Cinta Para CEO Muda

Cinta Para CEO Muda
Tinggal kenangan


__ADS_3

William, Letizia, Willy menatap Leonore penuh seksama meminta penjelasan keseriusannya untuk mengikuti pelatihan ke luar negeri. Sebagai Kakak Willy tentu tidak bisa melepaskan adiknya di negeri orang lain sendirian.


"Kau yakin ingin keluar negeri?" tanya Willy datar.


"Iya Kak, Tiur dan Yuliana juga mengikuti pelatihan ke luar negeri masa Leonore tidak?"


"Kau masih kecil tidak cocok ke luar negeri lagian kalian cocoknya berada di sini saja," ucap Willy sedikit ketus.


"Aku sudah dewasa Kak" ucapnya sedikit nada tinggi.


"Kalian berdua stop hentikan kepala Mommy sakit," ucapnya sambil memijit pelipisnya.


"Mommy sakit?" tanya Leonore panik sambil menyentuh kening Letizia.


"Sudah tidak sakit lagi, kalian berdua dengar Leonore apa kau yakin mau mengikuti pelatihan ke luar negeri?" tanya Letizia.


"Iya Mommy," jawabnya cepat sambil menunduk.


"Kau Willy bagaimana?"


"Iya Mommy."


"Dan kalian bertiga akan meninggalkan Mommy sendirian di sini," ucapnya lirih.


Willy dan Leonore seketika memeluk Letizia begitu erat sekali sambil menggeser posisi William yang sudah terlihat kesal tingkah kedua anaknya namun seketika sudut bibirnya terlihat senyuman kecil.

__ADS_1


"Mommy kita bisa kapan saja bertemu lagian kalau Mommy dan kita kangen bisa datang memakai jet pribadi milik Daddy," ucap Leonore sambil melirik William yang memicingkan matanya.


"Iya Mommy betul apa yang dikatakan Leonore barusan. Daddy banyak uang kalau tiap hari Mommy berkunjung tidak akan masalah," tambah Willy sedikit tertawa.


"Dasar anak sama saja."


Mereka semua tertawa bersamaan di ruang tengah mewah tersebut sudah lama mereka tidak merasakan kehangatan semenjak kepergian Callista.


Willy merebahkan tubuh kekarnya dan memainkan ponsel miliknya selalu menghubungi kedua saudaranya Baron dan Rahadian.


"Ada apa?" ucap mereka berdua bersamaan karena Willy melakukan video call.


"Hei kalian kenapa menjawab seperti itu wajah dikondisikan!" protes Willy.


"Awas saja jika kita bersama!"


"Mau pukul aku tidak bisa karena aku sekarang berada di markas," ledek Baron.


"Abang sudah jangan berantem." Rahadian melarai lalu mereka bertiga bicara normal mengenai rencana bulan depan mengikuti pelatihan dan meninggalkan negara yang sudah membesarkan mereka.


"Rahadian, Tiur ikut ya pelatihan?" tanya Willy.


"Iya Bang,"


"Kalian tahu para gadis-gadis kita itu tidak mau kalah dengan kita tiga,"

__ADS_1


"Bakal merepotkan," ceplos Rahadian.


"Repot bagaimana?" tanya Baron polos.


"Menjaga mereka Baron," jawab Willy.


"Oh iya aku mana tahu kalian tahu bukan aku adalah anak tunggal," ucapnya datar. Mereka bertiga tertawa bersamaan lalu mengakhiri obrolan setelah mereka memutuskan tempat pelatihan mereka nantinya di internasional education fair Swiss.


Willy kembali merebahkan tubuhnya dan membayangi wajah alami Callista yang tidak bisa dia lupakan. Willy beranjak dari tempat tidur king size miliknya dan membuka laci nakasnya di sana semua begitu banyak foto kenangan tiga tahun yang lalu mereka lewati begitu indah. Willy meraih salah satu foto tersebut ketika mereka di puncak dan Baron tidak lupa mengabadikannya ketika mereka melakukan ciuman pertama kali di hari anniversary ketiga mereka.


"Semua benda ini hanya tinggal kenangan saja tidak ada artinya lagi di mana kau, Callista?" desah Willy memejamkan kedua matanya tanpa meminum obat langsung terlelap tidur.


***


Hay Kak jangan lupa diberi🙏


\=>Vote


\=>Like


\=>Komen


\=> Share ke tiap Grup chat


Salam hangat dari author PERA🤗

__ADS_1


__ADS_2