
Rahadian membiarkan Willy menyendiri dan memberikan ruangan agar bisa berpikiran jernih. Rahadian memilih beristirahat karena besok yang harus mulai magang di perusahaan milik keluarganya yaitu Hazel grup. Kini, tinggal seorang Willy sendirian dalam kamar yang begitu luas.
Memikirkan sosok pujaan hatinya yang pergi tiba-tiba meninggalkannya, Willy tidak bisa berpikiran jernih sama sekali. Willy masih membayangkan perkataan Darwin dan Rahadian sampai kepala Willy benar-benar sakit membayangkan semua terjadi kepada Callista.
Pukul lima pagi Willy baru bisa tidur disamping Rahadian. Pagi itu Rahadian merasa kasihan kepada Willy yang begitu menderita semenjak kepergian Callista dari hidupnya.
"Aku tidak percaya Bang Callista sudah tidak bersih lagi kalau Abang masih mencintainya temui saja Callista," gumam Rahadian lalu keluar menuju ke perusahaan milik keluarganya karena sedikit jauh dari apartemennya.
Willy bangun kesiangan seluruh tubuhnya sakit, tubuh kekarnya banyak masuk angin malam. Willy langsung menuju ke kamar mandi berendam dengan air hangat sambil memejamkan kedua bola matanya memikirkan Callista.
"Hari ini aku harus menemuinya," ucap Willy lalu beranjak keluar menuju ke wardrobe milik Rahadian.
Willy yang sudah kelihatan rapi meluncurkan kendaraannya menuju kediaman Darwin namun langkahnya terhenti karena melihat rumah sudah tertutup rapat dan tidak ada penghuninya sama sekali dan rumah tertulis sudah dijual.
"Sialan kau Darwin beraninya kau membawa Callista dariku lihat apa yang akan kulakukan nanti kepadamu." Willy langsung menghubungi Rayan dan ceritakan apa yang terjadi. Rayan langsung meninggalkan pekerjaannya dan menuju ke restoran Darwin.
"Awas kau Darwin lihat saja jika sesuatu terjadi dengan Callista kau akan menerima hadiah dariku."
Rayan sudah tiba di restoran milik Darwin namun kedua bola mata terbelalak kaget melihat pemandangan buruk tersebut.
"Apa yang terjadi? kenapa bisa seperti ini?" tanya Rayan dalam hatinya. Willy yang baru saja tiba di restoran Darwin yang sama kagetnya.
"Tuan muda lihat sepertinya ada yang tidak beres disini," ucap Rayan.
"Paman periksa semua!" perintah Willy sambil mengeratkan gigi putihnya.
"Baik Tuan muda," jawab Rayan sambil menunduk.
"Apa yang terjadi?" tanya Willy sambil masuk ke dalam restoran baru yang sudah kacau. Perasaan Willy tidak enak akan hal ini apalagi kalau setelah hilang kembali. Suara rintihan terdengar di ruangan belakang, kedua bola mata Willy terbelalak melihat Rena kekasih Rahadian penuh luka dan memar di wajahnya.
"Rena!" Willy langsung meraih Rena kepangkuannya yang sudah terlihat lemah.
"Ka-kak tolong, Callista dan Tuan Darwin. Rena menutup kedua bola matanya kesadarannya sudah hilang. Hanya Rena saksi mata melihat Callista dan Darwin dibawa sempat ke restoran sebelum dihancurkan oleh para pria bertubuh besar karena mendapatkan perlakuan buruk dari mereka dan meninggalkannya begitu saja.
Willy langsung melajukan kendaraannya ke rumah sakit sekali menghubungi Rahadian yang masih bekerja di perusahaan milik keluarganya. Setibanya di rumah sakit Willy langsung membawa Rena kedalam dan para dokter langsung menolong Rena yang sudah tidak sadarkan lagi. Sepuluh menit Rahadian sudah tiba di rumah sakit begitu khawatir.
"Bang. Apa yang terjadi?" tanya Rahardian khawatir.
__ADS_1
"Kau temani dulu Rena aku harus pergi menyelesaikan sesuatu Rahadian," ucap Willy.
"Tapi, Bang-"
"Aku pergi Rahadian nanti aku hubungi kau." Potong Willy lalu meninggalkan Rahardian sendirian menemani sang kekasihnya yang sedang diperiksa oleh tim medis.
Willy tidak seperti dirinya lagi, menyangkut soal Callista Willy telah berubah menjadi pria yang sungguh menakutkan bahkan kedua bola mata Willy telah memerah membayangkan hal-hal yang tidak diinginkan mengenai kekasihnya Callista.
Rayan yang sudah mengetahui dimana sekarang saat ini Callista berada langsung memberitahukan kepada Willy agar menuju ke sebuah taman yang ada di pinggir kota. Namun sosok wanita yang dicintainya telah berpelukan dengan pria yang menjaganya selama ini. Hati Willy begitu sakit melihat pemandangan tersebut lalu berbalik badan karena tidak kuat melihatnya.
"Tuan muda, lihat Nona Callista," ucap pelayan pelan. Willy berbalik dan melihat para pria bertubuh tegap hendak membawa Callista dan Darwin dari taman tersebut.
"Sepertinya mereka menginginkan Nona, Tuan," jawab Rayan.
"Paman jangan katakan kalau Callista dibawa pergi ke dunia lain lagi."
"Tuan jangan gegabah kita melihat mereka dulu apa yang mau mereka lakukan dengan Nona Callista," ucap Rayan sambil menahan Willy yang ingin menghampiri Callista.
"Paman tidak melihat Callista saat ini sedang membutuhkan bantuanku!" bentak Willy.
"Paman ikuti mereka!" perintah Willy.
"Baik Tuan." Sekretaris Rayan langsung mengikuti mobil yang membawa Callista dan tiba-tiba ponselnya berdering.
"Darwin," ucapnya. Willy langsung mengangkatnya.
"Tuan muda tolong Callista saat ini sedang di bawa oleh para pria-"
"Aku sudah tahu saat ini sedang mengikuti mereka," jawab Willy.
"Apa?"
"Kau gagal melindunginya datanglah ke jalan timur di sana kita bertemu." Willy langsung mematikan ponselnya.
"Tuan muda Nona sudah masuk ke dalam," ucap Rayan.
"Kita tunggu Darwin, Paman."
__ADS_1
"Tapi Tuan, Nona-"
"Paman dalam keadaan seperti ini aku dan Callista tidak cocok bertemu. Aku tidak mau Callista melihatku dalam keadaan seperti ini dan dia akan kembali pergi meninggalkanku lagi ...," lirih Willy.
"Tuan maafkan saya," ucap Rayan merasa gagal tidak becus melaksanakan tugasnya.
"Aku sudah tahu Paman semua tentang Callista ternyata selama ini dia telah dijual Ibu tirinya." Willy menceritakan semua tentang Callista sambil menunggu Darwin dan anak buahnya datang untuk menolong Callista dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana kenapa Callista dibawa mereka. Kini Willy sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi selama ini kenapa Callista telah meninggalkannya.
"Tuan berikan sekarang perintah kepada saya saat ini juga mereka semua akan saya sapu bersih yang berhubungan dengan Nona Callista," ucap Rayan dingin.
Willy tidak menjawab dan memilih memalingkan wajahnya ke samping karena memikirkan Callista apa nanti jawabannya jika mereka bertemu suatu saat dan keputusan apa yang akan diberikan Callista kepadanya.
Darwin dan anak buah Rayan telah tiba mereka semua telah sudah mengambil tugas untuk mengepung rumah yang terlihat cukup besar.
Darwin yang merasa gagal telah melindungi Callista seketika langsung menciut dihadapan Willy.
"Kau dan anak buahku masuk bawa Callista keluar jangan katakan aku yang menolongnya," ucap Willy.
"Kenapa Tuan?" tanya Darwin heran.
"Tidak perlu kau mengetahui jawabannya. Apa kau lupa Tuan Darwin ini adalah pribadi orang luar tidak boleh mengetahuinya," ucap Rayan.
Darwin merasa sedang terpojok akhirnya memilih diam dan masuk ke dalam untuk menolong Callista.
***
Hay Kak jangan lupa diberi🙏
\=>Vote
\=>Like
\=>Komen
\=> Share ke tiap Grup chat
Salam hangat dari author PERA🤗
__ADS_1