
"Terima kasih atas pujiannya." Ucap Brigitha sambil tersenyum mendengar pujian Alvonso.
Alvonso tersenyum melihat Brigitha tersenyum kemudian mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Alvonso, maaf mau nanya data perusahaanmu sudah amankah?" tanya Brigitha setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Pasti sangat aman karena aku belum mendapat laporan dari anak buahku. Memangnya kenapa?" tanya Alvonso balik bertanya sekaligus penasaran.
"Sangat Yakin?" tanya Brigitha memastikan.
"Yakinlah." Jawab Alvonso dengan nada yakin.
"Coba Aku cek." ucap Brigitha.
Brigitha pun mengutak atik laptopnya setelah selesai Brigitha mulai menghitung.
" 1 ... 2 .... 3 ... 4 .... 5 .... 6 .... 7 .... 8 ... 9 ... 10...." Ucapan Brigitha terpotong ketika terdengar bunyi ponsel milik Alvonso.
Alvonso mengambil ponselnya yang ada di meja kemudian melihat tampak di layar panggilan dari kantor membuat Alvonso menatap ke arah Brigitha.
"Angkat di sini dan tekan loud speakernya." pinta Brigitha yang mengerti tatapan Alvonso.
Alvonso pun menggeser tombol berwarna hijau kemudian menekan tombol loud speakernya mengikuti perintah Brigitha.
("Hallo." panggil Alvonso).
("Maaf Tuan, gawat ada yang menyabotase data perusahaan kita." ucap penanggung jawab IT di perusahaan milik Alvonso).
("Bagaimana bisa?" tanya Alvonso sambil memandangi Brigitha sedangkan yang di pandang hanya tersenyum menyeringai).
("Maaf Tuan, Saya juga tidak tahu dan sekarang ini kami lagi berusaha untuk memberikan pengamanan." ucap penanggung jawab IT).
("Baik, laksanakan jangan sampai data perusahaan bocor." ucap Alvonso dengan tegas).
("Baik tuan." Jawab penanggung jawab IT).
tut tut tut tut
Alvonso memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak kemudian menatap ke arah Brigitha.
"Bagaimana Kak Alvonso? Katanya yakin?" Tanya Brigitha sambil tersenyum.
"Bagaimana bisa?" tanya Alvonso dengan wajah bingung.
"Ya bisalah." jawab Brigitha dengan nada santai.
"Baiklah, sekarang balikkan data perusahaan ke semula agar penanggung jawab IT tidak pusing." pinta Alvonso.
"Ok." jawab Brigitha singkat.
Brigithapun mengembalikan seperti semula setelah selesai Brigitha menghitung kembali.
" 1 ... 2 .... 3 ... 4 .... 5 .... 6 .... 7 .... 8 ... 9 ... 10...." Ucapan Brigitha terpotong ketika terdengar bunyi ponsel milik Alvonso.
Ponsel Alvonso berbunyi kembali dan Alvonso menggeser ke tombol warna hijau kemudian menekan tombol loud speaker.
("Tuan, mendadak semua data sudah kembali seperti semula." jawab penanggung jawab IT).
__ADS_1
("Ok." jawab Alvonso singkat tanpa perlu bertanya karena Alvonso tahu siapa pelakunya).
tut tut tut
"Bagaimana?" tanya Brigitha sambil tersenyum.
"Kamu ya, jadi orang pintar banget." Puji Alvonso sambil mengacak - ngacak rambut Brigitha.
"Aish berantakan tahu." ucap Brigitha sambil merapikan rambutnya.
"Mau aku buat supaya datamu aman?" tanya Brigitha.
"Boleh, kalau memang bisa." ucap Alvonso yang sangat percaya kalau Brigitha tidak akan menyakiti dirinya ataupun merugikan perusahaannya).
"Kak Alvonso meragukanku?" tanya Brigitha sambil menggembungkan ke dua pipinya mirip ikan buntal.
"Pffttttttt..." Tawa Alvonso yang melihat betapa menggemasnya Brigitha.
"Tertawa lagi." Ucap Brigitha sambil memajukan bibirnya.
"Habis Kamu lucu." Jawab Alvonso.
"Memangnya Aku badut." Ucap Brigitha sambil memalingkan wajahnya ke arah samping.
" Tidak, ayolah jangan cemberut kalau masih cemberut nanti aku cium lagi." Ucap Alvonso
"Aish enak aja, tidak boleh cium." ucap Brigitha sambil menutup mulutnya dengan ke dua mulutnya.
"Kan cium doank." ucap Alvonso sambil menaik turunkan alus matanya.
"Iya cium doank tapi ujung - ujungnya merebet kemana - mana." ucap Brigitha.
"Mau aku tolongin supaya data Kak Alvonso aman atau aku pulang?" Tanya Brigitha tanpa membalas ucapan Alvonso dengan nada mengancam.
"Tolongin supaya data perusahaanku aman." jawab Alvonso.
Selama ini apapun yang diinginkan Alvonso selalu didapatkan tapi kini untuk mendapatkan Brigitha membuat Alvonso berusaha menuruti permintaan Brigitha.
Selain itu Alvonso bukan tipe orang yang tunduk ataupun menuruti permintaan orang lain tapi kini demi Brigitha dirinya membuang jauh egonya.
"Ok." ucap Brigitha singkat.
Brigitha mulai menguatik laptopnya kembali setelah hampir setengah jam barulah Brigitha menghentikan kegiatannya.
"Nomer ponsel Kak Alvonso?" tanya Brigitha.
"Mau tukeran nomer ponsel ya? Kebenaran hampir lupa menanyakan nomer ponselmu." ucap Alvonso.
"Kak Alvonso aku serius jangan bercanda terus." ucap Brigitha dengan nada kesal sambil matanya mendelik.
"Nomer ponselku 08xx 9999 9999." ucap Alvonso.
'Baru kali ini Aku tidak berkutik di depan Brigitha.' Ucap Alvonso dalam hati.
Brigitha pun memasukkan nomer ponsel ke laptopnya, setelah selesai memasukkan nomer ponsel Brigitha mengutak atik ponsel miliknya.
Hingga tidak berapa lama tiba-tiba terdengar suara ponsel yang sangat nyaring di ponsel milik Alvonso membuat Alvonso sangat terkejut.
__ADS_1
"Itu tandanya ada orang yang membobol data perusahaan Kak Alvonso makanya ponsel milik Kak Alvonso berbunyi nyaring jadi tidak perlu menunggu kabar dari karyawan Kak Alvonso." Ucap Brigitha yang mengerti wajah bingung Alvonso.
Tidak berapa lama penanggung jawab IT menghubungi Alvonso dan melaporkan ada yang menyobatase perusahaan.
"Lalu apa yang mesti kulakukan?" tanya Alvonso setelah menerima laporan dari anak buahnya.
"Kak Alvonso cukup menekan tanda ini, tapi untuk saat ini jangan di tekan ya cukup lihat saja" ucap Brigitha.
"Lho kenapa?" tanya Alvonso dengan wajah bingung.
"Kalau Kak Alvonso tekan yang ada data di ponselku akan hilang semua dan ponselku tidak bisa digunakan." ucap Brigitha.
"Kecuali jika suatu saat nanti berbunyi barulah Kak Alvonso boleh menekannya karena bisa dipastikan itu bukan ulahku. Maka data orang tersebut langsung hilang dan tidak bisa digunakan." Sambung Brigitha menjelaskan.
"Oh begitu, kalau menghentikan suaranya?" tanya Alvonso dengan wajah serius.
"Tekan tombol ini kemudian suara ponsel milik Kak Alvonso langsung berhenti berbunyi dan data kembali seperti semula." terang Brigitha.
Alvonso menekan tombol yang dikatakan oleh Brigitha dan benar saja ponselnya berhenti berdering. Kemudian tak berapa lama ponsel milik Alvonso berdering dan penanggung jawab IT memberikan laporan kalau data perusahaan miliknya kembali normal.
"Berarti kamu bisa membobol data perusahaan?" tanya Alvonso penasaran.
"Tentu saja bisa tapi aku tidak mau melakukannya kecuali perusahaan itu berbuat curang atau kejahatan." ucap Brigitha dengan jujur.
"Baguslah kalau begitu, belajar darimana?" tanya Alvonso penasaran.
"Dari mommyku." Jawab Brigitha.
"Mommymu orang pintar ya, beruntungnya kamu memiliki mommy." ucap Alvonso.
"Terima kasih, aku pulang ya? aku sudah janji sama mommyku pulang cepat." ucap Brigitha.
"Maukah kamu mengajariku tentang it?" tanya Alvonso penuh harap.
"Kapan - kapan kalau ketemu lagi aku beritahukan." jawab Brigitha.
"Aku antar ya?" pinta Alvonso
" Oh ya mobilku? aku lupa dengan mobilku." tanya Brigitha.
"Mobilmu ada di parkiran apartemen, aku antar ya? nanti aku pulangnya biar di jemput sama bodyguardku." Ucap Alvonso penuh harap.
"Kapan - kapan aja." ucap Brigitha sambil berdiri.
"Baiklah aku antar sampai di garasi." Ucap Alvonso.
Alvonso pun ikut berdiri dan menemani Brigitha ke parkiran apartemennya.
Sampai di parkiran mobil Brigitha membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya ke arah Alvonso, Alvonso pun membalas lambaian tangan Brigitha.
"Aku sangat mencintaimu Brigitha, aku janji akan setia padamu." ucap Alvonso dengan tulus.
Alvonso menghubungi seseorang setelah selesai Alvonso memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak.
"Siap - siap saja buat kalian berdua karena sebentar lagi ajal kalian sudah dekat." ucap Alvonso tersenyum devil.
Mendadak wajah Alvonso yang awalnya teduh dan penuh cinta terhadap Brigitha kini berubah menjadi wajah yang haus ingin membunuh seseorang. Alvonso berjalan ke arah mobil nya kemudian mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke markasnya sambil menghubungi seseorang setelah selesai Alvonso memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak.
__ADS_1
"Kalian akan mendapatkan hukuman berkali-kali lipat karena telah membuat Papaku meninggal." Ucap Alvonso sambil menggenggam setia kemudi dengan erat menyalurkan kemarahanya.