Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Tidak bertanggungjawab


__ADS_3

Callista belum menyadari ia saat ini dikelilingi parah anak buah Willy yang cukup banyak berbaur dengan warga menyamar sebagai wisatawan yang berkunjung menikmati indahnya desa mereka. Callista terus bercengkrama dengan warga dan mendengarkan keluh mereka yang sulit pasokan air bersih.


"Sejak kapan air tidak masuk ke sini lagi, Bu?" tanya Callista menatap iba para warga yang terlihat begitu sedih.


"Sudah hampir dua tahun, Nak," jawab salah satu ibu-ibu dari mereka.


"Selama itu, apa tidak ada yang mau membantu desa ini?" tanya Callista lagi dan semakin penasaran.


"Kemarin ada seorang wanita datang dari kota untuk mengajukan dia sebagai donatur dan dia berjanji akan membangun kembali namun sampai sekarang beliau tidak kembali justru membawa uang pembangunan desa kami," ucapnya lirih.


"Siapa?" tanya Callista mulai geram mendengar cerita para warga.


"Dia ... dia adalah Ibu Kanita. Ibu kamu Callista, dia datang kesini untuk mengambil barang namun, dia telah memanfaatkan kondisi kami dan melarikan uang desa." Callista merasa tersambar petir kembali mendengar perkataan para warga.


Callista mencengkram kuat pakaian yang ia kenakan, tubuhnya bergetar kembali mendengar nama Ibu Kanita bayang-bayang soal perbuatan Kanita kepadanya dulu masih membekas di tubuhnya.


"Nak, kau baik-baik saja?" tanya Mbok mulai khawatir karena Callista seketika berkeringat.


"Mbok ada apa dengan Callista?" tanya para warga yang terlihat juga khawatir.


"Maaf kami permisi dulu," ucap Mbok lalu, membawa Callista menjauh dari para warga menuju ke rumah.


"Tenanglah Ibu ada di sini kau akan baik-baik saja," ucap Mbok sambil menyeka keringat Callista di dahinya yang sudah banyak bercucuran.


"Bu. Aku takut," ucap Callista sambil memeluk kedua kakinya ketika mereka sudah tiba di rumah.


"Jangan takut Nak! kita sudah aman percayalah dengan Mbok." Mbok memeluk Callista memberikan kenyamanan namun, tiba-tiba suara ketukan terdengar Callista dan Mbok saling pandang terlihat jelas sekali Callista semakin bergetar takut bahwa itu adalah Ibu Kanita.


"Ibu akan buka pintu kamu tunggu di sini ya, Nak!" ucap Mbok lembut.


"Tapi Bu-"


"Tenanglah tidak akan ada yang terjadi," ucap Mbok lembut sambil tersenyum.


Sebelum membuka pintu, Mbok melihat dari lubang terlihat sosok pria tinggi dan juga tampan sedang berdiri namun, Wajah pria tampan tersebut terlihat gusar dan sedikit pucat. Pintu terbuka kedua bola mata pria tersebut berkaca-kaca melihat pertama kali Mbok wanita yang sangat dirindukannya dulu hingga sampai sekarang ini.

__ADS_1


"Tuan Darwin?" ucap Mbok heran. Darwin tidak menjawab dan langsung memeluk Mbok begitu erat sekali sambil menitikkan air matanya.


"Bu," ucap Darwin lirih. Mbok heran dengan Darwin yang tiba-tiba memanggilnya Ibu. Seketika Mbok langsung melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Darwin yang saat ini sudah bercucuran dengan air matanya, sebagai pria Darwin sepertinya terlihat cengeng.


"Kau?!" Mbok menutup kedua mulutnya tidak percaya pria yang di hadapannya ini adalah yang sedang dicarinya selama ini.


"Darwin. Putra Ibu yang sudah lama hilang, Bu," ucap Darwin sambil memeluk Mbok lagi.


"Tidak mungkin!" ucap Mbok tidak percaya. Callista yang sedari tadi menyimak mendekati Mbok dan Darwin walau tubuhnya masih bergetar.


"Bu, Kak Darwin adalah putra Ibu yang selama ini hilang. Aku menemukan Kak Darwin karena malam itu Callista minta bantuan namun apa yang Callista temukan ternyata dia adalah putra Ibu selama ini," ucap Callista sedikit tersenyum menahan tubuhnya yang masih bergetar.


"Benarkah kau Putra aku? Lalu kenapa kedua bola matamu bisa asing?" tanya Mbok tidak percaya.


Darwin menceritakan bagaimana bisa kedua bola matanya berwarna abu karena yang mengadopsinya adalah orang luar negeri.


Tidak tahu apa yang terjadi selama hampir satu tahun, Darwin sudah berubah drastis dan berwajah orang asing bahkan yang mengadopsinya sudah lama meninggal karena usaha mereka bangkrut. Untuk itu selama hidup sendiri di negeri orang Darwin harus hidup mandiri dari nol hingga sekarang.


Bukti yang ditinggalkan kedua orangtua angkatnya bahkan tidak tahu di mana disimpan namun, Darwin tidak pernah mempermasalahkannya dan tetap berusaha mencari kedua orang tuanya sebenarnya yang berada di tanah air.


"Bu. Kita sudah bertemu aku tidak butuh itu semua lagi," ucap Darwin lagi.


"Kau telah banyak menderita selama ini." Mbok menangkup wajah bule Darwin sambil menangis.


"Tidak Bu. Aku bahagia karena ini adalah berkat Callista kita kembali bertemu." Darwin menoleh ke Callista yang baru saja mengusap pipinya karena ikut menangis dan terharu melihat Mbok dan Darwin akhirnya bisa bertemu kembali.


"Nak, kau baik sekali." Mbok membawa Callista dalam pelukannya sambil menumpahkan air matanya di pundak Callista.


"Kita keluarga Bu. Ibu sudah menjaga aku selama ini dan hanya ini bisa Callista berikan," jawab Callista juga menangis di pelukan Mbok. Dua wanita itu menangis menumpahkan semua haru dan bahagia mereka.


Setelah keadaan tenang Mbok terus menatap lekat wajah Darwin dan tidak mau melepaskan genggaman tangannya sedikitpun.


"Bu. Mari kita buka lembaran baru lagi mau, 'kan?" tanya Darwin lembut.


"Tapi ... Nak Callista." Mbok menatap Callista yang sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bu. Callista baik-baik saja kok," ucap Callista mengerti maksud perkataan Mbok.


"Nak, Ibu akan tetap bersama Callista. Sesekali Ibu akan mengunjungi kamu boleh, 'kan?" tolak Mbok halus. Darwin tersenyum hangat menatap dua wanita yang dia cintai tersebut.


"Tidak apa-apa Bu. Tentu, kalian sekarang adalah keluargaku. Darwin tidak tahu harus mengatakan apa lagi semua kebahagiaanku ada di hadapanku saat ini," ucap Darwin menatap wajah cantik Callista wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta untuk kedua kalinya.


Callista terlihat gugup ketika Darwin menatapnya seperti itu, tubuhnya kembali berkeringat dingin apalagi dulu Darwin begitu memperhatikannya.


"Nak, boleh Ibu bertanya?" ucap Mbok memecah keheningan.


"Iya Bu. Katakan!" jawab Darwin sambil tersenyum.


"Soal ... anak kamu-"


"Oh Jefri, dia bukan anakku Bu," jawab Darwin santai.


"Apa?!" Callista dan Mbok kaget mendengar perkataan Darwin.


"Hei kalian tenanglah aku akan menceritakan kembali semuanya." Darwin terlihat tertawa kecil melihat ekspresi Callista dan Mbok. Jefri sebenarnya adalah adik kekasihnya yang sudah lama berpulang, karena ada oknum yang tidak bertanggungjawab kepadanya dan meninggal begitu mengenaskan. Callista menitikkan air matanya mendengar cerita Darwin tubuhnya kembali bergetar membayangkan ketika Ronald melakukan itu kepadanya.


"Callista kau baik-baik saja?" tanya Darwi panik sama juga dengan Mbok. Mbok langsung memeluk Callista memberikan ketenangan.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen


\=> Share ke tiap Grup chat


Salam hangat dari author PERA🤗

__ADS_1


__ADS_2