Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Willy Alexander Johan Burk


__ADS_3

Sebuah restoran cukup besar terletak di jantung kota begitu ramai banyak pengunjung keluar masuk menikmati sajian makanan terbaik restoran milik Darwin.


Callista dan karyawan lainnya sampai kewalahan melayani para pengunjung, hingga pukul empat sore Callista baru bisa beristirahat di ruang para karyawan.


"Apa sakit?"


"Tuan!" Callista kaget melihat Darwin berdiri di sampingnya.


"Pakai, 'lah ini!" Darwin memberikan obat salep.


"Tapi Tuan-"


"Jangan menolak kalau kamu tidak mau menggunakan berikan kepada temanmu." Darwin langsung meninggal Callista yang masih terbengong.


Callista masuk dan menemui karyawan juga semua sama halnya dengan Callista memijit kedua kaki yang sudah terlihat bengkak.


"Kak, pakailah ini akan mengurangi rasa sakit di kaki!"


"Dari mana obat mahal ini Cal?"


"Obat mahal?" tanya Callista begitu polosnya.


"Iya ini mahal kau tidak tahu?" Callista geleng-geleng kepala.


"Astaga Callista ini obat hanya ada di luar negeri sebelah kau hebat bisa memilikinya,"


"Aku ragu apa ini asli ya?" ucap karyawan lain Sambil tertawa.


Mereka semua ketawa dan memakai obat salep pemberian Darwin semua berterima kasih kepada Callista karena obat ini karena mereka lebih baik dan bisa kembali bekerja.


Pukul enam sore Callista meninggalkan restoran dan akan kembali ke kediaman Darwin menggunakan bus.


"Tin!" Callista menoleh ada sebuah mobil warna hitam berhenti tepat di hadapannya.


"Kak?"


"Masuk!"


"Tapi bus sudah datang Kak," tolak Callista halus.


"Callista aku bilang naik!" ucap Darwin lagi. Callista masuk dengan perasaan yang begitu canggung karena ini pertama kali baginya satu mobil bersama Darwin, suasana dalam mobil hening dan Callista memilih melihat ke samping.


"Callista," panggil Darwin lembut sambil fokus menyetir.


"Iya, Kak?" jika hanya mereka berdua saja Callista memanggilnya Kakak beda ketika mereka di restoran.


"Kau mau kita makan malam bersama," ucap Darwin hati-hati. Callista sedikit gugup dengan ajakan Darwin baginya hal ini masih kata trauma baginya mengingat Ibu Kanita dulu menjebaknya di hotel. Darwin menyadari perubahan wajah Callista dan merasa bersalah.


"Lebih baik kita makan di rumah bersama Jefri saja," ucap Darwin lagi sambil fokus menyetir.

__ADS_1


Callista merasa tidak enak terhadap Darwin yang sudah begitu baik kepadanya selama ini namun bagaimana tidak Callista masih merasakan trauma yang begitu berat akan perlakuan Ibu Kanita kepadanya.


"Maaf Kak," lirih Callista.


"Tidak apa-apa Callista aku mengerti bagaimana perasaanmu," ucap Darwin sambil mengacak rambut Callista tanpa sadar dan itu membuatnya sedikit kaget akan perlakuan Darwin kepadanya.


Mereka telah tiba di rumah yang cukup besar dan seperti biasa Jefri menyambut kedatangan mereka berdua begitu antusias sekali.


"Papi, Mami!" Jefri berhambur memeluk kedua kaki Callista dan Darwin tidak tahu sengatan apa yang mengenai tubuh langsing Callista mendapatkan pelukan hangat dari tangan mungil Jefri.


"Hai Boy bagaimana harimu?" tanya Darwin sambil menggendong Jefri dan membawa masuk ke dalam.


"Sangat menyenangkan dan Jefri hari ini begitu ceria sekali Papi," ucapnya.


"Anak pintar dan baik." Puji Darwin dan Callista hanya mengikuti dari belakang sambil tersenyum sedikit melihat interaksi Ayah dan anak tersebut.


"Mami belum peluk Jefri," ucapnya sambil mengedipkan kedua bola matanya membuat Callista gemas. Callista tersenyum hangat lalu mencium kedua pipi gembul tersebut.


"Mami mandi dulu habis itu kita bermain," ucap Callista sambil membelai wajah Jefri.


"Benarkah?"


"Iya Sayang Mami naik dulu ya," Jefri mencium pipi kiri Callista lalu pergi menuju ruang bermainnya. Darwin yang belum masuk ke dalam kamar merasa sakit melihat pemandangan indah tersebut.


"Andaikan kau mau Callista menjadi Ibu sambung anakku aku siap menerimamu apa adanya," lirih Darwin lalu masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang begitu berkecamuk.


Callista merebahkan tubuh lelahnya dan pandangannya menerawang jauh membayangkan ia, Darwin dan Putranya layaknya sudah keluarga yang harmonis.


"Nak,"


"Terima kasih Mbok."


Callista langsung meneguk air putihnya dengan cepat lalu ia letakkan gelas tersebut di atas maka tepat berada disampingnya.


"Nak, apa ada masalah?" tanya Mbok.


"Mbok bagaimana kalau kita cari tempat tinggal baru?" tanya Callista tiba-tiba.


"Kenapa, Nak?" Mbok begitu kaget mendengar perkataan Callista.


"Callista tidak mau memberikan harapan palsu kepada Kak Darwin dan Jefri Mbok," lirih Callista.


"Nak, kalian berdua bisa bicarakan ini baik-baik," ucap Mbok lembut.


"Sampai kapanpun Kak Darwin tidak akan tahu bahwa apa yang aku alami Mbok," Callista beranjak dan berdiri menghadap kaca jendela.


"Sayangnya Tuan Darwin sudah mengetahuinya Nona," ucap Mbok dalam hati.


"Aku capek Mbok."

__ADS_1


Air mata Callista keluar dengan sendirinya mereka tidak menyadari di balik pintu sedari tadi ternyata Darwin mendengar semua obrolan Callista dan Mbok dada Darwin sesak mendengarkan jawaban Callista yang benar-benar menolaknya.


"Harus dengan apa Callista aku membuatmu seperti dulu lagi ternyata kau sedikitpun tidak ada perasaanmu kepadaku aku yang terlalu berharap kepadamu," Darwin kembali ke kamar dan dan memikirkan Callista.


Dalam kamar yang cukup besar Darwin duduk sambil memikirkan perkataan Calista.


"Hanya ada satu cara, baiklah Callista jika kau tidak mencintaiku tapi ... kau harus bertemu dengan Willy."


Darwin mencari tahu semua tentang Willy kekasih Callista di masa lalunya namun tidak bisa ditemukannya sedikitpun karena akses informasi Willy ditutup begitu rapat sekali.


"Sepertinya kau bukan pria sembarangan Willy sungguh menarik," ucap Darwin sambil mematikan ponsel miliknya.


Sesuai janji Callista kepada Jefri mereka berdua bermain dan bercanda sampai larut malam. Callista tidak mengeluh sedikitpun walau sudah lelah bekerja seharian namun masih mau memberikan waktunya kepada Jefri.


Darwin menuju ke dapur dan menghampiri Mbok yang baru saja menyelesaikan membersihkan meja makan.


"Mbok bisa kita bicara?" jantung Mbok kembali berpacu begitu kencang lalu mengikuti Darwin ke belakang rumah yang tidak lain taman belakang.


"Mbok Saya ingin bertanya?"


"Iya Tuan silahkan,"


"Mbok siapa itu Willy?"


"Deg!"


"T-tuan!"


"Tenang aku bukan bermaksud,"


"Mbok demi kebaikan Callista," ucap Darwin.


Mbok begitu gugup dan ragu takut memberikan informasi soal Willy Putra dari grup Burk yang terkenal dalam dan luar negeri.


"Mbok!"


Darwin begitu terkejut mendengar fakta mengenai William Alexander Johan Burk Putra dari William dan Letizia dan bagaimana bisa Callista mengenal keluarga berpengaruh itu seketika Darwin lemas dan tidak berdaya lagi harapannya telah hilang mendengar semua ini.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen


\=> Share ke tiap Grup chat

__ADS_1


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2