Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Menghabiskan waktu


__ADS_3

Callista sudah bangun awal bersama dengan asisten menyiapkan sarapan pagi, kali ini Callista benar-benar seperti Ibu rumah tangga namun, baginya tidak masalah sama sekali. Selesai berkutat di dapur Callista naik ke atas untuk membangunkan Jefri agar terbiasa bangun awal.


"Sayang bangun sudah pagi!" ucap Callista lembut.


"Sebentar lagi Mami masih mengantuk," Jefri menaikkan selimut tebalnya sampai ke kepala. Callista membuang nafasnya pelan menghadapi anak-anak tidaklah mudah apalagi Jefri bukan darah dagingnya.


"Yakin tidak mau bangun Mami akan marah ini," ucap Callista sambil menggertak beranjak dari ranjang Jefri.


"Iya Jefri sudah bangun Mami. Jangan marah Jefri Sayang Mami," tidak lupa Jefri mencium pipi kanan Callista lalu beranjak ke kamar mandi.


"Astaga Jefri dasar bocah," ucap Callista tersenyum bahagia lalu ia merapikan tempat tidur Jefri. Darwin yang memperhatikan Callista dari balik pintu merasa begitu bahagia sekali karena Callista lembut kepada Putranya kadang sulit diurusnya sedangkan Callista tidak ada hubungan darah bisa patuh kepadanya, pagi ini suasana Darwin begitu cerah.


Seperti biasa mereka sarapan pagi layaknya keluarga yang harmonis, Darwin dan Jefri begitu lahap menyantap makanan tersebut seperti berlomba saja. Callista dan Mbok saling menatap tertawa kecil melihat Ayah dan anak tersebut begitu kompak sekali.


"Ya ampun perutku sakit sekali," ucap Darwin sambil memegangi perutnya yang mulai berisi sambil menahan nafasnya.


"Kakak terlalu banyak makan sebentar aku ambilkan obat," ucap Callista yang seperti Istri Darwin begitu telaten mengurusnya bersama Jefri dan ini tidak luput dari perhatian Mbok.


"Apa Nona sudah melupakan Tuan Willy artinya berpaling ke Tuan Darwin?" gumam Mbok dalam hati.


Callista dan Jefri mengantar Darwin ke depan yang hendak pergi bekerja sebuah pemandangan yang begitu indah siapapun melihatnya.


"Papi, apa lama nanti pulang?" tanya Jefri polos.


"Tidak Nak, bagaimana kita nanti malam makan bersama?" tanya Darwin sambil menerima kerjanya dari Callista.


"Makan spaghetti Papi," ucap Jefri bahagia.


"Bagaimana dengan kamu mau, 'kan?" tanya Darwin hati-hati.


"Iya Kak kami akan menunggu Kakak jemput kami," jawab Callista sambil tersenyum. Darwin seperti melayang mendengar jawaban Callista akhirnya setelah penantian panjangnya Callista mau makan bersama dengannya juga putranya.


"Kalau begitu aku pergi bekerja kalian baik-baik dirumah," ucap Darwin sambil mengusap kepala Callista tanpa sadarnya. Callista sedikit kaget bercampur gugup Darwin memperlakukannya seperti itu namun, rasa gugupnya tidak ditunjukkannya dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


Darwin rasanya enggan hari ini bekerja karena ingin menghabiskan waktu bersama Callista dan Jefri hari ini.


"Aku terlalu egois selama ini tidak pernah memahami perasaan kamu begitu baik sekali denganku Kak dan juga Mbok yang sudah menampung kami lalu memberikan status di rumahmu ini," lirih Callista.


Darwin begitu bahagia sekali sampai lupa soal kepulangan Willy yang sudah berada di tanah air yang kembali ingin memulai hidup baru dengan Callista dan memperbaiki semuanya.


Di Mansion yang begitu megah seperti istana Willy baru saja selesai berolahraga keringat membasahi sekujur tubuh kekarnya dan lagi sinar matahari yang mengenai wajah tampannya membuat mata sakit karena ketampanannya begitu bersinar.


"Kenapa Paman sekarang jarang mengirim kabar Callista?" ucap Willy sambil memperhatikan ponselnya.


"Apa sesuatu telah terjadi jangan katakan Callista hilang dan Paman ... Itu tidak mungkin terjadi." Willy langsung meraih ponsel lalu menghubungi Rayan dan dan memastikan apakah semuanya baik-baik saja.


"Tuan muda," gumam Rayan.


"Halo Tuan muda," ucap Rayan hati-hati.


"Bagaimana kabar Calista, Paman?" tanya Willy.


"Maaf Tuan," ucap Rayan pelan.


"Aku khawatir Tuan muda dan Nona Callista bagaimana nanti mereka akan bertemu lalu apa yang akan terjadi dengan mereka berdua?" ucap Rayan dalam hati.


Malam harinya Darwin benar-benar membawa Callista dan Jefri makan malam mewah di salah satu hotel terbaik yang ada di kota tersebut, wajah Callista bahkan juga terlihat bahagia untuk pertama kali karena tidak menyangka ia bisa makan malam mewah di tempat seperti ini untuk kedua kalinya karena ia pernah makan malam bersama dengan Willy namun, tidak dirasakannya sedikitpun karena rasa canggung menyelimuti hatinya pada saat itu.


"Kau menyukainya, Calista?" tanya Darwin pelan.


"Iya terima kasih Kak," jawa Callista sambil tersenyum lebar.


"Ya ampun senyumannya membuat jantungku berdebar-debar ," gumam Darwin sambil mengalihkan pandangannya.


Makanan akhirnya tiba, Jefri begitu antusias melihat makanan kesukaannya yang sudah lama tidak dimakannya. Callista dan Darwin tersenyum melihat wajah Jefri yang begitu bahagianya.


"Sayang pelan-pelan makannya!" ucap Callista lembut sambil membersihkan mulut Jefri yang belepotan.

__ADS_1


"Enak Mami." Calista hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Jefri lalu ia juga melahap steak daging sapi tersebut. Darwin menikmati juga makanannya sambil sesekali melirik ke Callista yang terlihat begitu cantik sekali malam ini.


"Bagaimana jika aku terlamarnya malam ini rasanya aku sudah tidak tahan lagi," gumam Darwin yang sudah tidak sadar akan pertemuan terakhirnya bersama Rayan mengenai Willy. Seketika Darwin teringat masa lalu Callista yang membuatnya sampai sekarang ini tidak bisa menerimanya.


"Kenapa aku terbayang soal itu di saat kami sedang makan malam mewah, rasanya aku ingin mengeluarkan sesuatu dari perutku."


Callista yang tidak sengaja melihat wajah Darwin tidak sebahagia ketika mereka menuju ke sini mengerutkan keningnya. Malam itu mereka seperti layaknya keluarga yang harmonis namun, di sudut ruangan sosok pria tinggi tegap dan juga tampan melihat pemandangan indah tersebut. Wajah tampannya seketika dingin dan kedua tangannya terkepal siapa lagi kalau bukan Willy yang berkunjung ke hotel miliknya di kota ini namun tidak sengaja melihat sosok wanita yang ia cintai selama ini bersama pria asing dan seorang anak kecil.


"Callista," pekiknya. Willy pamit dari teman-teman stambuk fair dan menuju ke meja Callista.


"Tuan muda jangan menemui Nona seperti ini!" Rayan tiba-tiba menghentikan Willy karena tidak baik jika Callista melihatnya.


"Paman Callista dia-"


"Tuan tenanglah ini bukan saatnya, lihat para pengunjung melihat anda saat ini," Rayan menutupi tubuh Willy agar Callista tidak melihatnya.


"Paman aku sudah tidak sabar ingin tahu kenapa Callista pergi meninggalkanku," ucap Willy ketika mereka sudah berada di parkiran dan di dalam mobil.


"Maaf Tuan muda saya gagal," ucap Rayan menunduk.


"Aku tidak butuh itu lagi Paman. Sekarang aku ingin Callista mengatakannya sendiri kepadaku,"


"Tuan." Tatapan Willy tajam ke depan.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen

__ADS_1


\=> Share ke tiap Grup chat


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2