Cinta Pertama Mafia 1

Cinta Pertama Mafia 1
Suatu Saat Nanti


__ADS_3

"Maaf tuan saya kurang perhatikan, saya akan coba cek lagi." ucap asisten papanya.


Asisten itupun mengulang lagi menonton rekaman cctv dan benar saja rekaman cctv tersebut terpotong.


"Ternyata memang benar Tuan, ada yang sengaja memotongnya. Tapi siapa kira-kira yang melakukannya?" tanya asisten papanya pada dirinya sendiri sambil berpikir.


"Coba kamu selidiki kejadian ini!" perintah Alvonso dengan nada dingin.


"Baik tuan." ucap asisten papanya.


Asisten tersebut pergi meninggalkan Alvonso untuk menyelidikinya. Sedangkan Alvonso karena badannya merasa lengket membuatnya ingin mandi dan akhirnya Alvonso pulang ke mansion dan meminta seorang bodyguard untuk menjaga papanya.


xxxx


Malam harinya Alvonso keluar dari mansion dengan membawa dua orang bodyguard untuk pergi ke rumah sakit menengok papanya sedangkan mama Valen setelah tersadar dari pingsannya pulang ke mansion dengan di antar oleh salah satu bodyguard milik Alvonso.


Di dalam perjalanan tidak ada kendala sama sekali namun ketika mobil berada di jalan yang sepi mobil Alvonso dihadang oleh segerombolan berwajah sangar.


Alvonso dan dua orang bodyguard keluar dari mobilnya kemudian Alvonso menatap satu persatu gerombolan berwajah sangar tanpa ada rasa takut sama sekali.


"Siapa kalian? Kenapa menghalangi jalanku?" Tanya Alvonso dengan nada satu oktaf.


"Kamu tidak perlu tahu siapa Kami karena yang pasti kami semua akan membunuhmu." ucap salah satu pria berwajah sangar tersebut dengan nada mengancam sambil mengeluarkan senjata tajam.


"Mana bos kalian?" tanya Alvonso yang tidak takut dengan ancaman pria tersebut.


"Kamu tidak boleh tahu, serang mereka bertiga!" perintah salah satu pria tersebut sambil mengangkat senjata nya ke atas.


Segerombolan pria yang berwajah sangar tersebut berjumlah lima belas orang menyerang mereka bertiga. Alvonso yang memang hatinya lagi kesal membuatnya senang karena ada yang bisa dilampiaskan ke mereka.


Alvonso menghindar dan menyerang dengan telak begitupula dengan dua bodyguardnya. Alvonso memang sengaja memilih bodyguard yang bisa bela diri.


Setengah jam kemudian lima belas orang berwajah sangar tumbang. Alvonso mendekati salah satu dari mereka kemudian menginjak salah satu tubuh mereka.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Alvonso dengan nada dingin dan aura pembunuh.


"Baik, baik saya akan katakan." Jawab salah satu pria berwajah sangar tersebut sambil meringis menahan rasa sakit.


Alvonso menarik salah satu kakinya yang tadi menekan tubuh salah satu pria tersebut,l. Alvonso memberi kode ke salah satu bodyguardnya untuk menarik tangan pria tersebut agar berdiri.


"Kami di suruh oleh ..." Ucapan pria tersebut terputus ketika ada penembak jitu menembak kening pria tersebut.


Dor


"Akhhhhhhhh..!" Teriak pria tersebut.


Bruk


"Pria itu pun langsung ambruk seketika dan mati dengan mata melotot.


"Si*l." Umpat Alvonso.


"Siapa yang memerintah kalian untuk membunuhku, hah!!!" bentak Alvonso yang tidak memperdulikan jika pria itu mati di hadapannya.


"Baiklah kalau itu maumu." ucap Alvonso sambil tersenyum menyeringai sambil tangannya di masukkan ke dalam saku jasnya kemudian mengeluarkan pistolnya.


dor


dor


"Akhhhhhhhh...!" Teriak pria tersebut yang merupakan pemimpinnya.


Alvonso menembakkan ke dua kaki pemimpin tersebut. Alvonso masih mengarahkan senjata nya yang super mini yang di belinya dari negara A ke arah perut pria tersebut.


"Masih tidak mau mengaku?" tanya Alvonso dengan wajah sinis.


"Tidak." ucap Pemimpin tersebut yang mulai merasa takut.

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu maumu." ucap Alvonso


dor


"Akhhhhhhhh...!" Teriak pria tersebut.


Alvonso menembak perut pria tersebut hingga darah keluar dari perutnya begitu pula dengan ke dua kakinya.


"Bagaimana? masih tidak mau memberitahukan padaku?" tanya Alvonso.


"Baik, baiklah saya mendapat perintah membunuhmu dari..." ucapan pria tersebut terputus bersamaan bunyi suara letusan pistol.


dor


"Akhhhhhhhh...!" Teriak pria tersebut.


Seseorang menembak kening pria tersebut hingga tewas di tempat membuat Alvonso dan ke dua bodyguardnya langsung bersembunyi ketika salah satu penjahat nya ada yang di tembak oleh seseorang yang tidak di kenal.


Tidak berapa lama disusul suara tembakan hingga jerit kematian saling bersahutan dari para penjahat. Setelah para penjahat mati semua bersamaan suara tembakan terhenti dan penembaknya hilang seperti angin.


" Sial." ucap Alvonso kecewa karena kalah cepat.


Alvonso dan ke dua bodyguardnya tersebut keluar dari persembunyian dan melihat para penjahat sudah meninggal di tempat.


"Kita lanjutkan perjalanan ke rumah sakit." Ucap Alvonso sambil berjalan ke arah mobilnya.


"Baik Tuan." Jawab ke dua bodyguard tersebut bersamaan.


Merekapun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah sakit meninggalkan tempat tersebut. Sepeninggal Alvonso dan ke dua bodyguard muncul seorang pria untuk menghubungi seseorang.


"Suatu saat nanti Kamu akan mati." Ucap pria tersebut sambil tersenyum devil.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

__ADS_1


Sambil menunggu Up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :



__ADS_2