Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Kembali menikmati


__ADS_3

Willy masih merasakan tangan Callista gemetar dan berkeringat.


"Aku takut. Tubuhku sudah kotor, dia menjamah seluruhnya Willy." Callista tiba-tiba bergetar hebat seluruh tubuhnya, rasa trauma kembali menyelimuti dirinya.


"Callista tenanglah aku di sini," ucap Willy menahan Callista ingin menyakiti tubuhnya.


"Lepaskan kau menyakitiku!" Callista tiba-tiba memberontak dan mendorong Willy hampir jatuh dari tempat tidur tempat Callista.


"Callista, hentikan!" bentak Willy dengan suara yang begitu tinggi sampai memenuhi seluruh ruangan. Callista tergelonjak kaget kedua bola mata Willy yang sudah dingin bahkan memerah.


"Hentikan! kau sudah aman bersamaku jangan menyakiti dirimu Callista," ucap Willy sambil mendekati Callista kembali seketika terdiam.


"Wi-willy," ucap Callista gugup air matanya bahkan keluar kembali membasahi kedua pipi mulusnya.


Willy memeluk Callista begitu erat memberikan kenyamanan dan ketenangan kepada sang pujaan hatinya tersebut. Terdengar suara tangisan di pundak Willy membuat hatinya sakit sekali melihat Callista begitu menderita. Callista menumpahkan semua tangisannya sambil memukul sesekali dada bidang Willy sampai memerah.


"Kenapa aku mengalami ini, katakan! Apa salahku Willy?" ucap Callista terus. Willy tidak menjawab, justru membiarkan Callista melampiaskan semuanya dan menahan pukulan dada bidangnya. Sakit yang dia rasakan tidak sebanding apa yang telah dialami Callista.


"Aku kotor Willy," ucap Callista lagi. Kata kotor terus ia ucapkan tanpa bosan karena Callista benar-benar jijik akan dirinya. Willy melepaskan pelukannya tanpa mengucapkan apapun, Willy langsung mempersatukan mereka dan kembali menikmati benda yang pernah dia rasakan ketika pertama kali di tempat ini.


Callista tertegun Willy kembali menciumnya jantungnya bahkan berpacu begitu cepat sekali dan napasnya terhenti sejenak.


"Balas Sayang," bisik Willy pelan lalu kembali menikmatinya melakukan begitu lembut sekali. Callista tanpa sadar menikmati permainan Willy dan melupakan semua yang terjadi dengannya. Mungkin hanya sebuah sentuhan bisa kita kembali bangkit dari keterpurukan dan melupakan segalanya by author Pera.


Willy menghentikan aktivitas mereka berdua menatap lekat wajah Callista yang sudah terlihat kembali baik. Sebuah sentuhan hangat kening mendarat begitu lama, Callista bahkan memejamkan kedua bola matanya menerima apa yang telah dilakukan Willy kepadanya. Tidak tahu kenapa tubuhnya menerima semua sentuhan lembut Willy melupakan segalanya.


"Mari kita mulai dari awal kau mau, 'kan, Sayang?" ucap Willy lembut sambil menangkup kedua pipi kurus Callista.

__ADS_1


"A-aku!"


"Jangan menolakku lagi. Mari kita lupakan semuanya Sayang kau mau, 'kan?" potong Willy cepat. Callista terdiam pikirannya kosong tidak bisa berpikir jernih. Willy mengerti apa yang dipikirkan Callista saat ini lalu kembali tersenyum.


"Jangan khawatir, Mommy, Daddy dan Leonore tidak akan mempermasalahkan semuanya mereka mendukung kita Sayang. Karena kamu adalah wanita terbaik yang pernah mereka temui," ucap Willy lagi sambil memeluk Callista menghirup aroma kesukaannya tersebut.


"Aku sangat mencintaimu Callista. Kaulah obatku selama ini. Aku tidak tahu jika kamu benar-benar pergi jauh lagi dan meninggalkanku." Callista merasa sesak mendengar perkataan Willy. Apakah ia terlalu egois selama ini membuat hubungan mereka sesulit ini namun kenyataannya hanya waktu yang bisa mengubah segalanya dan memperbaiki semua kesalahan.


"Willy ... aku ingin waktu memikirkan ini semua. Aku tahu kamu pria baik dan aku yakin cinta kamu tidak akan pernah berubah sama sekali untuk saat ini, mari kita jalani hidup masing-masing dulu. Aku ... aku belum bisa dan siap dengan ini semua," ucap Callista pelan. Willy memejamkan kedua bola matanya sesaat mendengar perkataan Callista.


"Katakan sampai kapan aku menunggu lagi, Callista?" tanya Willy sambil menatap serius manik mata Callista.


"Aku akan menghubungimu Willy, segera."


"Apa kau kembali lagi nanti dan memulai dari awal lagi?" tanya Willy karena merasa takut Callista kembali pergi untuk kedua kalinya. Callista hanya terdiam dan menunduk, Willy mendengus melihat ekspresi Callista yang membuat jantungnya berdegup kencang.


"Baiklah aku akan menunggumu Sayang, tapi ... kalau boleh tahu kau mau pergi kemana?" tanya Willy karena tidak mau kehilangan jejak Callista lagi dan bisa memantau jarak jauh.


"Kapak kau akan berangkat? Aku akan mengantarmu."


"Tidak perlu aku naik bus saja," tolak Callista halus.


"Baiklah. Tapi boleh aku mengantarmu ke stasiun?" ucap Willy berharap Callista mau. Karena Willy masih takut sang pujaan hatinya hilang kembali. Callista menatap wajah tampan Willy yang terlihat kusut merasa kasihan lalu Callista menunduk. Willy senang dan kembali memeluk Callista begitu erat sambil menciumi pucuk kepala Callista lembut.


Dimansion, William geram dan murka mengetahui fakta yang sebenarnya apa yang di alami Callista selama ini. Sebagai Ayah yang memiliki anak perempuan tentu membuatnya marah. Namun, beruntung Letizia bisa menenangkan William jika tidak isi Mansion bakal terbalik semua akan kemurkaan William.


William langsung menuju tempat dimana Ronald dan Kanita tahan Darwin dan anak buah Rayan. Setibanya, William langsung main masuk tanpa memperdulikan para bodyguard menyapanya. Melihat kedatangan William, Darwin terkejut untuk pertama kalinya melihat sosok William sang pebisnis berpengaruh di dunia ini.

__ADS_1


"Rasakan ini!" ucap William tanpa ampun memberikan hadiah berat kepada Ronald.


"Beraninya kau melakukan hal kotor kepada wanita," ucapnya lagi sambil melayangkan hadiah kedua yang lebih menyakitkan.


"Tu-tuan William!" ucap Ronald sambil menahan sakit di perut dan wajahnya.


"Tutup mulutmu! kau tidak pantas ada di dunia ini, orang macam apa kau tega melakukan itu kepada anak dibawah umur." William kembali memberikan hadiah ketiga yang lebih nikmat kepada Ronald sampai tidak sadarkan diri. Kanita melihat semua yang dilakukan William menjerit dan tidak bisa membayangkan itu mengenainya. Kedua bola mata William menatap tajam Kanita seperti mau menelan hidup-hidup.


"Wanita sepertimu ... terimalah hukuman dari Rayan." Hanya itu kata yang terucap dari mulut William lalu melihat Darwin yang menunduk tidak berani menatap wajahnya.


"Kau ikut aku!" William menuju keruang tengah dan minum air putih dingin yang sudah disediakan. Darwin berdiri tepat dihadapan William sekarang.


"Kau yang menolong Callista selama ini bersama Mbok?" tanya William menatap lekat Darwin.


"Iya, Tuan. Maaf, saya seharusnya membawa Callista kembali kepada anda," jawab Darwin.


"Tidak perlu minta maaf. Kau pria baik, terimakasih sudah menolongnya sebagai gantinya katakan apa yang kau inginkan aku akan kabulkan." Darwin mendongak tidak percaya William mengatakan itu kepadanya. Apa Darwin akan egois jika dia menginginkan Callista? Namun, itu tidak mungkin karena dia sudah move on dari wanita yang mampu membuatnya melupakan sang kekasihnya yang sudah pergi jauh.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen

__ADS_1


\=> Share ke tiap Grup chat


Salam hangat dari author PERA🤗


__ADS_2