Callista semakin terkejut melihat ia berdiri saat ini ternyata di puncak tempat favoritnya dan Willy dulu ketika mereka merayakan anniversary ketiga mereka.
"Callista!" panggil Willy lembut. Untuk pertama kalinya semenjak satu tahun Willy memanggil nama itu kembali di hadapan wanita yang selama ini dia rindukan.
Willy langsung memeluk Callista begitu erat sekali tidak tahu apakah ini pelukan terakhir atau sebaliknya. Letizia yang melihat pasangan tersebut merasa sesak lalu pergi meninggalkan mereka berdua memberikan privasi.
Callista masih terkejut mendapatkan pelukan dari Willy tubuhnya bahkan bergetar hebat. Sentuhan yang ia dapat begitu beda sekali ketika mereka dulu berpelukan untuk pertama kalinya di puncak ini.
"Aku merindukanmu Sayang," ucap Willy sambil mempererat pelukannya dan meletakkan wajahnya leher jenjang putih sang pujaan hatinya sambil menghirup aroma wangi yang sudah lama ia tidak hirup. Callista tertegun mendapatkan pelukan dari Willy tubuh langsingnya membeku.
Callista sejenak menikmati setiap sentuhan Wily yang sudah lama ia tidak rasakan. Callista sadar dan langsung mendorong kuat Willy ingat para pria tua yang sudah membuatnya trauma sampai saat ini.
"Callista?!" ucap Willy terkejut lalu kembali mendekati Callista namun di tolaknya.
"Jangan mendekat Willy kita sudah putus cinta kita sudah selesai," ucap Callista bergetar.
"Tapi aku tidak Callista," jawab Willy mulai mendekati Callista lagi. Namun Callista merasa takut mundur kebelakang dan masuk kembali kedalam kamar inap Callista.
"Callista dengar," panggil Willy lembut.
"Kau mau apa Willy jangan macam-macam," ucap Callista terus mundur kebelakang.
__ADS_1
"Aku sudah tahu semua Callista yang kamu alami," ucap Willy pelan dan lembut. Kedua bola mata Callista membulat dan air matanya kembali keluar.
"Kalau kau sudah mengetahuinya baguslah beban yang aku pikul selama ini sudah lepas," jawab Callista tertawa pelan.
"Kau senang aku mengetahuinya, Callista?" tanya Willy merasa di uji Callista.
"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan Willy, aku wanita yang sudah kotor aku tidak pantas menjadi wanitamu." Callista merasa wanita paling kotor apa lagi kehadiran Willy membuatnya semakin jijik kepada dirinya sendiri.
"Kata siapa kau kotor, katakan!" ucap Willy dingin lalu mendekati Callista jarak mereka semakin dekat sekali.
"Jangan mendekatiku Willy!" ucap Callista sambil menahan dada bidang Willy dengan kedua tangannya.
"Kalau kau memang kotor tentu mahkota yang kau jaga selama ini sudah kau berikan kepada pria bangka itu tapi ... kenapa kau melindunginya Callista dan dia rela menyentuh ini," ucap Willy sambil menunjuk seluruh tubuh Callista.
"Wi- Willy aku ... aku sebenarnya-"
"Kau masih mencintaiku Callista jangan pernah kau membohongi dirimu sendiri, katakan!" ucap Willy lagi sambil menatap manik mata Callista yang sudah penuh air bening yang siap tumpah. Callista tidak menjawab dan memilih memalingkan wajahnya.
"Callista, kau tahu selama ini aku mencarimu namun apa yang aku tahu fakta yang menimpamu kau tahu aku merasa gagal melindungi wanita yang aku cintai sebagai pria aku gagal. Aku tidak bisa bayangkan Leonore jika mengalami seperti yang kau alami ini. Aku pikir memanggil Mommy kesini hubungan kita akan kembali seperti dulu tapi kau ... kau aku sudah tahu jawabanmu Callista ternyata aku salah menilaimu. Aku kecewa Callista sungguh kecewa." Untuk pertama kalinya Callista melihat Willy menitikkan air matanya dan Willy yang ia kenal periang dan mudah tersenyum menjadi pria yang lemah.
Hati Callista sakit melihat sosok pria dihadapannya saat ini, sakit hanya kata itu yang bisa ia rasakan. Callista dan Willy sama terdiam di dalam ruangan tersebut pikiran mereka sama-sama tidak tahu kemana.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
__ADS_1
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗