Cinta Pertama Mafia 1

Cinta Pertama Mafia 1
Tamat


__ADS_3

"Ya, aku masih ingat perlakuan ibunya Brigitha tatapan yang teduh, senyum yang menenangkan, bahagianya aku jika dia menjadi ibuku." ucap Alvonso.


"Bukannya sebentar lagi Ibunya Kak Brigitha akan menjadi Ibumu juga?" Tanya Michael.


"Memang betul dan Aku sangat berharap sikapnya tidak berubah menyayangiku sebagai putra kandungnya." Jawab Alvonso penuh harap namun wajahnya masih terlihat sangat sedih.


"Amin. Oh ya sepertinya enak dan lihat ibunya kak Brigitha bawanya banyak banget cukup buat kita makan berdua." ucap Michael mencoba mengalihkan pembicaraan agar Alvonso tidak sedih.


" Ayo kita makan." ajak Alvonso namun tanpa sengaja Alvonso melihat selembar kertas di tutup rantang.


Alvonso mengambil kertas tersebut kemudian membacanya.


"Ajak adik sepupu mu Michael untuk makan bersama. Masakan ini yang buat Brigitha kata Brigitha spesial buat Alvonso sedangkan yang lainnya masakan buatan Mommy."


"Kenapa Ibunya Brigitha bisa kenal denganmu?" Tanya Alvonso dengan wajah terkejut.


"Entahlah." Jawab Michael yang juga wajahnya terkejut.


"Pantas saja Ayahnya Brigitha bilang : Ingat kami akan tahu apa yang akan dilakukan anak - anak tante dan om." Ucap Alvonso mengulangi perkataan Daddy Alvaro.


"Berarti apapun yang Kakak lakukan ke dua orang tua Kak Brigitha tahu semuanya. Jadi mulai sekarang dan seterusnya Kakak berhati-hati jangan mengecewakan Kak Brigitha." Ucap Michael.


"Akan Kakak ingat perkataanmu." Ucap Alvonso.


"Ibunya Kak Brigitha benar-benar sangat baik dan Aku harap bisa mempunyai Ibu mertua seperti Ibunya Brigitha." Ucap Michael.


"Asal Kamu jangan merebut calon istriku." Ucap Alvonso.


"Tenang saja Kak." Ucap Michael yang tidak mungkin merebut Brigitha.


Mereka berdua mengambil piring yang sudah disiapkan oleh Alvonso dan mereka mulai memakannya dengan lahap tanpa terasa makanannya sudah pindah ke perut mereka.


"Sumpah masakannya benar - benar enak, ini benar masakan ibunya Kak Brigitha?" tanya Michael tidak percaya.


"Ya tapi dibantu oleh Brigitha dan adik kembar nya yang bernama Briana." ucap Alvonso


Michael hanya menganggukkan kepalanya kemudian Mereka kembali mengobrol dengan santai hingga dua jam kemudian Mereka istirahat karena sudah malam.


Pernikahan Brigitha Dengan Alvonso


Tidak terasa waktu berlalu dengan cepatnya dan tidak terasa pula hari ini merupakan hari bahagia buat Brigitha dan Alvonso karena Mereka berdua mengikralkan janji suci pernikahan.


Banyak tamu undangan datang silih berganti hingga tiga jam kemudian Brigitha sudah mulai lelah.


"Lelah?" Tanya Alvonso.


"Lumayan Kak." Jawab Brigitha.


"Sepertinya Brigitha lelah, lebih baik Kalian berdua istirahat dulu." Ucap Mommy Felicia.


"Tapi tamu undangan masih banyak Mom, tidak enak kalau Kami istirahat." Ucap Brigitha tidak enak hati.


"Santai saja biar ini jadi urusan Mommy dan Daddy." Ucap Mommy Felicia.


"Apa yang dikatakan Mommy benar, lebih baik Kalian istirahatlah." sambung Daddy Alvaro.


"Baik Mom, Dad." Ucap Brigitha.


Brigitha dan Alvonso berjalan meninggalkan panggung menuju ke arah lift hingga di depan lift, Brigitha ingat akan sesuatu.


"Kak Alvonso, ponselku ketinggalan di sofa tempat Aku duduk. Tolong ambilkan ya." Pinta Brigitha.


"Ok, Kamu tunggu di sini nanti Aku akan kembali." Ucap Alvonso.


Brigitha hanya menganggukkan kepalanya kemudian Alvonso pergi meninggalkan Brigitha sendirian di lift. Namun belum ada satu menit setelah Alvonso pergi dua orang datang dan salah satu pria tersebut membawa pemukul bisbol dari arah belakang Brigitha.


Bugh

__ADS_1


"Akhhhhhhhh..." Teriak Brigitha


Bruk


Pria tersebut memukul kepala Brigitha membuat Brigitha berteriak kesakitan dan tidak berapa lama Brigitha langsung tidak sadarkan diri.


"Cepat Kita bawa wanita itu!" perintah pria yang tidak mmembawa pemukul bisbol.


"Baik." Jawab pria tersebut sambil menggendong Brigitha seperti menggendong karung beras.


Ke dua pria tersebut berjalan ke arah tangga namun sebelum ke dua kaki Mereka menuruni anak tangga tiba-tiba terdengar suara seperti suara petir dan menggema.


"SIAPA KALIAN? APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA ISTRIKU? HAH!" Teriak Seseorang dengan suara menggelegar siapa lagi kalau bukan Alvonso.


Ketika Alvonso kembali sambil membawa ponsel milik Brigitha tanpa sengaja Alvonso melihat seorang pria memanggul seorang wanita yang menggunakan gaun pengantin.


Mata Alvonso membulat sempurna karena Alvonso sangat yakin kalau wanita yang di panggul pasti istrinya membuat Alvonso berteriak dengan suara menggelegar.


Suara teriakan Alvonso terdengar di telinga Daddy Alvaro dan Mommy Felicia yang kebetulan Mommy Felicia ingin pergi ke toilet dan Daddy Alvaro menemaninya.


Mommy Felicia dan Daddy Alvaro langsung berlari ke sumber suara. Hal itu tentu saja di lihat ke tujuh anak kembarnya dan ke dua sahabat Daddy Alvaro dan Mommy Felicia. Mereka langsung berlari mengikuti Momy Felicia dan Daddy Alvaro termasuk para tamu undangan.


Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan di mana Alvonso berjalan dengan langkah cepat menyusul ke dua pria tersebut sambil tangannya dimasukkan ke dalam saku jas nya untuk mengeluarkan pistolnya.


"SIAPA YANG MENYURUH KALIAN!" Teriak Alvonso dengan suara masih menggelegar.


Ke dua pria tersebut menghentikan langkahnya kemudian saling menatap. Salah satu pria yang memanggul Brigitha terpaksa menurunkan Brigitga untuk menyerang Alvonso.


"Aku tahu pasti Tuan ingin menembak Kami tapi sayang pistolnya tidak ada." Ucap salah satu pria tersebut.


Alvonso langsung terdiam sambil tangannya masih masuk ke dalam jas dan memang benar pistolnya tidak ada membuat Alvonso baru ingat waktu Mereka akan menikah Alvonso menyimpan pistolnya di adik sepupunya yang bernama Michael.


"Jangan banyak bicara lebih baik Kita bunuh pria ini." ucap pria yang tadi memanggul Brigitha.


Ke dua pria tersebut mulai menyerang Alvonso dengan menggunakan tongkat bisbol. Alvonso berusaha menghindar dan sesekali membalas dengan cara memukul dan menendang.


"Siapa Kalian?" Tanya Daddy Alvaro sambil berjalan ke arah pria tersebut.


Mommy Felicia yang melihat putrinya berbaring di lantai langsung berjalan ke arah Brigitha. Bersamaan kedatangan ke dua sahabat Mommy Felicia, Daddy Alvaro, Bruno, Brian, Benediktus, Briana dan Michael.


"Sekali lagi bergerak maka peluru ini akan tembus ke otak Kalian." Ucap Michael sambil mengarahkan pistolnya ke arah dua pria tersebut.


Dua pria tersebut yang melihat banyak orang terpaksa melarikan diri namun gerakan Mereka berdua terbaca hingga terdengar suara dua letusan pistol dari Michael dan Bruno.


"Akhhhhhhhh..." teriak ke dua pria tersebut.


Bruk


Bruk


Ke dua pria itupun ambruk seketika ketika peluru itu menembus ke dua kaki Mereka sedangkan Brian dan Benekditus menggendong Brigitha yang masih tidak sadarkan diri untuk di bawa ke kamar pengantin Brigitha dengan Alvonso.


Kini Alvonso duduk di sisi ranjang di mana dokter Fransiska memeriksa keadaan Brigitha dengan di temani Mommy Felicia. Setelah beberapa saat Brigitha perlahan membuka matanya kemudian menatap satu persatu orang yang sedang menatap dirinya.


"Apakah ada yang sakit?" Tanya Alvonso dengan wajah kuatir begitu pula dengan Mommy Felicia dan dokter Fransiska.


"Kepalaku masih pusing, apa yang terjadi?" Tanya Brigitha sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


"Ada dua pria yang membawamu pergi dan untunglah Alvonso melihatnya." Jawab Mommy Felicia.


"Mommy Aku sudah ingat semuanya." Ucap Brigitha.


"Maksudnya?" Tanya Mommy Felicia dengan wajah bingung begitu pula dengan dokter Fransiska dan Alvonso.


"Aku ingat tentang kecelakaan waktu Aku tertimpa lampu gan ...." Jawab Brigitha menggantungkan kalimatnya dengan mata berkaca-kaca.


"Sstttttt... Sudah jangan di ingat, sekarang istirahatlah." Ucap Mommy Felicia dengan nada lembut.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan Mommy mu benar lebih baik Kamu istirahat." Ucap dokter Fransiska.


"Baik Mom." Jawab Brigitha patuh.


Mommy Felicia dan dokter Fransiska pergi meninggalkan kamar pengantin di mana Alvonso dan Brigitha berada di dalam kamar tersebut.


"Mau kemana?" Tanya Alvonso yang melihat Brigitha bangun.


"Badanku sangat lengket, mau mandi dulu Kak." Jawab Brigitha.


"Kakak siapkan air hangat dulu." Ucap Alvonso sambil turun dari ranjang.


Brigitha hanya menganggukkan kepalanya kemudian Alvonso berjalan ke arah kamar mandi untuk menyiapkan air hangat sedangkan Brigitha menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Aku tidak menyangka di saat Kami sudah menikah di saat yang sama ingatanku kembali. Selain itu Aku juga bersyukur karena Kak Alvonso adalah jodohku." Ucap Brigitha sambil tersenyum bahagia.


Tidak berapa lama Alvonso keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah ranjang di mana Brigitha masih berbaring di ranjang.


"Mau Aku mandikan atau mandi sendiri?" Tanya Alvonso dengan suara menggoda.


"Mandi sendiri." Jawab Brigitha sambil turun dari ranjang dengan wajah memerah menahan malu.


Brigitha berjalan dengan tubuh agak oleng membuat Alvonso menggendong tubuh Brigitha agar tidak terjatuh.


"Apa yang Kak Alvonso lakukan?" Tanya Brigitha dengan wajah panik sambil mengalungkan ke dua tangannya ke leher Alvonso.


"Jalanmu masih oleng karena itulah Kakak menggendongmu." Jawab Alvonso.


Merekapun mandi bersama, Alvonso berusaha melawan untuk tidak menerkam istrinya karena dirinya tahu kalau Brigitha masih sakit akibat kepalanya di pukul oleh salah satu penjahat hingga membuat Brigitha tidak sadarkan diri.


Hingga dua puluh dua menit kemudian Alvonso keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah handuk begitu pula dengan Brigitha.


"Apakah kepalanya masih pusing?" Tanya Alvonso sambil meletakkan perlahan tubuh Brigitha ke ranjang.


"Sudah mendingan." Jawab Brigitha.


Ke dua tangan Brigitha yang berada di leher Alvonso sengaja menariknya agar Alvonso berada di atas tubuhnya membuat Alvonso yang belum ada persiapan menimpa tubuh Brigitha.


"Apa yang sayangku lakukan?" Tanya Alvonso sambil tangan kanannya menahan tubuhnya agar tidak menimpa tubuh Brigitha.


"Bukankah ini malam pertama Kita?" Tanya Brigitha sambil tersenyum malu.


Deg


Jantung Alvonso berdetak kencang mendengar ucapan istrinya membuat Alvonso menatap wajah cantik Brigitha yang bertemu merah.


"Kalau Kak Alvonso tidak mau, ya sudah Aku tidur saja." ucap Brigitha sambil melepaskan ke dua tangannya yang sejak tadi dikeluarkan ke leher suaminya.


Tanpa menjawab Alvonso mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya sedangkan Brigitha yang tahu akan di cium langsung memejamkan matanya.


Alvonso hanya tersenyum kemudian mencium bibir Brigitha secara singkat hingga Alvonso kembali menciumnya namun ciumannya berubah menjadi lu x mat x tan.


Tangan kanan Alvonso menarik tali jubah handuk hingga terlihat tubuh polos Brigitha. Alvonso menelan salivanya dengan kasar melihat kemolekan tubuh istrinya.


Mereka pun melakukan hubungan suami istri, awalnya Brigitha meringis kesakitan namun lama-lama Brigitha menikmati sentuhan suaminya hingga setengah jam kemudian keluarlah lahar dari tombak sakti milik Alvonso dan sengaja dimasukkan ke dalam rahim Brigitha.


"Semoga Kita secepatnya karuniai anak." Ucap Alvonso sambil menarik tombak saktinya kemudian menggulingkan tubuhnya ke arah samping.


"Amin." jawab Brigitha sambil memeluk tubuh polos suaminya.


Alvonso tersenyum kemudian membalas pelukan istrinya dan Merekapun tidur dengan pulas namun sebelumnya Alvonso menyelimuti tubuh polos Mereka.


Mereka hidup bahagia dan sifat Alvonso mulai berubah di tambah Alvonso semakin mencintai istrinya. Terlebih Alvonso sangat bahagia karena keluarga Brigitha memperlakukan Alvonso sangat baik. Penuh kasih sayang dan perhatian membuat Alvonso berjanji untuk selalu melindungi istri dan keluarga istrinya walau nyawa menjadi taruhannya.


Musuh Daddy Alvaro dan Alvonso saat ini sudah tidak ada lagi karena semua sudah mati di makan peliharaan Daddy Alvaro.


Tamat

__ADS_1


__ADS_2