
Callista menatap wajah Willy lekat sambil menikmati makan siangnya mereka berdua mengabaikan apa yang di katakan oleh orang-orang tentang hubungan mereka namun, beda halnya dengan Callista.
"Willy. Apa kamu tidak malu memiliki pacar seperti aku?" tanya Callista pelan.
"Kau tidak suka," suara Willy terdengar berat.
"Hanya saja orang-orang selalu membandingkan kita dua,"
"Dan kau tidak terima?"
"Bukan seperti itu Willy hanya saja-"
Wily langsung meninggalkan Callista begitu saja lalu menuju ke kasir membayar makan siang mereka berdua karena Willy tahu Callista tidak akan sanggup membayar makan siang mereka.
"Willy tunggu!"
"Apa? Kau tidak nyaman ya sudah kita cari tempat lain,"
"Bukan itu maksudku Will."
Willy terus berjalan meninggalkan Callista begitu saja tanpa menoleh kebelakang ya.
"Dasar jika aku hanya melihat materi dan fisik, aku tidak akan mau pernah menjalin hubungan denganmu," gerutunya sambil terus berjalan ke taman kampus. Sebuah tangan lembut telah mengagetkan Willy tubuhnya merinding mendapat pelukan dari belakang yang baru saja pertama dia rasakan.
"Maafkan aku," lirih Callista. Willy tersenyum bahagia selama dua tahun ini untuk pertama kalinya mereka bersentuhan beda halnya dengan genggaman tangan itu hal yang biasa.
"Inikah namanya Cinta?" ucap Willy bahagia sekali dalam hati lalu dia berbalik meraih kedua tangan mulus kekasihnya itu.
"Kenapa?"
"Seharusnya aku tidak mengatakan itu kepadamu seperti itu," menunduk.
"Jangan!"
"Hah?"
"Terus, 'lah berkata seperti itu tiap hari,"
"Hah?"
"Aku suka Sayang, setelah itu kau akan terus memelukku seperti tadi."
Tidak bisa dikatakan seperti apa lagi wajah Callista yang begitu memerah, malu dan alangkah bodohnya ia bisa kelepasan memeluk tubuh kekar Willy. Semenjak mereka berdua jadian lalu, mereka sepakat tidak boleh bersentuhan jika belum menjadi sepasang suami istri.
Callista dan Willy kembali ke kelas dengan senyuman yang begitu bahagia sekali terpancar di wajah mereka berdua dan itu tidak luput dari semua pandangan se isi kampus.
__ADS_1
"Belajarlah yang benar nanti aku akan menjemputmu,"
"Iya kamu juga."
Willy tidak lupa mengusap kepala Callista lembut lalu menuju ke kelasnya. Willy Baron dan Rahadian mengikuti pelajaran terakhir dengan wajah yang bersungguh-sungguh inilah para dosen dan siswa lain melihat tiga pria tampan ini jika mereka serius sedangkan jika di luar sana kepribadian mereka begitu hangat dan humoris.
"Willy, wisuda nanti melanjut ke mana apa kamu langsung bekerja atau melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi lagi?" tanya Baron ketika mereka menuju ke kantin sambil menunggu Calista.
"Aku tidak tahu,"
"Kenapa bang?" kali ini Rahadian bertanya.
"Pasti soal Callista."
Kali ini tebakan Baron benar raut wajah Willy berubah seketika Baron dan Rahadian yang melihat raut wajah saudaranya itu berubah mereka mengerti dan lebih baik terdiam. Di ujung Taman sosok wanita cantik melambaikan tangan kepada mereka ditambah dengan senyuman hangatnya.
"Sudah lama menunggu maaf kelasku baru saja selesai," ucap Callista tersenyum lebar.
"Baru saja Callista," jawab Baron tersenyum.
"Ikut aku!" Willy langsung menarik tangan Callista membawanya jauh dari lapangan kampus.
"Gila Abang Willy main tarik pasti sakit itu tangan primadonanya," ucap Baron cengengesan Rahadian hanya menanggapi dengan tawa kecil.
Benar saja Callista sedikit meringis karena Willy sedikit kasar membawanya sampai ke dalam mobil miliknya yang sudah terparkir rapi di kampus walau, Willy dan Leonore bersamaan berangkat dengan William namun soal kendaraan sudah dibawakan para sopir sebelum jam pelajaran para tuan dan Nona muda mereka selesai.
"Masuk!"
Tanpa berkata apa-apa mereka berdua sudah menuju ke jalan raya yang cukup padat.
"Willy kita mau kemana?" kali ini arah yang mereka tuju beda dan Callista tidak tahu sedikitpun mengenai jalan ini.
"Kau akan mengetahuinya jika kita sudah sampai di sana jadi diam, 'lah!"
"Kamu kenapa berubah Willy aku tidak memahamimu yang dingin tiba-tiba tanpa sebab," Willy langsung menghentikan mobil mewahnya seketika membuat Callista kaget.
"Turun!" kali ini Calista takjub melihat pemandangan yang begitu indah sekali dan udara yang begitu sejuk begitu banyak pepohonan sekelilingnya.
"Kau menyukai tempat ini?" tanya Willy sambil mengabadikan Callista yang menghirup udara dan merentangkan kedua tangannya seolah melupakan semua masalah.
"Cantik sekali." Senyum Willy terlihat dari sudut bibir tipisnya.
Menyadari Willy tidak ada lagi dibelakangnya Callista memperhatikan semua sekelilingnya dan kedua bola matanya tertuju ke salah satu meja yang sudah dihias secantik mungkin dilapisi dengan kain berwarna putih dan setangkai bunga mawar yang tergeletak di meja tersebut lalu, ada sebuah kotak berwarna merah kecil memperlihatkan isinya sebuah cincin pasangan yang berwarna putih dan dilapisi berlian kecil.
"Indah sekali," ucap Callista sambil menyentuh benda tersebut dan tidak sadar Willy sudah berada di belakangnya.
__ADS_1
"Kau menyukainya?"
Callista kaget dan tidak sengaja hampir bunga mawar merah tersebut terjatuh jika Willy tidak sigap menangkapnya.
"Willy kau dari mana tadi?"
"Ada di depanmu Sayang," wajah Callista memerah mendengar perkataan Willy.
"Dengar aku saat ini sedang memberikanmu sebuah kejutan,"
"Apa?"
Willy tidak menjawab dan membawa Calista duduk disalah satu bangku yang sudah dia siapkan tersebut, Callista masih bingung dengan ini semua dan mencoba tetap tenang dan memperhatikan apa yang telah dikerjakan oleh kekasihnya itu.
"Aku pria yang tidak romantis, aku hanya pria yang biasa saja dan seperti pada pria pada umumnya tapi jika kau menerima benda yang aku pegang ini aku akan sangat bahagia," ucap Willy sambil berjongkok dihadapan Callista yang saat ini benar-benar terkejut.
"Willy, apa maksudnya ini?"
Callista terlihat tidak begitu nyaman sekali dengan apa yang telah Willy lakukan kepadanya.
"Hadiahku, bukankah saat ini kau sedang ulang tahun, Sayang?"
Callista langsung menutup mulutnya tanpa disadarinya air matanya seketika tumpah begitu saja mendengar perkataan Willy barusan bagaimana tidak, ia saja lupa tanggal lahirnya karena sibuk kuliah sambil bekerja walau Willy sudah melarangnya untuk bekerja namun Calista tidak mau tergantung kepada Willy.
"Selamat ulang tahun Sayang dan selamat anniversary ke tiga buat kita berdua," Calista tidak menjawab dan langsung memeluk Willy begitu erat sekali karena mendapatkan kejutan yang luar biasa ini yang tidak pernah dibayangkan sedikitpun.
"Terima kasih sudah memberiku kejutan besar ini."
Callista terisak dileher Willy, tidak tahu lagi bagaimana rona wajahnya Willy saat ini begitu bahagia sekali mendapatkan pelukan dari sang kekasih yang sudah menemaninya selama ini.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku."
Untuk pertama kalinya Willy memberanikan mencium kening Calista lembut sekali sambil menyematkan cincin tersebut ke jari manisnya.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
\=> Share ke tiap Grup chat
__ADS_1
Salam hangat dari author PERA🤗