
"Tuan, apapun keinginanku, aku akan mendapatkannya dari anda suatu saat. Aku sangat senang Callista kembali semoga dia bahagia dengan putra anda yang benar-benar mencintainya," ucap Darwin tersenyum. William tidak menyangka jawaban yang dia dengar dari mulut Darwin.
Tempat lain, sesuai perintah Tuan besar William, Rayan melaksanakan tugasnya mengurus Kanita dan Ronald yang sudah mengganggu ketenangan, kebahagiaan Tuan mudanya yaitu, Willy.
"Lepaskan! kau mau membawaku kemana pria tua?" ucap Kanita sambil memberontak dari genggaman para pria bertubuh besar anak buah Rayan.
"Diam! makanya jangan berbuat jahat, lihat dirimu sudah tua melakukan hal kotor lagi dunia mana yang akan menerimamu nanti?" ucap Rayan sambil tertawa sinis.
Rayan dan anak buahnya ternyata membawa Kanita dan Ronald tempat sebuah rumah yang dihuni para orang-orang yang muda. Bekerja hanya malam hari, Kanita tidak menyangka sosok wanita yang dikenalnya tengah melayani para pria tua dan muda.
"Dina!" teriak Kanita sambil menghempaskan tangan para bodyguard yang menahannya.
"Ibu?" pekik Dina.
"Apa yang kau lakukan disini katakan!" tanya Kanita sambil mengguncang tubuh Dina yang sudah terekspos.
"Lepaskan Ibu!" ucap Dina menghempaskan tangan Kanita kuat dan hampir terjatuh.
"Dina kau-"
"Ini hidup Dina, Bu sekarang." Dina tidak berani menatap wajah Rayan yang terlihat begitu menakutkan.
"Apa?" Kanita begitu kaget mendengar perkataan Dina barusan membuat jantungnya berdegup kencang.
"Jangan mengganggu Dina lagi, Bu." Kanita tercengang dan tidak menyangka Dina berakhir di tempat mengerikan ini padahal, Kanita tahu selama ini Dina belajar di Swiss menimba ilmu.
"Kau ikut dengan Ibu sekarang!" ucap Kanita sambil menarik tangan Dina namun, anak buah Rayan menghentikan mereka berdua.
"Hentikan!" para bodyguard menghalau mereka berdua dengan tatapan yang begitu tajam sekali.
"Minggir ini bukan urusan kalian!" ucap Kanita sambil mendorong tubuh anak buah Rayan.
"Wanita ini harus tetap disini!" ucap pria bertubuh besar tersebut sambil menunjuk Dina dengan suara beratnya.
__ADS_1
"Apa?" minggir dasar pria tidak waras. Dina harus sekolah bukan di sini." Kanita semakin kesal Rayan mendekati mereka dan menghempaskan tangan Kanita.
"Kau lupa apa yang kau lakukan kepada Nona Callista sebagai gantinya, kau dan dia menerima hukumannya tentu kalian akan berakhir di tempat ini." Kanita tercengang dan menatap Dina hanya diam saja tidak bisa mengatakan apapun lagi seperti pasrah.
"Tidak! Dina tidak bersalah hukum saja aku," ucap Kanita tidak terima Dina diseret di dunia bisnisnya.
"Kalian terus awasi dua wanita yang tidak tahu diri ini jangan sampai lengah," ucap Rayan tidak memperdulikan perkataan Kanita barusan.
"Baik Tuan," jawab mereka serempak.
"Tidak! Tuan saya mohon jangan lakukan ini kepada Dina dia tidak bersalah." Kanita langsung memeluk kaki Rayan dan disaksikan Dina namun, tidak bisa berbuat apa-apa karena anak buah Rayan menahannya. Hatinya begitu sakit sekali melihat sosok ibunya telah berakhir seperti ini.
Kanita ambruk di lantai, Dina langsung menghempaskan tangan para pria bertubuh besar tersebut dan menghampiri wanita yang sudah tidak bisa diartikan lagi.
"Bu. Hentikan! semua sudah terjadi kita tidak akan bisa keluar lagi dari tempat ini," ucap Dina dingin.
"Apa maksudmu Dina?" tanya Kanita lalu berdiri. Kini mereka sudah berada di ruang khusus dan setiap pelanggan yang akan berkunjung Dina cukup bekerja hanya satu malam lima orang dengan durasi satu orang satu jam tidak lebih.
Dina menceritakan bagaimana dia bisa berakhir tempat mengerikan ini karena perbuatan Kanita juga terus mencari Callista demi uang dan hidup mewah. Kebohongan Dina fair Swiss telah terungkap dia bukan mahasiswa di sana namun, hanya wanita yang mencari dompet dengan bantuan salah satu dosen berpengaruh di sana. Semua terungkap karena Willy sudah lama mengenal Dina, ketika dia dan Leonore mencari Callista dulu di rumah namun, Dina membentak dan main masuk ke dalam tidak memperdulikan mereka berdua hingga Willy sampai detik itu diam dan terus memantau Dina tanpa sepengetahuannya.
Kanita merasa lehernya tegang mendengar cerita Dina, semua telah hilang dalam sekejap dan apa yang dia lakukan telah gagal semua. Kanita juga geram Dina telah membohonginya selama ini bukannya meraih ilmu justru melakukan hal yang tidak benar.
"Kau wanita buruk Dina!" bentak Kanita.
"Ibu yang membuatku seperti ini," jawab Dina tidak mau kalah membentak Kanita.
"Ibu pikir kau menimba ilmu tapi ... kau malah menyerahkan dirimu kepada para pria tua bangka!" teriak Kanita.
"Ibu!" kedua bola mata Dina menatap Kanita begitu tajam sekali hingga Kanita memilih diam dan tidak melanjutkan perdebatan mereka lebih memijat kepala yang pusing dan berdenyut.
Dua hari telah berlalu semenjak kejadian yang menimpa Callista seperti yang direncanakan sebelumnya, Callista benar-benar menuju kampung halaman kedua orang tuanya didampingi Mbok yang selamat dari orang-orang Kanita dan Ronald dulu.
Stasiun, Willy tidak hentinya terus memegangi tangan Callista takut kembali kehilangan sang pujaan hatinya. Mbok memilih sedikit menjauh dari sepasang kekasih yang baru saja kembali memberikan mereka privasi. Sambil menunggu bus selanjutnya, Callista dan Willy duduk disalah satu bangku panjang sambil memegang erat tangan Callista.
__ADS_1
"Willy, tanganku sakit ...," lirih Callista pelan.
"Maaf." Willy melonggarkan genggamannya lalu mencium lembut tangan Callista membuatnya tersipu malu karena ini adalah tempat umum.
"Jaga dirimu di sana baik-baik. Kalau kamu membutuhkan sesuatu hubungi aku kamu mau, 'kan, Sayang?" ucap Willy sambil menatap Wajah merah Callista.
"Willy jangan berlebihan aku bisa menjaga diriku lagian ada Mbok bersamaku," jawab Callista halus sambil menunduk wajahnya karena gugup melihat wajah tampan Willy.
"Aku tenang jika Mbok bersamamu," ucap Willy sambil menyentuh pipi mulus Callista.
"Will." Calista merasa risih Willy menyentuhnya seperti itu apalagi wajah Ronald masih terngiang-ngiang di benaknya.
"Maaf. Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Willy lembut. Callista mendongak menatap manik mata abu Willy yang terlihat begitu memancar dan penuh cinta menatapnya.
"Hanya sekali ini sebelum kamu pergi katakan ... aku mencintaimu Willy dan tidak akan pernah meninggalkanmu lagi," ucap Willy pelan dan penuh hati-hati. Callista telan ludah mendengar perkataan Willy yang terdengar lucu baginya.
"Sayang, kau tidak mau?" tanya Willy wajahnya bahkan sudah memerah menahan malu.
"Willy. Bus sudah datang aku pergi," ucap Callista tersenyum kecil.
"Tapi jawab dulu yang aku bilang tadi, Sayang!" ucap Willy sambil menahan lengan Callista.
"Aku akan segera kembali." Hanya kata itu keluar dari mulut Callista dan masuk dalam bus dan diikuti Mbok.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
__ADS_1
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗