Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Anak kembar


__ADS_3

Willy membawa Callista dan Mbok kesalahan satu restoran terbaik di kota tersebut dan jauh dari jangkauan para paparazzi Mbok begitu tidak nyaman mereka memasuki restoran mahal dengan pakaian yang tidak pantas sama halnya dengan Callista yang saat ini.


"Mbok pamit dulu ya, Nak,"


"Mbok mau kemana?"


"Toilet, Nak Callista."


Kini tinggal Callista dan Willy di meja makan tersebut rasa canggung menyelimuti hati Callista saat ini.


"Ada apa?" tanya Willy lembut.


"Bolehkah kita pergi dari sini," Callista menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa habiskan dulu sarapan kamu baru kita pergi,"


"Iya Will tapi ini semua-"


"Jangan khawatir Sayang, kamu makan saja jangan pikirkan semuanya!"


Hati Callista risau karena si Mbok belum kembali melihat kekasihnya celingak-celinguk, Willy teringat Mbok belom kembali.


"Apa kau sedang mencari Mbok?" tanya Willy.


"Iya Will, Mbok kemana ya?"


"Kamu jangan khawatir."


Willy memberikan isyarat, pelayan bergerak mendapati Mbok sedang sarapan bersama dengan para pelayan Hotel, mereka terlihat begitu akrab sekali apa lagi yang mereka tahu Mbok datang bersama dengan Tuan muda mereka.


"Apa yang Mbok lakukan di sini?"


Semua kaget dan langsung berdiri rapi menunduk hormat kepada Willy, pertama kalinya mereka langsung melihat wajah tampan Willy yang di bicarakan semua orang.


"Benar-benar tampan," jerit para pelayan dalam hati.


"Maaf Mbok lupa kembali dan keasikan mengobrol dan sarapan bersama dengan mereka, Nak."


Callista tidak menjawab dan langsung memeluk Mbok begitu erat hati Willy begitu tenang melihat kekasihnya begitu menyayangi orang tua.


"Kau wanita terbaik Callista aku sudah tidak sabar lagi untuk membawamu ke pelaminan. Aku sangat mencintaimu," gumam Willy dalam hati sambil menahan dirinya untuk memeluk Callista.


"Apa kalian sudah selesai sarapan, Nak?" Mbok melepaskan pelukannya lalu mengusap kepala Callista lembut.


"Sudah Mbok. Mari kita kembali Ibu pasti sudah lama menunggu kita!"


Para pelayan yang menyaksikan semua drama di hadapan mereka tertegun luar biasa dan mengacungkan jempol untuk Callista.


"Wanita terbaik!"


Apa yang kalian alami ketika pertama kali menaiki pesawat tentunya ada perasaan canggung, takut, berpikiran yang tidak-tidak. Callista dan Mbok menjerit karena Willy membawa mereka ke jet privat milik keluarganya.


"Willy kami naik Bus saja,"


"Kenapa ini akan mempersingkat dan menghemat waktu, Sayang!"

__ADS_1


"Tapi Mbok tidak kuat Willy apa lagi aku," ucapnya pelan karena malu sekali. Willy tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan kekasihnya itu.


"Dengar tidak ada yang akan terjadi semua baik-baik saja Sayang ada aku di sampingmu jadi jangan khawatir," bisik Willy lembut dan memberikan ketenangan kepada kekasihnya itu dan tidak lama perasaan campur aduk itu mereka langsung menuju ke kota mereka.


Mereka telah tiba dan Willy, mengantar Callista dan Mbok langsung ke Toko sesuai permintaan Callista. Willy kadang merasa kasihan kepada kekasihnya itu harus merahasiakan hubungan mereka dari Ibu Callista. Biarlah hanya Callista saja yang mengetahuinya alasannya karena tidak mau nantinya Willy diperalat oleh Ibu Kanita mengingat Willy adalah anak dari orang terkaya di kota ini dan hanya si Mbok yang mengetahui ini semua jati diri Willy lainnya tidak.


"Minum, 'lah, kau pasti haus!"


"Wah kamu tahu saja Sayang bahwa calon suamimu ini haus," goda Willy sambil tertawa kecil wajah Callista seketika langsung memerah dan memberikan air mineral.


"Sayang boleh tidak aku bertanya sesuatu kepadamu?"


"Apa itu, Willy?" terlihat wajah Willy begitu serius sekali.


"Aku ingin berkenalan dengan keluarga kamu, apa boleh?"


"Deg!"


"Tidak bisa ya," terlihat raut wajah Willy kecewa dengan ekspresi wajah kekasihnya itu.


"Aku akan membawamu ke rumah," ucap Callista pelan.


"Kau serius, Sayang?"


"Iya jika kita sudah lulus kuliah," ucap Callista sambil tertawa menunjukkan deretan gigi putihnya, wajah yang tidak berdosa itu mampu membuat Willy gondok namun Willy tidak bisa memarahi Callista atau mendesaknya biarlah waktu nanti menjawab itu semua dengan hubungan mereka.


"Willy!"


"Ya,"


"Tidak,"


"Kau marah," lirih Callista dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


"Tidak Sayang,"


"Bohong!"


"Kau yang marah, Sayang?"


"Apa?"


"Lihat wajahmu jelek sekali," goda Willy.


Akhirnya mereka tertawa bersamaan dan bercanda di Toko Callista sedangkan Mbok hanya tersenyum melihat sepasang kekasih itu yang masih berbunga-bunga.


"Willy Leonore apa kabarnya?"


"Anak manja itu baik Sayang," jawabnya santai.


"Jangan katakan seperti itu," Callista memanyunkan bibirnya, melihat bibir yang sudah candu buat Willy ingin sekali menikmatinya kembali namun, Willy sadar mereka saat ini sedang berada di tempat yang terbuka.


"Leonore baik dan sehat Sayang," ucap Willy sambil memalingkan wajahnya.


"Kau kenapa?" Callista menyadari sikap Willy berubah.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja Sayang,"


"Tidak bohong katakan apa ada perkataanku yang salah?"


"Tidak ada Sayang, aku hanya saja-"


"Apa?"


"Tidak tahan melihat bibir merah alami itu jangan coba-coba melakukan itu kepada orang lain aku tidak rela mereka melihatmu seperti itu," bisik Willy ke telinga Callista sambil menikmati menghirup aroma tubuh Callista yang membuat dia semakin tidak tahan memeluknya.


Callista merasa sekujur tubuhnya merinding mendengar bisikan Willy yang hampir membuatnya melayang, wajahnya bahkan sudah terlihat memerah, malu sekali karena Callista tahu arti perkataan Willy tadi ternyata kekasihnya itu tidak terima pria lain melihatnya seperti itu cukup dia sendiri.


"Aku akan menghubungi Leonore supaya kalian bicara," ucap Willy mengalihkan pembicaraan apa lagi dirinya saat ini sudah tegang di sana, hanya menghirup aroma Callista saja sudah tegang.


"Tidak perlu Willy," tolak Callista halus namun Willy tidak peduli.


"Halo. Kak Willy di mana?" teriak Leonore di seberang sana.


"Astaga kupingku bisa tidak jangan teriak begitu di sini bukan hutan Leonore," ucap Willy sambil mengelus dada bidangnya. Callista tertawa kecil mendengar obrolan kakak beradik tersebut.


"Hah jadi kakak pikir aku sedang di mana, hutan?"


"Iya kau sedang berada di hutan makaya suka teriak-teriak," canda Willy dan sekali lagi Leonore berteriak dan Willy dengan sigap menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Astaga untung aku jauhkan jika tidak kupingku akan di mangsanya," Callista tertawa dan akhirnya Callista dan Leonore mengobrol sekedar basa-basi untuk pertama kalinya, mereka berdua begitu nyaman dan tidak ada rasa canggung.


"Terimakasih Willy ternyata kepribadian Leonore asik juga,"


"Karena dia sering teriak-teriak Sayang."


"Jangan bicara seperti itu, dia adik kamu dan saudara kembar kamu juga tidak baik berantem terus," lirih Callista.


"Aku hanya bercanda saja Sayang,"


"Iya aku tahu," cemberutnya.


"Sayang boleh tidak aku mengatakan sesuatu lagi?"


"Apa?"


"Aku ingin nanti anak kita juga kembar," bisiknya.


"Willy!" teriak Callista.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen


\=> Share ke tiap Grup chat

__ADS_1


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2