Cinta Pertama Mafia 1

Cinta Pertama Mafia 1
Draft


__ADS_3

"Punggungku masih terasa perih." Jawab Brigitha dengan nada lirih.


"Jangan banyak digerakkan karena punggungmu masih terluka karena terkena luka tembak." Ucap Alvonso sambil membaringkan tubuh Brigitha ke arah ranjang dengan perlahan seperti meletakkan porselen.


"Tapi aku ingin pulang karena nanti Aku di cari oleh Mommy dan Daddy ku." ucap Brigitha sambil menatap ke arah jam dinding di kamar Alvonso.


"Dasar anak mommy." Ucap Alvonso dengan nada meledek.


"Biarin wee." balas Brigitha sambil menjulurkan lidahnya.


"Kamu ini." ucap Alvonso sambil mengacak rambut Brigitha dan tersenyum.


"Berantakan tahu." Ucap Brigitha sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


Alvonso hanya tersenyum sambil menatap wajah cantik Brigitha. Brigitha pun membalas senyuman Alvonso kemudian mereka terdiam beberapa saat.


"Oh ya, aku lupa ini obat dari dokter." ucap Alvonso sambil menyerahkan bungkusan plastik yang berisi obat tablet.


"Dokter." Tanya ulang Brigitha.


"Iya tadi kamu pingsan karena terkena luka tembak karena itulah aku memanggil dokter. Katanya ini buat penghilang nyeri di punggung dan ini obat oles di punggung. Apa mau aku bantu oles?" Tanya Alvonso.


"Tidak, terima kasih." ucap Brigitha menolak tawaran Alvonso dengan suara halus.


'Yang ada merebetnya kemana-mana.' Sambung Brigitha dalam hati.


'Padahal dengan senang hati mengolesi salep ke punggung Brigitha sekalian menyentuh tubuhnya.' Ucap Alvonso dalam hati.


Alvonso mengangkat perlahan tubuh Brigitha kemudian mengambil gelas yang berisi mineral. Brigitha pun meminum obat tersebut kemudian Brigitha kembali berbaring dengan di bantu oleh Alvonso.


"Kak Alvonso tidak di cari oleh Mama dan Papa?" tanya Brigitha mengalihkan pembicaraan karena sejak tadi mereka terdiam.


Alvonso yang awalnya tersenyum mendadak senyumamnya langsung hilang entah kemana dan terdiam ketika di tanya seperti itu terlebih wajahnya langsung berubah menjadi sendu. Hal itu tentu saja membuat Brigitha sangat terkejut melihat perubahan wajah Alvonso secara tiba-tiba.


"Maafkan aku, sungguh aku tidak ada maksud membuat Kak Alvonso sedih." ucap Brigitha merasa bersalah karena melihat wajah sedih Alvonso.


"Kamu tidak salah, mamaku sudah meninggal beberapa hari yang lalu kemudian papaku menikah lagi tapi beberapa hari kemudian papaku juga meninggal." ucap Alvonso sambil tersenyum namun terlihat jelas di matanya wajah kesedihan.

__ADS_1


Grep


"Aku ikut turut berduka cita semoga mama dan papamu tenang di alam sana." ucap Brigitha tulus sambil menggenggam tangan Alvonso.


"Aku baru ingat, ketika Kamu menanyakan tentang Papaku membuatku teringat akan sesuatu." Ucap Alvonso.


"Ingat apa Kak?" Tanya Brigitha penasaran.


"Aku merasa janggal dengan rekaman cctv mansion." jawab Alvonso.


"Janggal kenapa?" tanya Brigitha sambil masih menatap ke arah Alvonso.


"Janggal di jamnya karena jamnya langsung loncat sepertinya ada yang sengaja memotong rekaman atau sejenisnya di cctv mansion milik Papaku." Jawab Alvonso.


"Kenapa tidak memanggil ahli it?" tanya Brigitha.


"Aku sudah meminta tolong asisten almarhum papaku tapi sampai sekarang tidak ada kabarnya." Jawab Alvonso.


"Mau aku bantu?" Tanya Brigitha menawarkan bantuan.


"Memang kamu bisa?" Tanya Alvonso tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Brigitha.


"Ada di ruang kerja." Jawab Alvonso.


"Tolong di ambilkan dan semoga saja di apartemen milik Kak Alvonso ada jaringan internet." ucap Brigitha.


"Oh tenang saja di sini jaringan internetnya sangat kencang." ucap Alvonso sambil turun dari ranjang.


"Kalau begitu aku akan ambilkan laptopnya." Sambung Alvonso.


Alvonso pun keluar dari kamarnya untuk mengambil laptop miliknya di ruang kerjanya.


Kini Alvonso dan Brigitha duduk berdampingan memandangi laptop. Brigitha membuka laptopnya kemudian menyalakan laptopnya.


"Sebelumnya aku bertanya dulu ceritakan dari awal dari papa Kak Alvonso sakit sampai meninggal." pinta Brigitha.


Alvonso pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi sedangkan Brigitha mendengarkannya dengan serius.

__ADS_1


"Itulah yang terjadi." Ucap Alvonso mengakhiri ceritanya.


"Masih ingat dengan tanggal kejadiannya ketika Papanya Kak Alvonso sakit jantung?" tanya Brigitha sambil mengotak atik laptopnya.


"Tanggal dua puluh lima Februari tahun 20** ." jawab Alvonso.


"Alamat mansion milik orang tua Kak Alvonso?" tanya Brigitha sambil mengetik tanggal kejadian.


"Mansion Da Costa No 1." Jawab Alvonso.


Brigitha mulai mengutak atik laptopnya untuk meretas rekaman cctv milik orang tua Alvonso setelah berhasil Mereka berdua menonton rekaman cctv tersebut.


"Kok kamu bisa meretas rekaman cctv mansion milik orang tuaku?" tanya Alvonso dengan wajah terkejut.


" Ya bisalah." ucap Brigitha sambil tersenyum.


Alvonso terdiam kemudian Mereka menonton rekaman cctv tersebut sampai pertengahan rekaman cctv, Alvonso menunjukkan ada jam yang terloncat.


"Lihat itu sebentar lagi jamnya ada yang kelewat." ucap Alvonso sambil menunjuk ke arah layar laptopnya.


Brigitha dengan serius menatapnya rekaman cctv sampai pada rekaman yang menunjukkan jam berubah. Brigitha langsung menghentikan rekaman cctv itu.


"Iya benar ada orang yang sengaja memotong atau sengaja menghapusnya." ucap Brigitha.


"Karena itu aku meminta batuan asisten almarhum Papaku tapi belum ada kabarnya lagi." ucap Alvonso dengan wajah sendu.


"Sebentar, Aku akan berusaha untuk memperbaikinya dan semoga saja Aku bisa memperbaiki rekaman cctv yang terpotong itu." ucap Brigitha sambil mengotak atik laptopnya dengan serius.


Brigitha sibuk mengutak atik laptopnya dan tanpa sepengetahuan Brigitha kalau Alvonso menatap wajah cantik Brigitha hingga tatapannya beralih ke bibir Brigitha.


Ingin rasanya mencium bibir Brigitha kembali tapi Alvonso berusaha menahan dirinya untuk tidak melakukannya karena Alvonso tidak ingin membuat orang yang di cintainya menangis lagi.


Alvonso menatap ke arah lain menghilangkan pikiran mesumnya dan menenangkan adik kecilnya yang meronta ingin segera dikeluarkan.


Setelah adik kecilnya sudah mulai tidur kembali barulah Alvonso menatap wajah cantik Brigitha kembali dan mengkhayal jika Brigitha kelak menjadi pasangannya. Hingga tiba-tiba terdengar suara...


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

__ADS_1


Sambil menunggu Up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :



__ADS_2